OPINI: Tantangan & Solusi Pengangguran Sarjana

Tenaga kerja Indonesia - JIBI/Bisnis Indonesia/Rachman
04 Januari 2019 07:25 WIB Jony Oktavian Haryanto Aspirasi Share :

Dalam sebuah acara diskusi pada akhir November 2018 lalu di Jakarta, salah satu calon presiden Republik Indonesia 2019–2024 pernah mengungkapkan sebuah pernyataan keprihatinan terhadap paradoks di Indonesia yang memiliki jumlah kekayaan berlimpah, tetapi juga diikuti jumlah pengangguran yang besar.

Salah satu penyumbang pengangguran disebutkan juga berasal dari kalangan sarjana. Perlu diketahui, berdasarkan Berita Resmi Statistik No. 92/11/Th. XXI, 5 November 2018 Badan Pusat Statistik, hingga Agustus 2018 ada sebanyak 124,01 juta penduduk bekerja dan 7 juta penduduk tidak bekerja alias menganggur.

Masih dari sumber yang sama disebutkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka hingga Agustus 2018 jika dilihat dari tingkat pendidikan, mayoritas disumbang oleh tamatan SMA/SMK yaitu 19,19%, Diploma (D1, D2, D3) 6,02%, dan kalangan sarjana 5,89%.

Besarnya jumlah sarjana menganggur tentunya menjadi fenomena memprihatinkan. Seorang sarjana seharusnya lebih mudah mendapatkan pekerjaan, karena hampir semua bidang pekerjaan sekarang mensyaratkan gelar sarjana.

Seorang sarjana seharusnya mudah bekerja, karena lebih mampu berpikir kritis dan menguasai aspek teknis setelah belajar mata kuliah sebanyak 144 SKS. Dalam 1 SKS terdiri dari: 1 jam tatap muka, 1 jam tugas terstruktur dan 1 jam tugas mandiri atau total keseluruhan pembelajaran adalah 3 jam per SKS.

Apabila dihitung 144 SKS maka sarjana tersebut minimal telah belajar selama 432 jam ekstra pelajaran formal dibandingkan non sarjana. Lantas dimana letak salahnya hingga masih terjadi sarjana menganggur?

Pertanyaan ini telah mengganggu para pemerhati pendidikan dan sejumlah penelitian telah dilakukan. Yurchenko (2018) menemukan bahwa kesalahan adalah di sistem dan model ekonomi. Saat ini ekonomi dikontrol oleh perusahaan-perusahaan besar dan merekalah yang memiliki uang, membutuhkan karyawan dan menentukan apakah akan merekrut karyawan atau tidak.

Untuk itu, para sarjana tersebut harusnya mengetahui persyaratan yang dibutuhkan dan diinginkan perusahaan tersebut. Kerap terjadi bahwa perusahaan membutuhkan tenaga kerja dengan kualifikasi tertentu, misalnya X, tetapi yang datang adalah pelamar dengan kemampuan lainnya, sebut saja Y. Gap ini yang seharusnya diisi oleh perguruan tinggi melalui kurikulum dan sistem pembelajarannya.

Pertanyaan berikut, apa sebenarnya yang menjadi kebutuhan perusahaan yang ingin merekrut lulusan perguruan inggi?

Berdasarkan survei dan Focused Group Discussion kepada berbagai perusahaan yang sering dilaksanakan President University diperoleh jawaban yang mengerucut kepada tiga hal utama, yaitu: pengalaman kerja, kemampuan bahasa Inggris, dan penampilan.

Jika yang dibutuhkan adalah pengalaman kerja, perlu bagi perguruan tinggi untuk menyiapkan lulusannya melalui program magang kerja. Prinsipnya, semakin lama magang kerja sebelum lulus, akan makin optimal hasil pengalaman kerja yang diperoleh. Memang banyak perguruan tinggi yang menerapkan program magang.

Lebih dari Setahun

Namun umumnya magang hanya dalam rentang waktu berkisar 4 bulan yang notabene masih sangat kurang dalam menimba pengalaman kerja. Jika memungkinkan, idealnya program magang dibuat 8-12 bulan atau bahkan lebih.

Program magang akan membuat mahasiswa paham dengan dunia kerja yang berbeda dengan dunia teori. Tak cuma itu, melalui magang mahasiswa dapat melengkapi teori yang dipelajari di kelas dengan kemampuan teknis dan praktis di lapangan. Magang bahkan juga bermanfaat bagi mahasiswa agar tidak canggung ketika bertemu dengan orang lain serta mulai memahami sistem perusahaan.

Pengalaman di President University, 90% lebih lulusannya mendapatkan pekerjaan dalam rentang waktu 0-6 bulan setelah wisuda berkat mengikuti program magang. Sebagian besar mahasiswa yang mengikuti magang akan diterima atau dipekerjakan oleh perusahaaan tempat dia magang.

Hal berikutnya adalah kemampuan bahasa Inggris dan bahasa asing lainnya. Dengan bumi yang tidak lagi bulat melainkan datar (Friedman, 2006), kemampuan bahasa asing, terutama bahasa Inggris sebagai bahasa internasional, adalah suatu keharusan.

Bagaimana mungkin para lulusan kita bersaing dengan tenaga kerja dari Thailand, Filipina, Malaysia, dan lainnya jika bahasa Inggris masih menjadi kendala? Pelajaran bahasa Inggris memang telah diajarkan di semua perguruan tinggi, tapi kefasihan dalam berbicara dan menulis bahasa Inggris masih jarang sekali ditemukan dalam lulusan perguruan tinggi dari Indonesia.

Bandingkan dengan lulusan Filipina dan Malaysia yang notabene memiliki rata-rata kemampuan bahasa Inggris yang lebih dari lulusan Indonesia.

Untuk itu, UU No. 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi, yang di dalamnya mensyaratkan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar wajib di perkuliahan, patut ditinjau ulang. Pastinya menjadi semakin baik apabila bahasa Inggris dapat menjadi bahasa pengantar wajib dalam perkuliahan.

Bayangkan betapa besar devisa negara yang harus keluar ketika banyak lulusan SMA atau bahkan SMP yang sekolah di luar negeri, karena menginginkan fasih berbahasa Inggris.

Kemampuan menggunakan bahasa asing adalah karena faktor kebiasaan, bukan karena pembelajaraan semata. Dalam perkuliahan di perguruan tinggi, pelajaran bahasa Inggris 1 dan bahasa Inggris 2 yang besarnya sekitar 6 SKS menjadi sangat kurang bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mahasiswa.

Bahkan karena menerima metode pelajaran yang usang, tak jarang mahasiswa justru belajar sendiri melalui Youtube atau Google yang lebih menarik dan lengkap.

Faktor utama ketiga adalah penampilan yang juga harus dibiasakan dari sejak masa perkuliahan. Bayangkan apabila Anda adalah seorang pimpinan perusahaan. Bersediakah Anda merekrut calon tenaga kerja yang banyak tato di tubuhnya, rambut gondrong tidak rapi atau memakai perhiasan yang berlebihan? Jawabannya tentu tidak.

Oleh karena itu kampus tidak hanya memberikan hard skills berupa pelajaran-pelajaran dalam kurikulumnya, tapi juga perlu soft skills melalui penampilan yang bersih, rapi, mempunyai tutur kata yang baik, kemampuan menulis lamaran dan presentasi yang memadai, serta soft skills lainnya.

World Economic Forum dalam laporannya menuliskan bahwa tiga faktor utama soft skills yang dibutuhkan tenaga kerja untuk bertahan di tahun 2020 adalah kemampuan menyelesaikan masalah secara menyeluruh, cara pikir yang kreatif, dan kreatifitas. Ketiganya adalah soft skills yang masih jarang diajarkan di perguruan tinggi di Indonesia.

Tak heran, jika banyak perguruan tinggi kemudian mendapat ‘predikat’ hanya sebagai lembaga percetakan gelar sarjana, yaitu perguruan tinggi yang terus melakukan wisuda setiap tahunnya dan menambah jumlah pengangguran sarjana.

Jika perguruan tinggi kita menekankan ketiga hal kebutuhan utama bagi perusahaan dan ketiga soft skills diatas, saya yakin jumlah pengangguran sarjana akan terus menurun dan bahkan akan menciptakan generasi unggul seperti cita-cita pendiri bangsa.

*Penulis adalah Rektor President University.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia