Perkosa Pacar di Bawah Umur, Pemuda Wonogiri Ancam Sebar Video
Polres Wonogiri menangkap pemuda 18 tahun yang diduga melakukan kekerasan seksual dan memeras korban dengan ancaman penyebaran rekaman.
Daniel Yudistya Wardhana, Dosen Departemen Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Persaingan di dunia usaha khususnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) semakin ketat dan menunjukkan tren kompetisi yang semakin tinggi. Tercatat berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, pada bulan Maret 2021, jumlah UMKM mencapai 64,2 juta. UMKM mampu menyerap 97 persen dari total tenaga kerja yang ada, serta dapat menghimpun sampai 60,42 persen dari total investasi di Indonesia (Kemenkeu, 2021).Tuntutan dan tantangan tersebut membuat para pelaku usaha menjadi berlomba-lomba untuk berkreasi dan berinovasi demi memberikan produk dan layanan terbaik bagi konsumen. Namun sering kali pendekatan tersebut menimbulkan dampak lain yang tidak disadari oleh para pelaku usaha. Segala upaya untuk hanya mengedepankan profit meninggalkan jejak yang kurang baik dan tidak jarang merugikan pemangku kepentingan yang lain.
Pelaku usaha dewasa ini tentu sudah sangat familier dengan BMC atau Business Model Canvas, yang secara ringkas merupakan suatu bentuk model yang menunjukkan alasan bagaimana suatu organisasi menciptakan, menawarkan dan menangkap nilainya (Osterwalder & Pigneur, 2010). Model tersebut menawarkan pendekatan yang lugas dan mudah dipahami namun sangat komprehensif melalui apa yang dinamakan 9 building blocks atau sembilan bangun bisnis model. Pelaku usaha dapat dengan mudah memvisualisasikan aspek apa saja yang terkait dengan usahanya, mulai dari keunggulan usaha, segmentasi konsumen, relasi dengan konsumen, jalur distribusi, aktivitas dan sumber daya kunci, rekan usaha, hingga sumber pemasukan dan biaya. Walaupun demikian, dibalik kesederhanaan dari model ini tersimpan banyak sekali pendekatan lain yang jika dimanfaatkan akan mampu memberikan high level summary analysis atau ringkasan usaha yang sangat mendalam untuk kepentingan pengambilan keputusan dan perumusan strategi.
Triple Layer Business Model Canvas
Dalam kondisi yang penuh tekanan bagi para pelaku bisnis, tentu dapat dipahami jika fokus utama sebagian besar usaha adalah bagaimana bisa bertahan dalam kondisi yang tidak pasti dan berisiko seperti sekarang ini. Walaupun begitu, tidak sedikit pemangku kepentingan mulai menyadari untuk lebih memikirkan dampak jangka panjang suatu usaha. Respon pelaku usaha terhadap aspek keberlanjutan atau sustainability semakin meningkat dan diharapkan akan semakin aktif dalam menyikapi isu-isu ketenagakerjaan, lingkungan dan sosial. Dari sudut pandang yang lain, tantangan tersebut dianggap akan meningkatkan risiko usaha walaupun tidak sedikit juga yang melihat peluang untuk melakukan inovasi yang berorientasi keberlanjutan. Bagi pelaku usaha yang melihat peluang tersebut ada sebuah pendekatan yang sangat tepat untuk diterapkan, pendekatan ini merupakan pengembangan dari Business Model Canvas yang selama ini dikenal, yaitu Triple Layer Business Model Canvas (TLBMC).
TLBMC ini merupakan suatu alat analisis praktis yang secara koheren mengintegrasikan aspek ekonomi atau profit, lingkungan dan juga sosial melalui sudut pandang yang holistik. Triple Layer Business Model Canvas yang merupakan pengembangan dari BMC ini diinisiasi oleh dua peneliti dari Canada yaitu Alexander Joyce dan Raymond L Paquin pada tahun 2016.
Penelitian terhadap penggunaan BMC dilakukan pada berbagai jenis perusahaan dan kemudian dilakukan validasi dengan berbagai sumber dan pendekatan yang menghasilkan dua lapis tambahan dalam BMC yang melihat orientasi usaha atau bisnis tidak hanya dari aspek value proposition atau nilai utamanya saja namun juga functional value atau nilai fungsi suatu usaha dan juga social value yang menitikberatkan pada aspek misi organisasi dalam memberi dampak positif bagi sekitarnya.
Keuntungan Jangka Panjang
Berbagai pihak sepakat bahwa, ketika suatu usaha tidak hanya memberikan keuntungan bagi usahanya namun bagi pihak lain tentu saja merupakan opsi yang sangat menarik. Karena sudah terlalu lama berbagai industri hanya melihat dari sudut pandang memaksimalkan keuntungan semata, namun sering kali berdampak negatif bagi pihak yang lain. Suatu pendekatan yang terdengar ideal dan mulia namun penuh dengan tantangan dan hambatan juga faktor lain yang memengaruhi penerapan konsep tersebut. Tentu suatu ide ataupun mimpi yang baik memerlukan proses panjang untuk mewujudkannya bukan? Tidak ada salahnya jika dimulai sejak sekarang, sehingga masa depan dari lingkungan, usaha dan masyarakat di sekitar kita dapat berlangsung dalam kondisi yang baik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Polres Wonogiri menangkap pemuda 18 tahun yang diduga melakukan kekerasan seksual dan memeras korban dengan ancaman penyebaran rekaman.
Prabowo menyebut negara menanggung penuh iuran JKN bagi 96,8 juta warga tidak mampu dan membangun 66 RSUD di berbagai daerah.
Kemendagri membuka Program Masadagri Batch III 2026 dengan 65 posisi magang di 12 unit kerja. Pendaftaran dibuka 15-19 Agustus 2026 untuk mahasiswa D4 dan S1.
Festival seni rupa ARTJOG kembali digelar di Jogja National Museum (JNM), Yogyakarta. Berlangsung sejak 19 Juni hingga 30 Agustus 2026
Desain iPhone 17 Pro kini menginspirasi HP Android. Huawei Nova 16 SE, Itel Power 80, HMD Asha 305, dan Oppo A7 Pro Max hadir dengan harga mulai Rp1 jutaan.
Prabowo menjelaskan SMA Unggul Garuda menggunakan kurikulum IB untuk menyiapkan siswa masuk universitas terbaik dunia.