OPINI: Pemilu Serbia dan Brasil: Gelombang Antikemapanan Lintas Benua?

OPINI: Pemilu Serbia dan Brasil: Gelombang Antikemapanan Lintas Benua?

Mahendra Siregar, Ekonom Senior, Pemerhati Geopolitik dan Geoekonomi. /Istimewa.

Pada Minggu, 25 Oktober 2026, dua pemilu di dua benua berakhir dengan hasil yang berlawanan. Di Serbia, Student List (Daftar Mahasiswa) mengalahkan koalisi Aleksandar Vučić, yang telah mendominasi politik negara itu selama lebih dari satu dekade.

Sementara itu, di Brasil, Presiden Lula da Silva justru terpilih kembali setelah sempat tertinggal dari Flávio Bolsonaro pada putaran pertama. Apakah kedua hasil ini merupakan bagian dari kecenderungan yang sama, atau justru menunjukkan batas penjelasan tentang gelombang antikemapanan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada dua hal yang perlu dibedakan. Pemilih yang menghukum petahana karena kinerjanya belum tentu menolak sistem politik yang ada. Sikap ini disebut sentimen antipetahana. Sementara itu, sentimen antikemapanan melangkah lebih jauh karena ketidakpuasan diarahkan kepada elite dan tata kekuasaan yang dianggap tertutup serta saling melindungi.

Penandanya dapat dikenali ketika dukungan beralih kepada kekuatan di luar partai-partai yang biasa bergiliran memerintah, atau ketika tuntutan bergeser dari perubahan kebijakan tertentu menjadi penolakan terhadap elite secara keseluruhan. Penanda tersebut perlu dibaca bersama pesan kampanye dan alasan pemilih. Dengan ukuran itu, perkembangan politik terkini dapat diuji.

Jerman memperlihatkan penanda pertama dari dua arah ideologi yang berlawanan. Pada September 2026, partai kanan jauh AfD meraih kemenangan besar di negara bagian Sachsen-Anhalt. Sementara itu, partai kiri jauh Die Linke menjadi partai terbesar di negara bagian Berlin dengan dukungan kuat dari pemilih muda.

Die Linke memang pernah menjadi bagian dari pemerintahan Berlin. Namun, kemenangannya kali ini bertumpu pada janji untuk melaksanakan hasil referendum perumahan 2021 yang hingga kini belum dijalankan. Bukti sentimen antikemapanan pada Die Linke memang lebih tipis dibandingkan dengan AfD.

Meski demikian, keduanya sama-sama menawarkan diri sebagai penantang kelas politik yang dianggap mengabaikan kepentingan warga. Fragmentasi suara menyulitkan pembentukan koalisi selama partai-partai arus utama mempertahankan Brandmauer, yakni kebijakan menolak berkoalisi dengan AfD.

Di Prancis, RN menjadi fraksi tunggal terbesar di Majelis Nasional sejak 2024. Putusan pengadilan banding pada Juli 2026 membuka jalan bagi Marine Le Pen untuk maju dalam pemilihan presiden tahun depan, meskipun proses kasasi masih berlangsung. Seperti diuraikan dalam tulisan pada 20 Oktober 2026, ketidakpuasan politik di negara itu bersumber dari kesenjangan antara besarnya belanja publik dan kualitas layanan yang dirasakan warga.

Italia memperlihatkan apa yang terjadi ketika penantang berhasil berkuasa. Giorgia Meloni telah memerintah sejak Oktober 2022, dan Fratelli d'Italia tetap menjadi partai terbesar. Namun, setelah empat tahun berkuasa, partai tersebut praktis telah menjadi bagian dari kemapanan.

Penantang baru pun muncul dari sisi kanannya melalui partai yang dipimpin Roberto Vannacci, yang dalam sejumlah survei telah melampaui Lega. Masuknya pembawa pesan antikemapanan ke dalam pemerintahan tetap menyisakan ruang bagi penantang baru, termasuk dari spektrum ideologi yang sama.

Kaum Muda

Benang merah lain yang menonjol adalah peran generasi muda dalam mobilisasi politik. Pada Agustus 2024, protes mahasiswa di Bangladesh yang semula menentang kuota pegawai negeri berkembang menjadi gerakan yang memaksa Perdana Menteri Sheikh Hasina meninggalkan negaranya. Setahun kemudian, protes Generasi Z di Nepal, yang dipicu oleh pemblokiran media sosial dan persoalan korupsi, membuat Perdana Menteri K.P. Sharma Oli mengundurkan diri.
Dalam kedua kasus tersebut, tuntutan terhadap kebijakan tertentu meluas menjadi penolakan terhadap seluruh elite yang berkuasa. Di Nepal, gedung parlemen bahkan dibakar.

Serbia menempuh jalan berbeda. Gerakan mahasiswa di negara itu bermula dari protes antikorupsi setelah runtuhnya kanopi stasiun Novi Sad pada November 2024. Gerakan tersebut kemudian berhasil menerjemahkan tuntutan perubahan menjadi kemenangan dalam pemilu.

Di India, gerakan satire anak muda Cockroach Janta Party (CJP) memilih tetap berada di luar jalur pemilu. Sementara itu, di Prancis, blokade ratusan sekolah menengah oleh pelajar pada Oktober 2026 berujung pada kerusuhan.
Pemilih muda umumnya memiliki keterikatan yang lebih lemah dengan partai-partai lama dan berhadapan langsung dengan persoalan pendidikan, pekerjaan, serta perumahan. Kondisi tersebut memudahkan mobilisasi, meskipun peran generasi muda di jalanan belum tentu mencerminkan sikap seluruh pemilih.

Teknologi informasi tidak menjelaskan mengapa ketidakpuasan muncul, tetapi membantu menjelaskan mengapa mobilisasi dapat menyebar dengan cepat. Media sosial menurunkan biaya mobilisasi, sementara simbol dan taktik dapat berpindah lintas negara dalam hitungan hari. Salah satu contohnya adalah penggunaan bendera bajak laut dari serial One Piece dalam berbagai aksi protes kaum muda sepanjang 2025.

Namun, kecepatan mobilisasi tidak dapat menggantikan organisasi. Mobilisasi digital dapat memperbesar tekanan terhadap pemerintah, tetapi keberhasilan gerakan Serbia di kotak suara juga ditopang oleh pembangunan jaringan selama hampir dua tahun.

Brasil menjadi kasus yang membatasi tesis ini. Lula merupakan petahana, sedangkan kubu Bolsonaro, yang pada 2018 tampil sebagai penantang kemapanan, kini telah menjadi blok mapan dengan basis kuat di Kongres.

Pada pemilu 2026, hampir seluruh suara tetap mengalir kepada dua kekuatan lama. Tidak ada penantang baru yang memperoleh dukungan berarti. Kemenangan tipis Lula dapat mencerminkan kepercayaan atau toleransi pemilih terhadap kinerjanya, penolakan terhadap lawannya, atau kombinasi keduanya.

Dengan demikian, hasil pemilu Brasil tidak memberikan bukti kuat mengenai keberhasilan elektoral kekuatan antikemapanan baru. Gelombang ini memang terlihat di banyak negara, tetapi tidak bersifat universal.

Struktur politik turut berperan, termasuk sistem dua putaran di Brasil, selain faktor organisasi, kepemimpinan, respons aparat, dan kredibilitas pemilu. Struktur politik tidak menentukan muncul atau tidaknya ketidakpuasan, tetapi sangat memengaruhi arah penyalurannya.

Tiga Skenario

Hingga akhir 2027, terdapat tiga skenario yang mungkin terjadi. Skenario A: Penyerapan. Partai-partai mapan menyerap tuntutan perubahan dan menunjukkan hasil nyata. Dengan demikian, gelombang antikemapanan mereda tanpa harus menunggu penantang mengambil alih kekuasaan.

Skenario B: Pergiliran. Penantang memenangkan pemilu di lebih banyak negara, kemudian menghadapi tuntutan kinerja yang sama dengan para pendahulunya. Situasi yang kini dialami Meloni menjadi salah satu ilustrasi bagaimana penantang yang telah berkuasa dapat berubah menjadi bagian dari kemapanan.

Skenario C: Kebuntuan. Dukungan politik semakin terpecah, koalisi sulit terbentuk, dan pemerintah kehilangan kemampuan untuk mengambil keputusan. Jerman dan Prancis menjadi dua negara yang paling dekat dengan skenario ini.

Perkembangan menuju setiap skenario dapat dibaca melalui sejumlah variabel. Skenario C menguat apabila Brandmauer di Jerman tetap dipertahankan, sementara partai-partai mapan gagal membentuk koalisi yang stabil.

Skenario B menguat apabila RN, yang belum pernah memimpin pemerintahan nasional, memenangkan pemilihan presiden Prancis pada 2027. Dalam konteks ini, Serbia juga menjadi ujian untuk melihat apakah gerakan warga mampu menerjemahkan keberhasilan elektoral menjadi kemampuan memerintah.

Sementara itu, Skenario A hanya terbuka apabila warga merasakan perbaikan nyata sebelum pemilu berikutnya. Pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November 2026 baru menjadi penanda penting apabila kekuatan di luar arus utama partai berhasil menang, bukan sekadar pihak oposisi.

Hasil pemilu Serbia dan Brasil pada hari yang sama memperlihatkan bahwa ketidakpercayaan terhadap elite menguat di banyak negara, tetapi tidak selalu berubah menjadi penolakan terhadap kemapanan. Di Serbia, ketidakpercayaan tersebut menemukan wadah dan berhasil menantang kekuasaan yang telah lama bertahan. Sementara itu, di Brasil, pemilih masih menentukan pilihan di antara dua kekuatan lama.

Pesan antikemapanan dapat mengantarkan sebuah gerakan meraih kekuasaan. Namun, untuk mempertahankan kepercayaan publik, gerakan tersebut harus mampu menghasilkan perbaikan nyata yang sebelumnya mereka tuntut.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online