Advertisement

Panel Surya di Lahan Pertanian Bantu Jaga Air dan Hasil Panen

Prof Dr. Ir Dian Fiantis, Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, dan Sekolah Pascasarjana Universitas Andalas, Padang, Pengurus dan Anggota Himpunan Ilmu Tanah Indonesia (HITI)
Senin, 06 April 2026 - 18:47 WIB
Maya Herawati
Panel Surya di Lahan Pertanian Bantu Jaga Air dan Hasil Panen Pembangunan panel surya. - Foto dibuat oleh AI - StockCake

Advertisement

Harianjogja.com, JAKARTA—Pemanfaatan panel surya di lahan pertanian mulai dilirik sebagai solusi menjaga ketersediaan air dan kualitas hasil panen di tengah ancaman El Nino. Teknologi ini memungkinkan irigasi, pengeringan, hingga penyimpanan hasil dilakukan lebih efisien dan berkelanjutan.
Persiapan menghadapi kedatangan El Nino harus dilakukan segera agar dampaknya tidak merambat berat. Saat itu terjadi yang paling dulu terasa bukan sekadar panas, tetapi hilangnya air dari tanah.

Hujan berkurang, sungai menyusut, dan kelembapan tanah turun drastis. Pada saat yang sama, krisis energi akibat perang teluk membuat biaya pompa air meningkat, distribusi pupuk terganggu, tanaman tak akan tumbuh optimal. Maka produksi pangan akan tertekan.

Advertisement

Di titik inilah kita menghadapi multi krisis: air berkurang, energi mahal, pangan terancam.

Namun ada satu sumber energi yang tidak pernah berhenti bekerja; matahari.

Selama ini, energi surya lebih sering diposisikan sekadar sebagai sumber listrik. Padahal, dalam sektor pertanian, perannya jauh lebih strategis, yakni sebagai penggerak sistem pangan.

Melalui pemasangan panel surya di lahan pertanian, energi ini dapat dimanfaatkan secara langsung untuk mendukung berbagai aktivitas produksi, mulai dari penyediaan air hingga penanganan pascapanen.

Pertama, energi surya dapat menghidupkan pompa air untuk irigasi tanpa bergantung pada bahan bakar fosil. Dalam kondisi El Nino, ketika kebutuhan air meningkat, sistem ini menjadi penyelamat. Air dapat dipompa secara konsisten tanpa terbebani biaya operasional yang tinggi.

Kedua, energi surya mendukung pengeringan hasil panen. Pada komoditas seperti padi, jagung, dan kopi, pengeringan yang tidak optimal sering menjadi sumber kehilangan hasil. Dengan sistem pengering berbasis surya, kualitas produk dapat dipertahankan, sekaligus mengurangi kerugian petani.

Ketiga, energi surya memungkinkan penyimpanan dingin (cold storage) di wilayah yang selama ini sulit dijangkau listrik. Ini penting untuk menjaga kesegaran produk hortikultura dan perikanan, serta mengurangi kehilangan pascapanen.

Tanah terlupakan

Dalam pembahasan tentang pangan, tanah sering dianggap sebagai media pasif. Padahal, tanah adalah sistem biofisik yang mengatur air, hara, dan produktivitas.

Saat El Nino, kelembapan tanah turun, struktur agregatnya rusak dan aktivitas mikroorganismenya turun. Jika kekeringan berlangsung lama, tanah tidak hanya kehilangan air, tetapi juga kehilangan fungsi ekologisnya.

Di sinilah energi surya memainkan peran tidak langsung namun krusial. Dengan irigasi berbasis energi surya, tanah tidak mengalami fluktuasi ekstrem kering–basah. Kelembapan dapat dijaga mendekati kapasitas lapang, sehingga struktur tanah tetap stabil dan proses biogeokimia tetap berlangsung.

Pada tanah vulkanis seperti andisol yang banyak dijumpai di wilayah pegunungan, kemampuan menahan air memang tinggi. Namun tanpa pengelolaan yang tepat, air dapat cepat hilang melalui evaporasi dan perkolasi. Energi surya memungkinkan pengelolaan air yang lebih presisi—bukan sekadar banyak, tetapi tepat waktu dan tepat jumlah.

Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki radiasi matahari yang melimpah sepanjang tahun. Namun dalam praktiknya, sektor pertanian masih sangat bergantung pada energi fosil untuk irigasi dan pascapanen.

Paradoks ini menjadi semakin nyata ketika krisis energi terjadi. Petani justru berada pada posisi paling rentan. Mereka membutuhkan energi untuk bertahan, tetapi tidak memiliki akses terhadap energi yang terjangkau.

Pengembangan energi surya di sektor pertanian dapat menjadi solusi struktural dengan mengurangi kebergantungan pada BBM, menurunkan biaya produksi, meningkatkan ketahanan terhadap variabilitas iklim

Lebih jauh, mulai menggunakan energi surya adalah langkah menuju pertanian mandiri energi.

Menuju kemandirian pangan

Swasembada pangan tidak cukup hanya berbicara tentang luas lahan atau produksi, tetapi harus mencakup ketersediaan air, stabilitas tanah, dan akses energi.

Energi surya memungkinkan ketiganya terhubung dalam satu sistem yaitu air dapat diakses melalui pompa, tanah dapat dijaga kelembapannya, produksi dapat dipertahankan

Dengan kata lain, energi surya bukan sekadar teknologi tambahan, tetapi fondasi baru dalam sistem pangan modern.

Investasi awal sistem energi surya untuk irigasi pada lahan sekitar satu hektare berada pada kisaran Rp40 juta hingga Rp120 juta, bergantung pada kondisi lapangan. Faktor penentu utamanya meliputi ketersediaan dan jarak sumber air bawah tanah, kedalaman atau beda tinggi angkat air, kebutuhan debit, serta jenis komoditas yang dibudidayakan.

Pada kondisi sederhana,misalnya sumber air dekat dan topografi relatif datar, biaya dapat ditekan pada kisaran bawah. Sebaliknya, pada lahan dengan sumur dalam, jaringan pipa panjang, atau kebutuhan air tinggi, biaya meningkat karena memerlukan pompa dan kapasitas panel yang lebih besar.

Struktur biaya instalasi tidak hanya mencakup panel surya, tetapi juga komponen pendukung seperti pompa air, inverter atau controller, rangka panel, serta instalasi pipa. Dalam banyak kasus, komponen non-panel justru menjadi bagian signifikan dari total investasi, terutama jika diperlukan pembangunan tandon air, pondasi rangka, atau infrastruktur distribusi ke seluruh petak lahan. Oleh karena itu, perencanaan teknis yang tepat—termasuk pemilihan kapasitas sistem sesuai kebutuhan air tanaman—menjadi kunci untuk menghindari pemborosan investasi.

Meskipun biaya awal relatif tinggi dibandingkan pompa berbahan bakar diesel, sistem energi surya menawarkan keunggulan pada biaya operasional yang sangat rendah karena tidak memerlukan bahan bakar harian. Dalam jangka menengah hingga panjang, penghematan biaya energi ini dapat menutup investasi awal, sekaligus meningkatkan kemandirian petani terhadap fluktuasi harga energi.

Dengan demikian, energi surya tidak hanya dipandang sebagai teknologi alternatif, tetapi sebagai investasi strategis dalam mendukung keberlanjutan dan ketahanan sistem pangan, terutama di tengah tekanan krisis energi dan variabilitas iklim seperti El Nino.

Penggunaan energi surya untuk irigasi telah berkembang pesat di India dan Asia Selatan sebagai respons terhadap krisis energi dan ketidakpastian iklim. Sistem solar irrigation pump (SIP) di negara tersebut umumnya dirancang untuk melayani lahan sekitar 0,5 hingga satu hektare, dengan keunggulan utama berupa biaya operasional mendekati nol setelah instalasi.

Di India, kebutuhan energi untuk pompa irigasi sangat besar, lebih dari 28 juta unit pompa digunakan secara nasional, sebagian besar masih bergantung pada listrik dan diesel. Oleh karena itu, transisi ke energi surya menjadi strategi nasional untuk mengurangi ketergantungan energi sekaligus menjaga keberlanjutan air dan pangan.

Pemerintah India secara agresif mendorong adopsi melalui program nasional untuk peningkatan kesejahteraan petani India. Pemerintah memberikan subsidi hingga 60–90% biaya instalasi kepada petani. Skema ini telah mendorong pemasangan ratusan ribu pompa surya, bahkan di beberapa wilayah seperti Maharashtra telah terpasang lebih dari 700.000 unit dan terus bertambah setiap tahun.

Model ini menunjukkan bahwa hambatan utama teknologi ini bukan pada aspek teknis, tetapi pada biaya awal investasi, yang kemudian diatasi melalui intervensi kebijakan.

Pendekatan serupa juga berkembang di Nepal, Bangladesh, dan Afrika Sub-Sahara, di mana energi surya digunakan untuk meningkatkan akses irigasi pada petani kecil. Studi menunjukkan bahwa teknologi ini sangat efektif dalam meningkatkan ketahanan pangan, tetapi adopsinya seringkali terbatas tanpa dukungan pembiayaan atau kredit mikro.

Secara umum, pengalaman internasional menegaskan bahwa energi surya bukan hanya solusi teknologi, tetapi juga memerlukan desain kebijakan, pembiayaan, dan kelembagaan agar dapat diadopsi secara luas dan berkelanjutan dalam sistem pertanian.

Dalam menghadapi krisis energi dan El Nino, kita membutuhkan pendekatan yang tidak reaktif, tetapi struktural. Energi surya menawarkan peluang itu; murah dalam jangka panjang, tersedia secara luas, dan selaras dengan kebutuhan pertanian.

Menjaga pangan bukan hanya soal menanam, tetapi juga memastikan bahwa tanah, air, dan energi bekerja bersama. Di antara ketiganya, matahari adalah satu-satunya yang tidak pernah berhenti memberi, selalu setia memancarkan energinya untuk dimanfaatkan.

Jika selama ini kita melihat matahari sebagai faktor alam yang tidak dapat dikendalikan, kini saatnya melihatnya sebagai aset strategis nasional.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Sumber : Antara

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Angin Kencang Melanda Bantul, Pohon Tumbang dan Rumah Rusak

Angin Kencang Melanda Bantul, Pohon Tumbang dan Rumah Rusak

Bantul
| Senin, 06 April 2026, 18:57 WIB

Advertisement

Gigi Hadid Bantah Kaitan dengan Jeffrey Epstein

Gigi Hadid Bantah Kaitan dengan Jeffrey Epstein

Hiburan
| Minggu, 05 April 2026, 12:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement