Rektor Unsoed dan Jejak Rp1,12 Miliar di PMB Jalur Mandiri
KPK mengungkap jejak Rp1,12 miliar dalam PMB jalur mandiri Unsoed dan dugaan akses approval calon mahasiswa oleh rektor.
Kepala Pusat Studi Penyakit Tropis dan Infeksi UKDW, dr. Haryo Dimasto Kristiyanto, S.S., M.Sc (Staf Dosen Fakultas Kedokteran UKDW)
Sembuh, dalam pemahaman umum berarti kembali seperti semula, penyakit hilang, tubuh pulih, dan kehidupan berjalan normal. Namun, di era penyakit kronik, definisi ini semakin sulit dipertahankan. Tidak semua penyakit datang untuk pergi. Sebagian menetap, diam, dan menuntut kita hidup bersama mereka.
Pada penyakit infeksi paru seperti tuberkulosis (TB), misalnya, kita masih memegang narasi klasik kedokteran: diagnosis ditegakkan, terapi diberikan, dan setelah 6 bulan pengobatan, pasien dinyatakan sembuh. Ada titik akhir yang jelas. Ada garis tegas yang memisahkan antara “sakit” dan “sehat”. Namun pada penyakit kronik seperti infeksi HIV, diabetes melitus (DM), atau hipertensi, garis tersebut memudar. Penyakit tidak benar-benar hilang. Ia hanya dikendalikan, terkontrol kondisinya. Pasien tidak “kembali seperti semula”, melainkan memasuki fase baru yaitu hidup dalam pengawasan, dengan obat sebagai pendamping jangka panjang.
Di titik inilah, konsep sembuh membutuhkan redefinisi. Filsuf sekaligus dokter asal Prancis, Georges Canguilhem (1991), pernah menyatakan bahwa “normal” bukanlah kondisi tetap, melainkan kemampuan organisme untuk membentuk norma baru dalam menghadapi perubahan. Dalam kerangka ini, kesehatan tidak lagi dipahami sebagai ketiadaan gangguan, tetapi sebagai kapasitas adaptasi. Artinya, seseorang tidak harus kembali ke kondisi awalnya untuk disebut sehat. Ia cukup mampu membangun keseimbangan baru.
Perspektif ini semakin relevan di era modern. Meskipun Organisasi Kesehatan Dunia sejak lama mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sejahtera fisik, mental, dan sosial, sejumlah ahli menilai definisi tersebut tidak lagi memadai menghadapi dominasi penyakit kronik. Mereka mengusulkan agar kesehatan dipahami sebagai kemampuan untuk beradaptasi dan melakukan self-management dalam menghadapi tantangan hidup (Huber et al., 2011).
Dalam perspektif ini, pasien dengan penyakit kronik tidak lagi dilihat sebagai “gagal sembuh”, melainkan sebagai individu yang sedang membentuk normalitas baru. Seorang penyandang diabetes yang mengatur pola makan, rutin memantau kadar gula darah, dan tetap produktif, sesungguhnya telah menetapkan norma tubuh yang baru. Demikian pula seseorang dengan HIV yang menjalani terapi antiretroviral dan mempertahankan kualitas hidupnya. Mereka bukan “setengah sehat”, melainkan sehat dalam definisi yang berbeda.
Sayangnya, cara kita memahami kesehatan sering kali masih tertinggal. Kita masih terjebak dalam dikotomi lama: sehat versus sakit, sembuh versus tidak sembuh. Akibatnya, banyak pasien kronik merasa seolah-olah mereka berada dalam kondisi yang tidak pernah utuh. Padahal, mungkin yang perlu diubah bukan tubuh mereka, melainkan cara kita memahami kesehatan itu sendiri. Dalam konteks ini, obat juga mengalami perubahan makna. Jika dalam penyakit akut obat dipahami sebagai alat untuk menghapus penyakit, maka dalam penyakit kronik, obat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Ia tidak lagi sekadar intervensi sementara, melainkan bagian dari ritme hidup.
Minum obat tidak lagi identik dengan “sakit”, tetapi menjadi bentuk self-care, praktik sadar untuk menjaga keseimbangan tubuh. Seperti halnya olahraga, pola makan, atau istirahat, konsumsi obat menjadi bagian dari upaya mempertahankan kualitas hidup.
Daripada dilihat sebagai benda asing yang mengganggu, obat justru terintegrasi dalam tubuh sebagai mekanisme adaptasi. Ia menjadi bagian dari bagaimana seseorang membangun normalitas barunya.
Di sinilah kita dapat berbicara tentang kesembuhan eksistensial, sebuah kondisi di mana seseorang mungkin tidak bebas dari penyakit, tetapi mampu hidup utuh, bermakna, dan tetap berfungsi secara sosial. Ia tidak didefinisikan oleh diagnosisnya, melainkan oleh kemampuannya beradaptasi dan merawat diri.
Kesembuhan, dengan demikian, tidak selalu berarti menghilangkan penyakit. Terkadang, ia berarti berdamai dengannya. Di tengah meningkatnya prevalensi penyakit kronik, barangkali inilah tantangan baru dunia kesehatan: bukan hanya menyembuhkan, tetapi juga membantu manusia membangun kehidupan yang tetap utuh di dalam kondisi yang tidak sempurna. Karena pada akhirnya, sehat bukanlah tentang kembali menjadi seperti dulu, melainkan tentang kemampuan untuk terus hidup dengan baik meski tubuh telah berubah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
KPK mengungkap jejak Rp1,12 miliar dalam PMB jalur mandiri Unsoed dan dugaan akses approval calon mahasiswa oleh rektor.
Garebeg Mulud Be 1960/2026 di Kraton Jogja digelar sederhana tanpa gunungan dan iring-iringan prajurit. Tradisi tetap dipertahankan.
BPBD mencatat 336 karhutla membakar 428,46 hektare lahan di Palangka Raya pada 1 Juni-24 Agustus 2026.
Job fair khusus disabilitas digelar di BLK Wates, Kulonprogo, 27 Agustus 2026. Sebanyak 10 perusahaan membuka 161 posisi pekerjaan.
Mantan Ketua Dewan Kebudayaan Sleman, Dwijo, mendorong Taman Budaya Sleman menjadi pusat informasi komprehensif potensi budaya.
Regrouping SDN Hargomulyo ditolak warga. DPRD Kulonprogo meminta Disdikpora, sekolah, dan wali murid duduk bersama mencari solusi.