7 Siswa SMK Ngawi Sakit Usai Santap MBG, Ini Penjelasan Polisi
Tujuh siswa SMK Pamardi Siwi 2 Ngrambe, Ngawi, mengalami mual, muntah dan pusing setelah makan MBG. Sampel makanan diuji di laboratorium.
AM. Rini Setyastuti, Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Pandemi Covid-19 memaksa berbagai negara, baik negara maju maupun berkembang untuk melakukan pembatasan kegiatan ekonomi. Kegiatan ekonomi yang mengalami penurunan ini jelas akan berpengaruh pada jalannya perekonomian di sejumlah negara.
Kontraksi pertumbuhan ekonomi menjadi suatu hal yang tidak bisa dihindari oleh beberapa negara, meskipun ada juga negara yang masih dapat mempertahankan pertumbuhan ekonominya berada pada level positif, namun angka ini pun masih jauh di bawah pertumbuhan normal.
Covid 19 di Indonesia mulai terdeteksi pertama kali di awal triwulan pertama tahun 2020 yang membuat Pemerintah Indonesia harus mengambil langkah antisipasi dengan mengambil kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat, termasuk pembatasan kegiatan ekonominya. Pembatasan kegiatan ekonomi ini mengakibatkan seluruh komponen pendapatan nasional dari sisi pengeluaran mengalami perlambatan yang signifikan.
Pengeluaran konsumsi rumah tangga mengalami pelambatan dimulai pada triwulan kedua tahun 2020. Pengeluaran konsumsi rumah tangga di triwulan pertama tahun 2021 adalah sebesar Rp 1.450.299,48 milliar rupiah (berdasarkan harga konstan tahun 2010), mengalami kontraksi sebesar 2,2% dibanding triwulan pertama tahun sebelumnya. Mengingat komponen pengeluaran rumah tangga ini mempunya andil terbesar dalam perhitungan pendapatan nasional (pendekatan pengeluaran) maka penurunannya menjadi salah satu permasalahan yang perlu diperhatikan.
Pengeluaran konsumsi pemerintah di tahun 2020 tidak menunjukkan perubahan yang berarti di setiap triwulannya, tetapi memasuki triwulan pertama tahun 2021 mengalami kontraksi sebesar 43,35% dari triwulan keempat tahun sebelumnya. Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto (PMTB) sempat mengalami penurunan yang berarti di triwulan kedua tahun 2020, dan mulai mengalami peningkatan di triwulan selanjutnya meskipun dengan besaran yang kurang signifikan. Kondisi yang sama juga dialami oleh kondisi ekspor dan impor yang menurun seiring terhambatnya perdagangan antar negara.
Perang Dagang
Terjadinya perang dagang antara Amerika dan Tiongkok di tahun 2018, memberikan ketegangan di berbagai negara termasuk Indonesia. Dampak dari situasi pada saat itu dapat terlihat dari data ekspor bulanan Indonesia yang mengalami fluktuasi dan cenderung mengalami penurunan, hal ini dimungkinkan bahwa limpahan barang dari China telah mempengaruhi daya saing produk Indonesia.
Setelah ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok mereda di tahun 2019, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) kinerja ekspor Indonesia mulai mengalami perbaikan, meskipun nilai total ekspor pada tahun tersebut mengalami penurunan sekitar 6,8% dibanding tahun sebelumnya (nilai total ekspor tahun 2019 sebesar US$ 167.683,0 juta, sedangkan tahun 2018 nilai total ekspor sebesar US $ 180.012,7 juta).
Dampak Pandemi Covid 19
Pandemi Covid 19 yang muncul di awal triwulan pertama tahun 2020 telah memperparah dan memunculkan ketidakpastian baru dalam perekonomian global. Kebijakan lockdown yang diambil oleh beberapa negara secara bersamaan menyebabkan menurunnya permintaan global dan menghambat aliran barang. Kondisi demikian mengakibatkan harga komoditas di pasar internasional cenderung menurun. Penurunan ekspor terbesar terjadi pada bulan Mei 2020, yaitu sebesar US$ 10452,6 juta, lebih rendah 14% dibanding bulan sebelumnya. Besarnya impor juga mengalami penurunan di bulan tersebut dengan nilai impor US$ 8.438,6 juta, mengalami kontraksi sebesar 32,68% dibanding bulan April 2020. Total ekspor tahun 2020 tercatat sebesar US $ 163.191,8 juta, lebih rendah 2,7% dibanding tahun 2019. Gambar di bawah ini merupakan perkembangan besarnya ekspor dan impor Indonesia tahun 2017 sampai dengan pertengahan tahun 2021.



Gambar 1. Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia
Di awal pandemi tahun 2020 terlihat bahwa ekspor mengalami penurunan, demikian juga impor. Setelah mengalami titik terendah di bulan Mei 2020, besarnya ekspor dan impor mulai mengalami peningkatan kembali. Meskipun dari bulan Juni 2020 terlihat bahwa masih terjadi fluktuasi besarnya ekspor dan impor, tetapi dari grafik terlihat bahwa keduanya menunjukkan arah yang menggembirakan, dengan kata lain mengalami tren yang positif.
Data ekspor dan impor bulan Juni tahun 2021 menunjukkan angka pencapaian tertinggi sejak tahun 2019 yaitu sebesar US$ 18.545,4 juta dan US$ 17.229,0 juta. Nilai ekspor ini meningkat sebesar 54,46% dibanding bulan Juni 2020 dan meningkat sebesar 9,5% dibanding bulan sebelumnya (Mei 2021). Pertumbuhan ekspor ini dipicu oleh pertumbuhan ekspor nonmigas sebesar 8,4% dan melesatnya pertumbuhan ekspor migas sebesar 27,2% dibanding bulan sebelumnya. Tingginya ekspor ini didominasi oleh produk-produk industri pengolahan (US$14.077,5 juta), disusul oleh ekspor sektor pertambangan (US$ 2.911,8 juta), sektor migas (US$ 1.232,1 juta) dan sektor pertanian (US$ 324,0 juta). Ekspor nonmigas Indonesia kebanyakan ditujukan ke negara Tiongkok, Amerika Serikat, Jepang dan Malaysia.
Impor bulan Juni 2021 meningkat sebesar 60,12% dibandingkan impor bulan Juni tahun sebelumnya. Impor didominasi oleh bahan baku penolong sebesar US$ 13.040,0 juta, disusul oleh barang modal (US$ 2.545,6 juta) dan barang konsumsi (US$ 1.643,4 juta). Impor nonmigas mayoritas berasal dari Tiongkok, Jepang, Thailand dan Singapura. Impor Indonesia yang didominasi oleh bahan baku dan penolong dan barang modal diharapkan akan tetap menjaga proses produksi di dalam negeri berjalan dengan lancar. Dan pada akhirnya juga akan mendorong kinerja ekspor Indonesia.
Penutup
Meskipun pada saat ini masa pandemi belum berakhir, perkembangan ekspor dan impor yang membaik, diharapkan akan semakin menggerakkan perekonomian Indonesia ke arah yang lebih baik. Membaiknya kinerja ekspor yang juga ditunjukkan oleh surplus neraca perdagangan Indonesia dalam setahun terakhir ini dapat menjadi sinyal positif bahwa permintaan terhadap industri nonmigas Indonesia sudah mulai membaik, dan tentunya komoditas nonmigas ini dapat semakin berperan dalam kinerja perekonomian secara keseluruhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tujuh siswa SMK Pamardi Siwi 2 Ngrambe, Ngawi, mengalami mual, muntah dan pusing setelah makan MBG. Sampel makanan diuji di laboratorium.
Kiper 16 tahun Athaullah Daib motoran dari Gunungkidul ke Jogja demi latihan PSIM setelah dipromosikan dari EPA U-16 ke tim senior.
Kulonprogo mendorong penanganan Jalan Dekso-Samigaluh dan Jembatan Duwet. Jalan ditargetkan masuk anggaran 2027, jembatan masih dikaji.
Jadwal KRL Jogja-Solo Kamis 13 Agustus 2026 tersedia 15 perjalanan dari Yogyakarta ke Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.
BGN meminta makanan MBG yang tidak layak tidak dikonsumsi dan segera dikembalikan ke SPPG untuk diperiksa dan diinvestigasi.
Jadwal KRL Solo-Jogja Kamis 13 Agustus 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur ke Jogja. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.