Prabowo Panen Raya Udang di Kebumen, Serap 650 Pekerja
Presiden Prabowo Subianto menghadiri panen raya udang di Kebumen. Proyek budidaya udang ini disebut menyerap 650 tenaga kerja.
Kepala Sub Bidang Pencegahan BPBD DIY, Agung Wicaksono, S.Sos., MPA,
Dua puluh tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk memulihkan sisa-sisa reruntuhan, mempercantik tata kota, dan menyembuhkan luka fisik. Namun, bagi masyarakat Yogyakarta, Sabtu pagi, 27 Mei 2006, tidak akan pernah benar-benar terhapus dari ingatan kolektif.
Hanya dalam hitungan detik, tepat pukul 05.55 WIB, gempa tektonik berkekuatan 5,9 Skala Richter melumpuhkan bumi Mataram. Lebih dari 5.700 jiwa melayang, puluhan ribu orang terluka, dan ratusan ribu rumah rata dengan tanah. Bantul, Sleman, Kota Yogyakarta, hingga Klaten seketika dicekam rasa pilu.
Kini, di tahun 2026, wajah Yogyakarta dan sekitarnya telah berubah total. Geliat pembangunan kota kian masif, pusat perbelanjaan dan perhotelan tumbuh subur, serta jalanan semakin padat oleh deru kendaraan. Jejak kehancuran fisik luar biasa dua dekade lalu seolah hilang tak berbekas.
Namun, di balik normal dan indahnya denyut nadi kota ini, ada satu pertanyaan krusial yang harus kita ajukan kepada diri sendiri: apakah kita benar-benar sudah tangguh menghadapi ancaman serupa, atau justru sedang mengidap amnesia bencana?
Sejarah mencatat, kepiluan Jogja dua dekade lalu bukan sekadar tragedi lokal, melainkan tamparan keras yang membuka mata seluruh masyarakat Indonesia dan para pengambil kebijakan di Jakarta. Kala itu, bangsa ini sadar bahwa kita sama sekali belum siap menghadapi ancaman katastrofe besar di atas tanah yang rawan ini.
Gagapnya koordinasi dan ketiadaan payung hukum yang komprehensif saat itu menjadi momentum krusial yang mendorong lahirnya Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana. Gempa Jogja menjadi hulu dari revolusi paradigma kebencanaan nasional yang memaksa negara bergeser dari pola lama yang responsif-karitatif menuju pengelolaan risiko yang terencana, integratif, dan mitigatif.
Saat birokrasi sempat lumpuh pada awal bencana 2006, warga Jogja justru bergerak mandiri. Dunia melihat sebuah fenomena sosial yang luar biasa di sini. Tidak ada penjarahan. Tidak ada perebutan bantuan ataupun kepanikan yang merusak. Dari balik reruntuhan, modal sosial masyarakat justru langsung bekerja.
Tanpa menunggu instruksi formal dari atas, warga berinisiatif mendirikan tenda darurat dari terpal seadanya, mengorganisasi dapur umum kampung, dan membagi logistik yang tersisa secara adil. Prinsip sayuk rukun, gugur gunung, dan senasib sepenanggungan spontan menjadi penyelamat pertama (first responder) yang paling efektif.
Nilai-nilai kultural inilah yang kemudian menginspirasi bahwa penanggulangan bencana di Indonesia harus berbasis pada kekuatan dan kemandirian komunitas lokal.
Masalahnya, modal sosial yang cair dan situasional ini kini menghadapi tantangan zaman yang berubah drastis. Lanskap demografis dan sosial Yogyakarta tahun 2026 sudah jauh berbeda dibanding tahun 2006. Anak-anak yang lahir pada tahun gempa kini telah beranjak dewasa dan menjadi mahasiswa.
Sebagai kota pendidikan dan pariwisata, Jogja terus dipadati ratusan ribu pendatang baru yang tidak memiliki memori kultural, trauma, maupun ikatan emosional terhadap kedahsyatan gempa 2006.
Di sisi lain, modernitas urban membawa kecenderungan masyarakat menjadi lebih individualistis. Keguyuban yang dahulu tercipta di pos ronda perlahan terkikis oleh sekat-sekat kehidupan modern. Romantisme gotong royong masa lalu sangat rentan menjadi mitos belaka apabila insting kesiapsiagaan itu tidak dirawat secara sadar.
Kita tidak bisa terus-menerus bernostalgia tentang indahnya gotong royong 2006 tanpa melakukan upaya pelembagaan kapasitas masyarakat hari ini.
Ruh dari Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 harus diwujudkan secara nyata melalui kultur pencegahan yang hidup di tengah masyarakat. Pemerintah Daerah DIY sebenarnya telah merintis langkah strategis melalui pendekatan Pengelolaan Risiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) yang diwadahi secara konkret dalam program Kalurahan Tangguh Bencana (Kaltana).
Didukung regulasi lokal seperti Peraturan Gubernur (Pergub) DIY Nomor 7 Tahun 2026, program Kaltana mencoba menstrukturkan kembali keguyuban masa lalu ke dalam sistem formal di tingkat kalurahan.
Melalui wadah ini, masyarakat diajak mengenali ancaman di wilayahnya, memetakan risiko secara partisipatif, menyusun rencana kontinjensi, hingga melatih diri melalui simulasi evakuasi mandiri secara berkala. Kaltana menjadi jembatan hidup yang menghubungkan amanat undang-undang dengan kesiapan riil di akar rumput.
Namun, ikhtiar di lapangan masih menghadapi tantangan serius di era digital 2026. Kunci pencegahan bencana saat ini bertumpu pada integrasi data dan teknologi informasi. Kita telah memiliki berbagai platform digital seperti PAMOR DIY, InaRISK, maupun Info BMKG.
Tantangan terbesar adalah memastikan teknologi tersebut tidak hanya menjadi pajangan infografis di ruang kontrol birokrasi, melainkan benar-benar membumi. Sistem informasi kebencanaan harus mudah diakses dan dioperasikan oleh komunitas di level kalurahan.
Teknologi peringatan dini secanggih apa pun tidak akan berguna apabila masyarakat lokal gagap dan tidak memahami cara menginterpretasikan data menjadi tindakan penyelamatan mandiri yang cepat. Kaltana tidak boleh terjebak sekadar menjadi pemenuhan target administratif di atas kertas demi menggugurkan kewajiban program kerja.
Memperingati dua dekade Gempa Jogja bukan sekadar agenda tahunan untuk menabur bunga, menggelar seremonial, atau memutar kembali video kepiluan masa lalu. Momentum tahun 2026 harus dijadikan sebagai “lonceng peringatan” yang terus berdering di telinga kita. Lonceng yang mengingatkan bahwa kita hidup di atas tanah Mataram yang dinamis dan sewaktu-waktu dapat kembali bergeliat.
Ketangguhan Yogyakarta tidak diukur dari seberapa megah kita mampu membangun kembali infrastruktur fisik. Ketangguhan sejati diukur dari seberapa siap kapasitas komunitas lokal dalam melindungi kelompok paling rentan seperti lansia, anak-anak, dan penyandang disabilitas.
Merawat ingatan emosional tahun 2006 berarti merawat kewaspadaan hari ini. Jangan sampai anak-cucu kita kelak harus membayar mahal ketidaksiapan kita dengan air mata yang sama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Presiden Prabowo Subianto menghadiri panen raya udang di Kebumen. Proyek budidaya udang ini disebut menyerap 650 tenaga kerja.
AC Milan dikabarkan mengincar Matthias Jaissle sebagai pelatih baru usai perombakan besar klub. Nama Ralf Rangnick juga dikaitkan dengan proyek Rossoneri.
Hasil practice MotoGP Italia 2026 di Sirkuit Mugello. Fabio Di Giannantonio raih waktu tercepat di sesi penuh drama yang diwarnai dua kali red flag.
Kementerian ESDM jamin harga Pertalite dan Biosolar tidak naik hingga akhir tahun 2026 meski kurs rupiah melemah menembus Rp17.877 per dolar AS.
Daftar 5 aplikasi drama pendek penghasil uang yang bisa memberi koin hingga saldo e-wallet, termasuk Snack Video, DramaBox, hingga Melolo.
Studi terbaru menunjukkan kopi, termasuk decaf, dapat meningkatkan kesehatan usus, menurunkan stres, dan mendukung fungsi otak melalui mikrobioma.