OPINI: Investasi Bertanggung Jawab Sosial: Pikiran Tenang, Hati Ikut Senang

Ilustrasi investasi. - Bisnis Indonesia
04 April 2019 08:07 WIB Tegar Satya Putra Aspirasi Share :

Konsep Investasi Bertanggung Jawab Sosial (Socially Responsible Investment) atau biasa disingkat SRI merupakan topik yang diperbincangkan baik oleh ahli keuangan maupun investor pada umumya di berbagai negara. Apas ebenarnya SRI? Guna membahas hal ini, kita perlu mengetahui perkembangan konsep investasi konvensional yang berkembang di masa sekarang ini.

Perkembangan Konsep Investasi
Apa yang kita pikirkan saat kita mendengar kata “investasi”? Apakah di benak anda muncul kata seperti keuntungan/imbal hasil (return) atau risiko? Secara umum investasi memang berkaitan dengan kedua hal tersebut, namun seiring berjalannya waktu investasi menjadi konsep yang lebih luas dari hanya sekedar imbal hasil dan risiko.

Investasi merupakan suatu bentuk dukungan terhadap perkembangan suatu perusahaan atau perorangan, yang berarti pada saat kita memberikan uang yang kita punya untuk diinvestasikan pada suatu perusahaan, yang salah satu caranya bisa diakukan dengan cara membeli saham perusahaan tesebut, secara tidak langsung kita memberikan dukungan terhadap nilai-nilai yang dianut perusahaan tersebut. Perkembangan konsep investasi ini melahirkan konsep investasi yang disebut sebagai investasi yang bertanggung jawab sosial (Socially Responsible Investment) atau sering disingkat SRI.

Apa Itu SRI?
Socially Responsible Investment (SRI) adalah investasi yang memperhatikan faktor-faktor non-keuangan dalam memilih opsi investasi yang tersedia. Faktor non-keuangan yang diperhatikan disebut sebagai factor ESG. ESG sendiri adalah singkatan dari Environment (lingkungan), Social (sosial) dan Governance (tata kelola). Penerapan faktor ESG dalam investasi berarti kita harus memastikan tiga hal tersebut sesuai dengan calon perusahaan (emiten) yang akan menerima dana yang kita investasikan.

Berikut adalah penjabaran dari tiga faktor ESG: 1) Bisnis inti perusahaan bukan merupakan dalam kategori bisnis pestisida, nuklir, senjata, tembakau, alkohol, pornografi, perjudian, dangenetically modified organism (GMO). GMO adalah pemodifikasian gen hewan untuk mendapatkan karakteristik yang diinginkan; 2) Aktivitas perusahaan harus mumpuni dalam berbagai aspek seperti tata kelola 11 perusahaan, keterlibatan masyarakat, perilaku berbisnis yang wajar dan beretika, dan 3) Pengelolaan sumber daya manusia yang memperhatikan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam pelaksanaannya.

Perkembangan SRI di Berbagai Negara
Investasi SRI di negara-negara maju dilakukan dengan cara membeli reksadana tipe SRI. Reksa dana tipe ini dikelola oleh manajer dana (fund manager) yang memastikan bahwa dana diinvestasikan padaperusahaan yang sesuai dengan faktor ESG.

Nilai dana yang diinvestasikan dalam reksadana jenis ini terus bertambah besar dari tahun-ketahun di berbagai negara seperti Inggris, Belanda, dan bahkan Amerika Serikat yang merupakan negara yang dianggap sangat kapitalis. Dana yang diinvestasikan di reksadana SRI di Amerika Serikat telah mencapai US$175 miliar pada 2005. Nilai tersebut lebih besar 15 kali lipat jika dibandingkan dengan nilai investasi SRI di Amerika Serikat pada 1995.

SRI di Indonesia
Di Indonesia, penerapan konsep SRI belum semaju seperti di negara-negara barat (misal: Amerika serikat, Inggris), namun Indonesia telah mempunyai indeks saham khusus untuk saham-sahamyang tercatat di pasar modal yang digolongkan sebagai SRI. Indeks ini disebut sebagai indeks SRI Kehati. Indeks SRI Kehati tercipta dari kerja sama antara Bursa Efek Indonesia dengan Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia. Indeks ini diperkenalkan pada tahun 2009. Indeks SRI Kehati terdiri dari 25 perusahaan yang terdaftar di bursa efek Indonesia dan telah memenuhi kriteria-kriteria keuangan dan juga criteria ESG. Daftar perusahaan yang masuk ke Indeks SRI Kehati disesuaikan setiap enam bulan sekali.

Perdebatan Mengenai SRI
SRI menimbulkan perdebatan di kalangan ahli dan juga praktisi investasi. Pihak yang kontra dengan konsep SRI menganggap bahwa praktik investasi SRI hanya akan membuat investasi hanya menghasilkan keuntungan yang kurang optimal. Hal ini disebabkan karena pada saat kita memilah opsi investasi dengan faktor ESG, ada kemungkinan kita mengeleminasi opsi investasi yang bagus karena opsi investasi tersebut tidak memenuhi faktor ESG.

Sementara itu pihak yang mendukung konsep SRI berpendapat bahwa penerapan konsep ESG pada saat seseorang berinvestasi sebenarnya menjamin keberlanjutan investasi yang mereka lakukan. Hal ini juga sudah dibuktikan oleh berbagai peneltiian di bidang manajemen dan investasi keuangan. Di bidang manajemen keuangan, banyak penelitian menunjukan bahwa perusahaan yang bertanggung jawab social mempunyai performa yang lebih bagus dibandingkan perusahaan yang kurang bertanggung jawab sosial. Temuan tersebut juga didukung dengan temuan di penelitian investasi keuangan yang menunjukan bahwa investasi SRI lebih menguntungkan dibanding investasi konvensional, walau temuan ini masih harus diuji lebih lanjut.

Bagaimana SRI di Indonesia?
Walau tipe reksa dana SRI belum ditawarkan di Indonesia, namun investor di Indonesia tetap bias menginvetasikan uangnya secara bertanggung jawab pada aspek sosial. Hal ini dapat dilakukan dengan membeli reksa dana tipe syariah. Selain membeli reksadana syariah, atau memilah secara mandiri emiten yang menjalan kan bisnisnya dengan menjunjung tinggi konsep pertanggungjawaban sosial.

Pemilahan secara mandiri memang memerlukan usaha dan waktu lebih, namun anggaplah itu sebagai waktu yang memang dibutuhkan untuk memilih pilihan investasi mana yang sesuai dengan nilai-nilai ESG untuk kesejahteraan anda dan juga banyak orang.Akhir kata, apakah anda siap untuk berinvestasi dengan memperhatikan aspek tanggung jawab sosial? Memang dibutuhkan usaha lebih untuk berinvestasi SRI, namun ingatlah peribahasa berikut “Apa yang kamu tabor itulah yang akan kamu tuai.”

*Penulis merupakan dosen Prodi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta