NGUDARASA: Mengintip Genesis Mission, Transformasi Sains Global
Genesis Mission membuka era baru riset berbasis AI. Simak peran Google, dampaknya bagi sains global, dan peluang implementasinya di Indonesia.
Theresia Diyah Wulandari, S.Fil., M.M., Ph.D., dosen Ilmu Komunikasi FISIP UAJY, Ketua Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan UAJY.
Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni di Nusa Tenggara Timur dan dokter Siti Zahra Maghfira di Jakarta, adalah dua nama nakes yang belum lama terdengar kabar menyedihkan bahwa keduanya memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri.
Dokter Eliza Princila Utami Pakaenoni meninggal pada 26 Juni 2026 di Kupang Nusa Tenggara Timur yang diduga bunuh diri karena depresi berat akibat intimidasi secara verbal yang disampaikan oleh 3 (tiga) anggota DPRD akibat kasus pasien anak korban gigitan ular.
Sementara itu dokter Siti Zahra Maghfira bunuh diri saat dirinya masih berstatus sebagai dokter magang di RS Sentra Medika Cisalak. Depok. Dari hasil investigasi tim gabungan yang terdiri dari Inspektorat Jenderal, Direktorat Jenderal SDM Kesehatan, Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Kolegium Psikiatri serta Kepolisian, ada penyakit penyerta yang terkait dengan Kesehatan mental yang diduga menjadi penyebab utama dokter ini memutuskan bunuh diri.
Selain kedua nama itu, ada cukup banyak kasus bunuh diri yang menimpa banyak anak muda di Indonesia. Khususnya anak di usia rentan. Masih teringat kisah anak Sekolah Dasar (SD) berusia 10 tahun di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memutuskan mengakhiri hidupnya karena tidak dibelikan buku dan pena oleh ibunya. Ada juga kisah mahasiswa Universitas Udayana Timothy Anugerah Saputera yang memutuskan bunuh diri karena diduga mendapat perundungan dari teman-temannya.
Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat ada kurang lebih 120 kasus bunuh diri terjadi sepanjang periode 2023 sampai dengan 2026. Jumlah itu tercatat dilakukan oleh anak muda dengan rentang usia 11-17 tahun.
Data Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Badan Reserse Kriminal Kepolisian Republik Indonesia juga mencatat angka kasus bunuh diri terus meningkat di Indonesia sepanjang tahun. Terhitung sejak 2020 sampai dengan 2026, dalam lima tahun terakhir kenaikan kejadian bunuh diri secara nasional mencapai 60%. Bahkan data sejak November 2025 sampai dengan Februari 2026 mencatat rata-rata kasus bunuh diri terjadi hampir 100 kali setiap bulannya dengan total kejadian sebanyak 1270 kasus (ugm.ac.id, 2026).
Tentu angka ini sangat mengkhawatirkan, bahkan KPAI mengungkap bahwa Indonesia menempati urutan pertama negara di Asia Tenggara dengan kasus bunuh diri anak di 2026 ini. Beberapa faktor pemicu antara lain tekanan akademik serta tuntutan dari keluarga dan lingkungan sosial. Selain itu kasus perundungan di ruang digital dan media sosial, serta kondisi mental yang tidak terdeteksi, menjadi pemicunya.
Dari hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025-2026 dari Kementrian Kesehatan RI terhadap kurang lebih 7 juta anak di Indonesia, ditemukan gejala kecemasan dan depresi dalam jumlah yang signifikan. Hal ini menjadi perhatian khusus Kementrian Kesehatan yang akan memperluas jangkauan CKG pada Kesehatan mental anak dengan target mencapai 25juta anak, agar kondisi mental tersebut tidak menimbulkan Tindakan buruk, salah satunya bunuh diri.
Lalu, apa dan bagaimana anak-anak muda ini dengan mudah memiliki keinginan dan tindakan bunuh diri? Apa yang menjadi insipirasinya?
Sebuah penelitian ilmiah berjudul Tragedy following tragedies: Estimating the Copycat Effect of Media-covered Suicide in the Age of Digital News yang ditulis Daniel Ownby dan Wesley Routon di tahun 2020 mendeteksi adanya hubungan era tantara kasus bunuh diri selebriti dan rata-rata jumlah kasus bunuh diri di Amerika Serikat.
Fenomena itu disebut dengan istilah Werther Effect, fenomena yang dicetuskan oleh David Phillips di tahun 1970an dari nama tokoh utama bernama Werther di novel berjudul The Sorrow of Young Werther karya Johann Wolfgang von Goethe (1974). Dalam cerita novel itu dikisahkan Werther muda melakukan tindakan bunuh diri karena cintanya ditolak dan menginspirasi banyak orang muda di Amerika Serikat untuk melakukan aksi serupa setelah membaca novel tersebut. Akibatnya, novel tersebut kemudian ditarik dari peredaran karena di dalam novel terpampang tindakan konkret Werther saat melakukan bunuh diri dan ditiru banyak orang muda.
Lalu, bagaimana dengan kasus bunuh diri di Indonesia? Dari mana inspirasi itu bermunculan sehingga mencatat kasus bunuh diri mencapai angka yang mengkhawatirkan?
Penulis mendugas salah satu inspirasi Tindakan bunuh diri itu dari tayangan drama Korea (drakor). Dalam Permendikbud No.14 tahun 2019 secara tegas mengatur kriteria penggolongan usia menontin dan isi film, salah satunya dijelaskan bahwa adegan bunuh diri dilarang keras ditampilkan secara vulgar. Demikian juga Lembaga Sensor Film melakukan upaya sreeening agar tidak muncul adegan bunuh diri dalam isi film.
Namun medio April 2026, muncul film berjudul “Aku Harus Mati” yang mendapat perhatian dari Kementrian Kesehatan. Perhatian muncul karena diduga film tersebut dapat memicu (trigger) potensi peniruan tindakan bunuh diri (copycat suicide) pada kelompok rentan dan romantisisasi tindakan bunuh diri. Selain judulnya yang sangat provokatif, materi baliho yang terpasang di beberapa sudut kota di Indonesia, termasuk di Yogyakarta tepatnya di petigaan Jalan Kolombo, menunjukkan gambar menyeramkan dan sarat pesan kematian di ruang terbuka.
Aturan sangat jelas mengenai berita bunuh diri sudah diterbitkan oleh Dewan Pers melalui Peraturan No. 2 tahun 2019 mengenai Pedoman Pemberitaan terkait Tindak dan Upaya Bunuh Diri sebagai upaya pencegahan Tindakan copycat suicide dalam berita di media massa. Namun aturan lebih detail belum muncul dalam tayangan film. Banyak film dengan narasi tindakan bunuh diri masih bebas beredar lewat platform media digital.
Salah satunya adalah film drama Korea yang sangat digandrungi banyak anak muda di Indonesia. Sebut saja beberapa film drama korea (Drakor) yang di dalamnya memuat tindakan aksi bunuh diri. Castaway on the Moon yang rilis di 2009, mengisahkan Kim Seonggeun, seorang pria yang depresi karena banyak masalah, mulai dari kehilangan pekerjaan, banyak hutang, dan istrinya juga meninggalkannya. Karena sangat putus asa, Kim Seong geun mencoba melakukan aksi bunuh diri dengan melompat ke Sungai Han, yang justru membuat dia terdampar di Pulau Bamseom di tengah kota Seoul. Film ini beredar ramai melalui kanal layanan streaming lengkap dengan subtitle Bahasa Indonesia.
Ada lagi film Another Way yang rilis di tahun 2017, mengisahkan dua anak muda bernama Soo-wan dan Jung-won yang putus asa karena menghadapi masalah keluarga, sehingga membuat perjanjian bunuh diri bersama setelah keduanya bertemu dan berkenalan di sebuah warnet. Gambaran Tindakan bunuh diri juga dipaparkan drakor berjudul Next Sohee yang rilis tahun 2023. Film ini berkisah tentang seorang siswi SMK yang melakukan Tindakan bunuh diri karena tekanan kerja di Perusahaan tempat dia magang. Di tahun 2022, serial drama Tomorrow rilis dan mengisahkan tentang kisah bunuh diri, meskipun berlatar belakang cerita sekelompok malaikat maut yang bekerja sebagai tim khusus untuk mencegah manusia melakukan tindakan bunuh diri.
Beberapa film drakor mengenai bunuh diri juga muncul dalam kemasan berbeda, meski masih seputar tindakan bunuh diri. Ketika alur cerita seakan mengisahkan tentang upaya pencegahan bunuh diri, namun paparan kisah tentang aksi tindakan bunuh diri masih menjadi bagian dari glorifikasi aksi bunuh diri.Tindakan bunuh diri digambarkan seakan romantis, heroik, bahkan tindakan itu dianggap wajar ketika si pelaku sedang dalam kondisi mental yang kurang baik.
Di Korea Selatan, paparan berita mengenai tindakan bunuh diri selebriti meningkatkan rata-rata 16,4% tindakan copycat suicide dalam satu hari setelah tayangan berita muncul di media massa. Disimpulkan bahwa kematian figur publik seperti Jonghyun, Sulli, dan Hara Gu dikaitkan dengan kenaikan tingkat bunuh diri sampai dengan 1,28 kali lipat, dengan metode bunuh diri yang serupa.
Menurut Audrey Roberson dalam buku Dueling Discourse: Crime and Public Health in News Coverage of Suicide (2020), paparan informasi maupun tayangan media massa dalam bentuk apapun mengenai tindakan bunuh diri seharusnya memiliki 2 (dua) sudut pandang wacana yang ditampilkan. Dua wacana itu yaitu wacana kriminal (criminal discourse) dan wacana kesehatan masyarakat (public health discourse).
Artinya, narasi yang ditampilkan seharusnya mengarah keseimbangan dua wacana, antara paparan kisah mengenai tindakan kriminalnya, namun juga wacana dari sudut pandang mitigasi tindakan. buku Media and Suicide: International Perspectives on Research, Theory, and Policy (Niederkrotenthaler & Stack, 2017) menggambarkan tayangan bunuh diri idealnya tidak perlu sensasional, diulang-ulang, memaparkan narasi kejadian secara detail, apalagi memaparkan sisi eksposur pelaku bunuh duru secara berlebihan terkait profil dan cerita hidupnya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memiliki panduan bagi pembuat film dan media berjudul Preventing Suicide: A Resource for Filmmakers and Others Working on Stage and Screen untuk mencegah efek peniruan tindakan bunuh diri. Misalnya saja tidak menampilkan visual dan adegan Tindakan bunuh diri secara gamblang dan detail, tidak menampilkan metode bunuh diri, tidak mendramatisir dan menormalisasi tindakan bunuh diri, apalagi meromantisasi.
Maka hal ini seharusnya sudah menjadi pedoman bagi Lembaga Sensor Film untuk mencermati tayangan-tayangan film Korea yang menampilkan cerita bunuh diri yang dapat mengispirasi.
Harapannya pengawasan yang ketat ini akan menekan tindakan copycat suicide bagi kalangan anak muda yang notabene menggemari film drakor. Sebaliknya, film-film yang beredar di layar kaca anak muda Indonesia sedapat mungkin adalah tayangan-tayangan dengan narasi yang berfokus pada harapan dan pemulihan kondisi mental (Papageno effect) sehingga dapat dapat menurunkan ide melakukan aksi bunuh diri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Genesis Mission membuka era baru riset berbasis AI. Simak peran Google, dampaknya bagi sains global, dan peluang implementasinya di Indonesia.
Spider-Man: Brand New Day raih 3,1 juta penonton di pekan pertama. Rekor baru di 2026! Tom Holland, Zendaya, Mark Ruffalo bintangi.
Susunan pemain Timnas Indonesia vs Vietnam di Piala AFF 2026. Mitchell Baker, Ragnar Oratmangoen, dan Thom Haye kembali jadi andalan.
Stok MacBook Air menipis akibat krisis chip memori global. Pembelian online harus tunggu hingga September. Apple cari pemasok chip baru.
Inggris terancam resesi 2027 jika Selat Hormuz tertutup. Inflasi bisa tembus 6,4%, pertumbuhan minus 0,2%. Simak skenario lengkap EY.
Jadwal Korea Masters 2026 berlangsung 4-9 Agustus di Korea Selatan. Indonesia memutuskan tidak mengirim wakil demi fokus persiapan Kejuaraan Dunia BWF 2026.