OPINI: Puasa untuk Kembali ke Pangkal

OPINI: Puasa untuk Kembali ke Pangkal

Machasin, Ketua Umum MUI DIY & Dosen UIN Sunan Kalijaga

Setelah dua tahun lebih mengganggu aktivitas hampir seluruh penduduk dunia, alhamdulillah pandemi Covid 19 semakin bisa teratasi. Khawatir akan tertular penyakit oleh virus Corona ini, orang menahan diri dari banyak hal yang sebelumnya dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Berjabat tangan, berkumpul sampai berdesak-desakan, salat jamaah di masjid, pengajian umum, berbelanja di pasar/mal dst. mesti ditinggalkan. Sebaliknya, hal-hal yang selama ini tidak/jarang dilakukan malah harus dilakukan: mengenakan masker penutup hidung dan mulut, cuci tangan beberapa kali dalam sehari, jaga jarak antar orang, vaksinasi dst.

Ramadan tahun ini akan datang dengan kegembiraan dan kelonggaran dari keketatan yang sebelumnya cukup menekan. Kita memasuki Ramadan dengan kembali kepada keadaan yang biasa sebelum kedatangan pandemi. Akan tetapi, pelonggaran ini tidak semestinya membuat kita kembali sepenuhnya ke kebiasaan sebelum dua tahun yang lalu. Ibarat orang berpuasa, tidaklah semestinya kita menyerupai anak-anak yang berpuasa untuk kali pertama: setelah seharian kelaparan dan kehausan, lalu balas dendam begitu datang waktu berbuka dengan makan sebanyak-banyaknya dan minum sepuas-puasnya. Perut akan terlalu penuh hingga terasa sakit.

Kemlakaren, demikian keadaan perut kosong yang tiba-tiba diisi sampai penuh disebut dalam bahasa Jawa. Untuk mengobatinya, perut anak yang penuh itu mesti dicénthongi, yakni diurut dengan penyendok nasi.

Ramadan kali ini seharusnya tidak disambut dengan kegembiraan yang berlebihan, melainkan dengan pelonggaran sedikit demi sedikit. Kewaspadaan terhadap kemungkinan melonjaknya penularan Covid-19 tetap harus dilakukan. Cuci tangan, pengukuran suhu tubuh, menyiapkan sajadah sendiri dan mengurangi kontak fisik perlu terus dilakukan.

Dalam Al-Qur’an (59:18) Allah memerintahkan orang beriman memperhatikan apa yang telah dilakukan untuk pelajaran bagi masa depan. Melonjaknya jumlah penularan selalu didahului banyaknya orang bepergian dan berkumpul, dan kemungkinan besar orang-orang yang berkumpul itu kurang ketat dalam menerapkan protokol kesehatan. Karena itu, akan ramainya orang melakukan ibadah berjamaah di bulan Ramadan ini mestilah disertai dengan perhatian yang memadai kepada kesehatan.

Memperbaiki Kebiasaan

Puasa sebenarnya merupakan penghentian sebentar kebiasaan yang sudah berlangsung lama. Suatu hari Khalifah Ja’far al-Mansur meminta izin kepada Imam Malik untuk memperbanyak karyanya, al-Muwatta’ dan menyebarkannya ke seluruh wilayah untuk menjadi pegangan amal kaum muslimin. Imam Malik menolaknya karena di mana-mana orang sudah mempunyai pegangan dan kebiasaan. “Mengubah orang banyak dari keyakinannya itu,” katanya “sangatlah sulit.”

Puasa sebulan penuh sebenarnya bisa berarti perbaikan kebiasaan. Mengubah kebiasaan memang memerlukan paksaan dalam waktu panjang, tidak bisa dalam sehari dua hari. Setiap orang saban hari beraktivitas dengan menggunakan tubuh, pikiran dan perasaannya. Itu dilakukan dengan cara tertentu yang menjadi kebiasaan. Makan sehari tiga kali, misalnya, dengan interval enam hingga tujuh jam di siang hari adalah kebiasaan. Itu masih ditambah dengan makan snack, minum kopi dan sebagainya. Akibatnya perut mesti bekerja hampir tanpa istirahat mencerna makanan dan minuman yang masuk. Puasa membuat perut berhenti bekerja dari pagi sampai sore. Lemak yang tersimpan dalam tubuh akan banyak dibakar untuk memenuhi kebutuhan tenaga setelah sari makanan dari sahur tak bersisa lagi.

Ketika malam tiba, orang berbuka dengan cara makan dan minum sedikit demi sedikit. Itu pun masih mesti memperhatikan ibadah-ibadah malam hari yang akan mengurangi selera makan. Tidak cukup lagi waktu untuk memenuhi perut dengan makan banyak-banyak. Jadi, dengan berpuasa alat pencernaan bisa beristirahat.

Berpuasa juga bisa berarti menahan diri dari menerima berita dan men-share-nya tanpa penyaringan dan konfirmasi. Al-Ghazali menyebutkan puasa yang lebih tinggi daripada puasa umum, yakni puasa khusus.

Ini berupa menahan diri melakukan hal-hal yang tak terpuji dengan menggunakan mulut, tangan, telinga, mata dan anggota tubuh yang lain. Kini, itu mesti ditambah dengan menahan ujung jari dari nge-share berita-berita yang mempertebal emosi dan menumpukan penalaran dan pertimbangan nurani. Ini juga mesti dijadikan usaha untuk memperbaiki kebiasaan.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online