OPINI: Peluang dan Ancaman Revolusi Industri 4.0

Siluet tangan seorang pria memegang ponsel di depan logo Telegram. - Bloomberg
08 Januari 2019 07:25 WIB Dibyo Sumantri Priambodo Aspirasi Share :

Waktu terus bergulir dan musim berganti. Sejarah mencatat Revolusi Industri 0.1  tahun 1784 ditandai penggunaan mesin uap pada industri. Kemudian Revolusi Industri 2.0 mulai menggunakan mesin produksi massal berbasis listrik atau BBM.

Tahun 1969, Revolusi Industri 3.0 mengawali teknologi informasi dan mesin otomasi. Disusul 2011, Revolusi Industri 4.0  mengutamakan mesin yang terintegrasi oleh jaringan internet, lazim disebut internet of things.

Lima sektor diutamakan dalam Revolusi Industri 4.0 yaitu elektronika, otomotif, tekstil dan pakaian, kimia, serta industri makanan dan minuman. Penerapan untuk industri manufaktur tidak lain untuk menggenjot produktivitas dan efisiensi pelaku usaha bisnis dan industri.

Implementasi di Indonesia

Hasil riset Mc Kinsey, Bappenas dan Kementerian Perindustrian menyatakan  Revolusi Industri 4.0 berdampak positif seperti peningkatan produk domestik bruto (PDB) 1%-2% dari baseline 2018-2030. Penciptaan lapangan kerja diharapkan sampai 10 juta di tahun 2030, sedangkan kontribusi PDB manufaktur diprediksi >25%

Pemilihan sektor elektronika, otomotif, tekstil dan pakaian, kimia serta industri makanan dan minuman bukannya tanpa perhitungan. Karena diprediksi berkontribusi terhadap PDB sekitar 60%. Untuk total ekspor manufaktur mencapai 65% dan 60% terhadap total tenaga kerja bidang manufaktur.

Pemerintah berupaya menerapkan Revolusi Industri 4.0  dengan peluncuran peta jalan industri untuk memasuki era digital, Making Indonesia 4.0 pada 4 April 2018. Kemudian Menteri Perindustrian melakukan studi banding ke Jerman, lantaran Jerman adalah negara pertama yang membuat peta jalan penerapan ekonomi digital.

Dari studi banding tersebut disepakati pemerintah Indonesia dengan lembaga riset  The Fraunhofer Institute for Production System and Design Technology menjalin program kolaborasi menghadapi Revolusi Industri 4.0. Beberapa bulan kemudian untuk mempertajam perencanaan, Kementerian Perindustrian menyelenggarakan Workshop Cloud Computing untuk mendorong para pelaku usaha mengembangkan rintisan digital di dalam negeri.

Quantum Leap

Sebagai bangsa berdaulat, Indonesia tidak ingin ketinggalan dengan negara lain. Lompatan besar dalam pertumbuhan dan perkembangan industri adalah menerapkan Revolisi Industri 4.0. Kendati biasanya revolusi akan mengorbankan orang yang tidak siap mengantisipasi perubahan.

Sekedar ilustrasi, Revolusi Industri 4.0 tidak terlepas dari peranan “big data” yang dikombinasikan business intelligent. Kondisi tersebut mengakibatkan penyajian informasi bisa dilakukan  real time”, dan komprehensif. Satu lagi,  yaitu semua data penting dapat dieksplorasi.

Revolusi Industri 4.0 juga tidak terlepas dari fungsi artificial intelligence. Konsekuensinya business process management pada suatu perusahaan akan berjalan bagaikan “autopilot”, kendati pun pada momen tertentu diperlukan pemantauan oleh pakar yang berkompeten.

Satu hal lagi, dalam Revolusi Industri 4.0 semua informasi dapat didesain personal untuk kepentingan pengambil kebijakan melalui koneksi smartphone, tablet maupun notebook.

Dalam konteks tersebut, performance business analytics yang awalnya  dilakukan manual oleh profesional, dalam Revolosi Industri 4.0 ke depannya akan tergantikan oleh program teknologi informasi, sehingga mengurangi peluang profesional mengekspresikan dirinya.

Secara tidak langsung kondisi tersebut merupakan “ancaman”  yang patut diantisipasi pemerintah dan manajemen perusahaan, agar tidak timbul masalah dalam ketenagakerjaan.

Jalan Keluar

Kini Revolusi Industri 4.0 telah mulai dengan segala konsekuensinya. Hal positif untuk jangka panjang dalam bisnis dan industrialisasi, adalah semua transaksi yang tercatat dalam buku besar atau ledger virtual akan bisa di “trace” sehingga akuntabilitas organisasi bisa dipertanggungjawabkan, dan proses audit seperti dilakukan saat ini, tidak diperlukan lagi.

Namun dari sudut lain, kualitas sumber daya manusia dan ketenagakerjaan harus  menyesuaikan kompetensi. Tenaga kerja ditantang lebih memahami business process design dalam pola Revolusi Industri 4.0, sehingga dengan sendirinya menguasai process chain perusahaan. Salah satunya adalah penguasaan enterprise resources planning.

Profesi apa pun perlu meningkatkan knowledge, skill dan profesionalitas untuk mengiringi kemajuan teknologi informasi sebagaimana dipersyaratkan dalam Revolusi Industri 4.0.

*Penulis adalah  psikolog,  mantan Finance & HRD Director Krakatau Steel Group.