OPINI: Membangun Budaya Inovasi

OPINI: Membangun Budaya Inovasi

Oscar Chrismadian Noventa, Dosen Departemen Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Berdasarkan rilis Global Innovation Index (GII) pada 2021, Indonesia berada di urutan ke-87 dari 131 negara paling inovatif di dunia. Peringkat ini turun dua peringkat dari tahun sebelumnya di mana Indonesia menempati peringkat 85. GII sendiri mengukur kapasitas inovasi negara-negara di seluruh dunia dan menyajikan analisis komparatif untuk membantu memahami variasi dalam kompetensi nasional (Wipo, 2015). Artinya, Indonesia perlu membangun lagi budaya Inovasinya hasil skor GII yang rendah menunjukkan kurangnya sistem pengembangan kapasitas inovasi di Indonesia.

Tujuh Indikator GII

Dalam GII ada tujuh indikator penilaian, yaitu institusi (institutions), pembangunan manusia dan penelitian (human capital and research), infrastruktur (infrastructure), kemajuan pasar (market sophistication), kemajuan bisnis (business sophistication), keluaran ilmiah (scientific outputs), dan keluaran kreatif (creative outputs). Indonesia memiliki skor tinggi pada kemajuan pasar, infrastruktur, dan institusi. Hal ini menunjukkan bahwa Indonesia merupakan pasar potensial untuk digali karena secara infrastruktur sudah memadai dan konsumen terbuka dengan produk-produk baru di pasar. Pemerintah juga mendukung melalui berbagai regulasi dan pembangunan infrastruktur yang memudahkan pemain-pemain baru masuk ke pasar Indonesia.

Tetapi skor rendah ditunjukkan pada kemajuan bisnis, pembangunan manusia dan penelitian, keluaran ilmiah, dan keluaran kreatif. Hal ini menjadi Indikasi bahwa walaupun potensi pasar di Indonesia baik tetapi pelaku bisnis di Indonesia kurang mampu menggarap potensi pasar tersebut. Sehingga membuka peluang bagi pelaku bisnis dari luar negeri untuk merebut pasar di Indonesia. Padahal saat ini Indonesia sedang memasuki bonus demografi yang akan berakhir pada 2030. Bonus demografi mengindikasikan proporsi usia kerja lebih besar daripada proporsi bukan usia kerja.

Edgar Schein Culture Model

Indonesia perlu memanfaatkan dengan baik bonus demografi ini dengan membangun budaya inovasi. Sebab selama tingkat inovasi di Indonesia rendah maka kemampuan kompetitif Indonesia juga akan rendah. Dalam membangun budaya inovasi ini kita dapat menggunakan edgar schein culture model. Model ini menjelaskan dalam membangun inovasi terdapat tiga hal yang harus kita perhatikan, yaitu artefak, nilai-nilai, dan asumsi. Pertama, artefak merupakan sesuatu yang terlihat dan bisa kita rasakan yang selanjutnya mampu mendorong perilaku seseorang tapi sifatnya hanya sementara. Kedua, nilai-nilai merupakan sesuatu yang dianggap penting baik sesuatu yang terlihat seperti visi, misi organisasi ataupun sesuatu yang tidak terlihat seperti kesepakatan bersama atau keyakinan bersama. Ketiga, asumsi merupakan sesuatu yang melekat pada keyakinan seseorang dan selanjutnya mendorong perilaku seseorang dalam berbuat sesuatu.

Sering kali pemerintah maupun pelaku bisnis hanya terjebak pada sesuatu yang sifatnya artefak hanya tampak dari luar seperti membangun gedung baru, mendesain ruangan yang tampak inovatif dengan warna-warna cerah dan kutipan-kutipan motivasi dari tokoh terkenal, atau mengadakan kegiatan-kegiatan yang sifatnya seremonial. Hal ini memang akan memberikan kesan jika pemerintah atau perusahaan sudah melakukan inovasi namun tidak mampu membuat inovasi menjadi sebuah budaya. Hal lain yang dilakukan adalah mengomunikasikan visi, misi atau program melalui ceramah, kampanye, membuat spanduk dan baliho dengan harapan masyarakat dapat memahami dan mengimplementasikan maksud dan tujuan visi, misi, dan program yang disampaikan. Cara ini memang memang akan membuka pola pikir seseorang tapi tidak mengubah perilaku seseorang.  Untuk membuat inovasi menjadi sebuah budaya kita perlu masuk lebih jauh ke dalam asumsi. Asumsi mampu mengubah seorang pemimpin yang cenderung mencari aman menjadi lebih agile dan adaptif terhadap perubahan atau mendorong seseorang yang sebelumnya hanya mencari aman menjadi lebih berani mengambil risiko.

Asumsi

Asumsi tidak terjadi begitu saja, asumsi terjadi melalui pengalaman-pengalaman yang didapatkan seseorang dari lingkungan eksternalnya.  Pengalaman ini secara sadar dan tidak sadar akhirnya menentukan perilaku seseorang dalam mengambil keputusan tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Dalam konteks membangun budaya inovasi penting untuk fokus pada memberikan pengalaman-pengalaman inovasi seperti adaptasi terhadap perubahan, kolaboratif, dan kreatif. Pengalaman-pengalaman diberikan secara spesifik dan konsisten yang dengan jelas mengomunikasikan pentingnya inovasi. Pengalaman yang diberikan secara spesifik dan konsisten akan membentuk asumsi baru terhadap inovasi. Selanjutnya asumsi ini diimplementasikan oleh seseorang menjadi perilaku dan nilai. Ketika semakin banyak orang yang memiliki nilai yang sama maka nilai-nilai tersebut akan menjadi sebuah budaya.

Pemerintah tentu mempunyai peranan yang sangat penting dalam memberikan pengalaman yang spesifik dan konsisten kepada masyarakat. Jika selama ini regulasi atau program pemerintah hanya diwujudkan melalui tindakan-tindakan seremonial seperti event, lomba, atau membangun gedung baru. Pemerintah bisa mulai membuat budaya inovasi menjadi tindakan nyata melalui pendanaan riset, mendorong hilirisasi hasil riset, mengembangkan usaha-usaha rintisan yang ada di daerah-daerah, memberikan edukasi kepada masyarakat tentang HAKI dan literasi teknologi. Hal ini jika dilakukan secara spesifik, konsisten, dan terus menerus maka akan menciptakan pertumbuhan yang kolaboratif antara pemerintah, perguruan tinggi, dan perusahaan. Hasil-hasil riset akan banyak dipakai dan diaplikasikan dalam dunia industri yang selanjutnya akan mendorong munculnya industri-industri baru di berbagai daerah. Pertumbuhan industri baru ini akan mendorong terciptanya inovasi-inovasi baru. Banyaknya inovasi baru yang dihasilkan akan meningkatkan kemampuan kompetitif Indonesia terutama dalam menggarap pasar dalam negeri yang sudah mapan dan terbuka dengan pemain-pemain baru di pasar. Akhirnya, pelaku bisnis di Indonesia bukan hanya sebagai penonton di pasar dalam negeri tapi menjadi pemain langsung yang saling berkolaborasi dan berinovasi.

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Maya Herawati
Maya Herawati Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online