Melestarikan Pemikiran Masa Lalu

Melestarikan Pemikiran Masa Lalu

Nikko Suko, Dwiyanto Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Istimewa

JOGJAPada September 2023 World Heritage Committee The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) telah menetapkan Sumbu Filosofi yang merupakan garis sejarah, yang memiliki makna mengenai kehidupan manusia yang berawal dari kelahiran hingga menuju pada kembalinya manusia kepada Sang Khalik atau Pembuat Hidup.

Penetapan Sumbu Filosofi ini merupakan salah satu pelestarian dari pemikiran masa lalu yang dituangkan dalam bentuk fisik bangunan yang hingga hari ini dapat dilestarikan dan juga dimanfaatkan oleh masyarakat.

Pada awal pendirian Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang pada awalnya merupakan wilayah hutan , Sultan Hamengku Buwono I tidak semata-mata memilih lokasi pendirian Kraton tanpa pemikiran atau konsep tertentu namun melalui pemikiran yang detail, baik dari segi keamanan juga dari segi alam atau lingkungannya.

Kita tahu bahwa keberadaan Kraton didirikan berada di tengah-tengah antara Gunung Merapi di Utara dengan Laut Selatan, hubungan atau garis dari utara ke selatan yang melalui Merapi–Kraton, dan Laut selatan merupakan Sumbu Mitologis.

Di mana pada masa lalu masyarakat masih kental atau menganggap gejala-gejala alam yang terjadi merupakan pesan dari Yang Kuasa agar masyarakat berefleksi sehingga bencana alam, tidak akan terjadi khususnya di Yogyakarta ini tentang aktivitas dari Gunung Merapi.

Keberadaan Kraton yang segaris lurus dengan Merapi dan Laut selatan memberi gambaran mengenai penguasa Merapi dan Laut Selatan segaris dengan Kraton, sehingga secara mitologis ada komunikasi, dalam upaya menghindari bencana yang tentu saja untuk memberi kesejahteraan masyarakat di kawasan atau lingkungan Kraton yang menjadi pendukung dari pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Keberadaan lokasi Kraton Ngayogyakarta yang berada di antara dua sungai besar yaitu Sungai Winingo di sebelah Barat dan Sungai Code di sebelah Timur, keberadaan sungai besar tersebut juga menjadi salah satu dasar pemilihan lokasi pendirian Kraton.

Hal tersebut menjadi salah satu strategi keamanan di mana keberadaan sungai yang masa lalu belum banyak atau bahkan belum ada jembatan yang besar dan kokoh, menjadikan sungai sebagai penghalau atau penghambat musuh yang akan menyerang ke kraton Yogyakarta selain pembangunan Benteng Baluwarti yang mengelilingi Kraton.

Konsep-konsep yang menjadi alasan pemilihan dan pendirian Kraton Ngayogyakarta tentu saja masih banyak lagi namun beberapa di antaranya seperti keberadaan sungai dan Sumbu Mitologi Merapi dan Laut Selatan menjadikan konsep pemikiran yang sangat besar di masa lalu, di mana seorang Sultan dalam memilih lokasi serta dalam kaitannya mengamankan warganya, benar-benar dipikirkan baik secara teknis juga mistis karena masyarakat masa lalu masih sangat kental dengan hal tersebut.

Tinggalan-tinggalan serta informasi pendirian Kraton tersebut dapat dibuktikan secara arkeologis hingga saat ini.

Konsep pembangunan Kraton pada masa lalu yang secara arkeologis dapat dijumpai datanya dan konsep sumbu filosofi yang saat ini atau baru-baru ini telah ditetapkan oleh UNESCO, merupakan proses atau bentuk pelestarian tinggalan budaya masa lalu yang dilestarikan saat ini.

Secara arkeologi saya sangat mendukung dan bangga karena konsep pelestarian yang dilakukan di Yogyakarta tersebut menjadi salah satu contoh dalam pelestarian kota tua atau kota kuno yang ada di Indonesia yang masih menyimpan mitologis di mana masih ada masyarakat pendukungnya.

Jadi konsep pemikiran pembangunan Kraton oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat dapat terkonservasi atau dilestarikan dengan salah satunya yaitu penetapan Sumbu Filosofi, semoga konsep konsep kuno yang ada di Nusantara dapat dilestarikan seperti di Yogyakarta dengan harapan masyarakat mendatang dapat memahami dan mengetahui konsep tersebut. (***)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online