New York Dukung Jakarta Terbitkan Obligasi Rp5,6 Triliun
New York mendukung rencana Jakarta menerbitkan obligasi daerah Rp5,6 triliun pada 2027 untuk membiayai pembangunan infrastruktur.
Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, M.Si. Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI) dan Guru Besar Farmasi Universitas Islam Indonesia./ Istimewa
Apoteker Masa Depan Tidak Cukup Hanya Pintar tentang Obat
Oleh: Prof. Dr. apt. Yandi Syukri, M.Si.
Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Farmasi Indonesia (APTFI)
Guru Besar Farmasi Universitas Islam Indonesia
Apa yang pertama kali terlintas ketika kita mendengar kata apoteker? Bagi sebagian masyarakat, mungkin jawabannya sederhana: orang yang bekerja di apotek dan menyediakan obat. Jawaban itu tidak sepenuhnya salah. Tetapi dunia kefarmasian telah berkembang jauh lebih luas. Apoteker hari ini terlibat dalam pelayanan kesehatan, rumah sakit, industri farmasi, penelitian, pendidikan, regulasi, pengembangan obat, hingga berbagai program kesehatan masyarakat.
Karena itu, ketika dunia memperingati Hari Apoteker Sedunia pada 25 September 2026, ada satu pertanyaan yang menurut saya layak kita renungkan bersama: apakah pendidikan kita sudah menyiapkan apoteker untuk menghadapi persoalan kesehatan masa depan?
Tahun ini, International Pharmaceutical Federation (FIP) mengangkat tema “Empowering pharmacists for healthier futures”. Tema tersebut menempatkan pemberdayaan apoteker sebagai bagian penting dalam membangun masa depan kesehatan yang lebih baik.
Menurut saya, pemberdayaan itu harus dimulai dari pendidikan.
Jangan Terus Menambah Mata Kuliah
Dunia berubah cepat. Teknologi digital berkembang. Artificial intelligence atau AI mulai masuk ke berbagai bidang kesehatan. Tantangan resistensi antimikroba semakin kompleks. Masyarakat menghadapi penyakit kronis dalam jumlah yang semakin besar. Setiap kali muncul tantangan baru, kita sering berpikir: perlu mata kuliah baru. Ada logikanya. Tetapi kalau semua perubahan dijawab dengan menambah mata kuliah, kurikulum akan semakin padat. Karena itu, tentunya One Health bukan sebagai satu mata kuliah baru.
One Health seharusnya menjadi cara berpikir.
Mahasiswa farmasi perlu belajar memahami bahwa kesehatan manusia tidak berdiri sendiri.
Ketika membahas antibiotik, misalnya, mahasiswa tidak cukup hanya memahami mekanisme kerja obat. Mereka juga perlu melihat perilaku penggunaan antibiotik, peran tenaga kesehatan, masyarakat, industri, lingkungan, dan kebijakan. Ketika membahas teknologi obat, mahasiswa juga perlu memahami aspek keberlanjutan dan dampaknya. Dengan pendekatan seperti ini, mahasiswa belajar menghubungkan berbagai pengetahuan yang selama ini kadang dipelajari secara terpisah.
Belajar Tidak Hanya di Dalam Kelas
Ada satu hal yang sebaiknya perlu kita ubah dalam pendidikan tinggi: tempat belajar mahasiswa. Kelas dan laboratorium tetap penting. Tetapi dunia nyata seharusnya menjadi bagian dari proses pembelajaran. Mahasiswa farmasi perlu mendapatkan pengalaman belajar di rumah sakit, apotek, industri, komunitas, pusat penelitian, lembaga pemerintah, bahkan melalui kolaborasi internasional.
Mereka juga perlu lebih sering diberi persoalan nyata untuk diselesaikan. Misalnya, daripada hanya bertanya apakah mahasiswa memahami teori penggunaan antibiotik, kita dapat memberikan kasus mengenai resistensi antimikroba di suatu komunitas dan meminta mereka memikirkan solusinya. Dalam satu kasus, mahasiswa dapat belajar ilmu farmasi, klinik, komunikasi, epidemiologi, kebijakan, dan kerja sama lintas profesi. Pembelajaran seperti inilah yang mendekatkan pendidikan dengan kehidupan nyata.
Apoteker yang Kita Butuhkan
Lalu, seperti apa apoteker masa depan? Pertama, tetap harus kuat dalam ilmu farmasi. Kita tidak boleh mengorbankan fondasi sains hanya karena teknologi berkembang. Justru ketika informasi semakin banyak, kemampuan memahami dan menilai informasi secara ilmiah semakin penting.
Kedua, apoteker harus menjadi kolaborator. Persoalan kesehatan tidak bisa diselesaikan sendirian. Apoteker harus mampu bekerja bersama berbagai profesi.
Ketiga, apoteker perlu memiliki literasi digital dan AI. Teknologi harus dimanfaatkan untuk membantu pekerjaan, bukan menggantikan pertimbangan profesional.
Keempat, apoteker harus memiliki kemampuan inovasi dan kepemimpinan.
Dan kelima, apoteker harus mampu melihat persoalan kesehatan secara lebih luas melalui perspektif One Health.
Dengan demikian, apoteker bukan hanya ahli obat, tetapi juga bagian penting dari sistem kesehatan.
Yogyakarta dan Masa Depan Pendidikan Farmasi
Sebagai kota pendidikan, Yogyakarta memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu tempat tumbuhnya inovasi pendidikan farmasi. Perguruan tinggi di Yogyakarta memiliki kekuatan dalam pendidikan, penelitian, dan jejaring akademik. Tantangannya adalah bagaimana kekuatan tersebut lebih banyak dihubungkan dengan kebutuhan masyarakat.
Kampus tidak boleh hanya bertanya, “Apa yang dapat kita ajarkan?”
Kampus juga perlu bertanya, “Persoalan kesehatan apa yang sedang dihadapi masyarakat, dan apa yang dapat kita lakukan bersama?” Pertanyaan tersebut akan membawa pendidikan lebih dekat dengan masyarakat.
Dari Kurikulum ke Ekosistem
Pada akhirnya, kita akan membayangkan pendidikan farmasi tidak lagi hanya berpusat pada kurikulum. Kita perlu membangun ekosistem pendidikan. Mahasiswa belajar bersama dosen, tenaga kesehatan, industri, pemerintah, peneliti, masyarakat, dan mitra internasional.
Mereka tidak hanya dinilai berdasarkan seberapa banyak pengetahuan yang dapat diingat, tetapi juga berdasarkan kemampuan menggunakan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan persoalan.
Inilah mungkin makna penting tema Hari Apoteker Sedunia tahun ini. Memberdayakan apoteker bukan hanya memberikan ruang lebih besar kepada profesi ini. Kita harus memastikan sejak awal bahwa mereka memiliki ilmu, kompetensi, karakter, dan pengalaman yang diperlukan untuk menggunakan ruang tersebut dengan baik.
Karena itu, pada Hari Apoteker Sedunia 2026, barangkali kita tidak cukup hanya mengucapkan selamat kepada para apoteker.
Mari kita bertanya lebih jauh: Apoteker seperti apa yang ingin kita hadirkan untuk masyarakat lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun ke depan? Jawaban atas pertanyaan itu harus mulai kita siapkan hari ini—di ruang kelas, laboratorium, rumah sakit, industri, masyarakat, dan seluruh ekosistem pendidikan farmasi. (***)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
New York mendukung rencana Jakarta menerbitkan obligasi daerah Rp5,6 triliun pada 2027 untuk membiayai pembangunan infrastruktur.
Harga cabai rawit di Sleman mencapai Rp70.000 per kilogram. Disperindag memastikan stok di pasar masih aman meski pasokan berkurang.
DPD PDI Perjuangan DIY menyampaikan dukacita atas wafatnya Guruh Soekarnoputra dan mengajak kader serta simpatisan mendoakan almarhum.
Nokia sudah lama meninggalkan bisnis smartphone, tetapi tetap mendapat pendapatan dari lisensi paten dan merek. Ini strategi bisnis Nokia setelah era Microsoft.
Indonesia meneken perjanjian bebas visa dengan Lebanon, Saint Vincent dan Grenadines, serta Republik Dominika. Fasilitas ini berlaku bagi paspor diplomatik dan
Zara Adhisty mengumumkan kelahiran anak pertamanya bersama Tsaqib. Putra mereka lahir 19 September 2026 dan diberi nama Benjiro Nayel Ali.