OPINI: Ramadan, Membangun Pendidikan dalam Keluarga

Ilustrasi. - Espos/M. Ferri Setiawan
14 Mei 2019 06:07 WIB Dyah Pikanthi Diwanti Hikmah Ramadan Share :

Ramadan, bulan suci yang dinanti umat Muslim di dunia menjadi suatu momen yang membahagiakan dan memuliakan. Ruang kebersamaan semakin terasa manakala nuansa yang terbangun dalam rutinitas ibadah seperti berbuka dan sahur bersama, sholat tarawih berjamaah, tadarus, pengajian dan kegiatan ibadah lainnya dikuatkan dalam bingkai bernama keluarga. Keluarga menjadi institusi pertama dan utama dari terbangunnya suatu masyarakat dan negara.

Pembelajaran/ pendidikan dalam keluarga secara luas bermakna proses untuk mengembangkan potensi pada diri individu yang meliputi 3 aspek kehidupan yakni pandangan hidup, sikap hidup dan ketrampilan hidup. Pandangan hidup merupakan penimbang yang dijadikan pedoman, arahan maupun petunjuk. Sikap hidup merupakan suatu keadaan dalam menghadapi kehidupan dan yang terbaik adalah sikap positif. Sedangkan ketrampilan hidup merupakan kemampuan untuk dapat berperilaku/beradaptasi terhadap lingkungan sekitar. Semua aspek tersebut dimulai dari keluarga. Dari keluarga suatu nilai-nilai dasar seperti budi pekerti-spiritualitas terbangun.

Mengedepankan pendidikan dalam keluarga akan menjadi refleksi bersama khususnya dalam bulan Ramadan. Pendidikan sendiri dimaknai sebagai ilmu pengetahuan Islam sebagai rahmatan lil alamin memberi perhatian lebih terhadap hal ini. Bahkan disebutkan dalam QS Al Mujadallah ayat 11 bahwa Islam menempatkan orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan pada derajat yang lebih tinggi. Ini menunjukan segala aspek kehidupan termasuk masalah pendidikan merujuk pada ajaran agama.

Gilbert Highest dalam bukunya seni mendidik menyatakan kebiasaan yang dimiliki anak (generasi) sebagian besar terbentuk oleh pendidikan dalam keluarga. Untuk inilah momen Ramadan sebagai bulan penuh keberkahan mendorong setiap diri khususnya orang tua untuk menempa kembali proses pendidikan dalam keluarga. Pembelajaran adalah suatu proses yang dibiasakan dan berkelanjutan. Ramadan adalah suatu momen penting dalam membangun pola pembelajaran dalam keluarga. Dari mulai membangun nilai sampai upaya adanya internalisasi nilai yang akan terus diyakini dan dilaksanakan seterusnya.

Setiap generasi memiliki zaman/masanya sendiri seperti yang dijelaskan dalam hadist Nabi Muhammad SAW ‘ Didiklah anak-anakmu sebab mereka dilahirkan untuk hidup dalam suatu zaman yang berbeda dengan zamanmu” (HR Buhkari Muslim). Sehingga perlu pembenahan dan penyiapan generasi ke depan untuk lebih baik dari generasi masa lalu. Bulan Ramadan adalah momen baik untuk evaluasi dalam membenahi dan menyiapkan generasi dengan kebaikan dan kebahagiaan.

Dalam Ramadan penggodogan IMTAQ (Iman&Taqwa) menyeimbangkan asupan ilmu-ilmu lain yang dipelajari di luar momen Ramadan. Bagaimana tidak, dalam Ramadan selama satu bulan penuh peningkatan kualitas diri ditempa dan diuji. Melalui puasa mengajarkan kita untuk mengendalikan diri, belajar sabar, peduli pada sesama, rajin dalam beribadah dan melakukan aktivitas positif lain. Mendidik karakter individu untuk menata persaudaraan-silaturahmi-merekatkan yang jauh dan mendekatkan pada kebaikan. Melalui Ramadan mendidik generasi memiliki kepekaan individu maupun sosial secara langsung dalam laboratorium kehidupan dengan bingkai sekolah kehidupan yang mengajarkan tentang nilai pekerti dan sosial. Dimulai dari institusi terkecil bernama keluarga untuk selanjutnya tercipta lebih luas dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Untuk itulah peran sentral orang tua dalam Ramadan menjadi kunci dengan inkulkasi nilai/penanaman nilai bukan indoktrinasi yang sering dilakukan dalam praktiknya. Orang tua dan anggota keluarga terdekat mampu berkolaborasi dalam penanaman nilai bagi generasi. Harapannya dalam momen Ramadan, menjadikan generasi bangsa untuk mampu melejitkan potensi atau willpower yang dimiliki melalui proses pembelajaran yang dimulai dari institusi bernama keluarga.

Untuk itulah, keluarga sebagai institusi pendidikan yang pertama dan utama diharapkan melakukan proses sosialisasi ajaran Islam dan Ramadan menjadi momen untuk menguatkan dan membenahi dalam proses transfer nilai baik kasih sayang maupun kebersamaan yang tercipta selama bulan suci ini.

*Penulis merupakan dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta/Mahasiswa Program Doktoral Universitas Airlangga Surabaya