OPINI: Cintailah (Dunia) Sewajarnya

Ilustrasi ibadah salat. - Harian Jogja/Desi Suryanto
24 Mei 2019 06:02 WIB Miftahulhaq Hikmah Ramadan Share :

Kecintaan seseorang terhadap lawan jenis, kekasih, kelompok, harta benda, jabatan dan lain sebagainya merupakan fitrah bagi setiap manusia. Allah menegaskan bahwa manusia pada hakekatnya adalah makhluk Allah yang memiliki kecintaan terhadap segala yang diharapkan, baik terhadap lawan jenis, harta benda, ataupun kepentingan kehidupan lainnya (Q.S. Ali Imran/3: 14). Keberadaan harta, anak, jabatan dan kenikmatan duniawi adalah ujian bagi setiap manusia beriman yang harus disikapi secara tepat sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya (Q.S. Al-Anfaal/8: 28).

Rasa cinta itulah yang mendorong seseorang untuk berusaha semaksimal mungkin untuk meraihnya. Berbagai daya dan upaya pastilah akan dilakukan agar dapat mendapatkannya sebanyak mungkin. Bahkan, bila hawa nafsu telah menjadi tuhannya, maka segala cara akan ditempuh, tanpa memperdulikan norma dan nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Baginya, seolah pilihan dan keinginannya adalah segalanya. Siapa pun yang menghalangi, maka akan dilawannya, walau nyawa menjadi taruhannya.

Rasa cinta yang utama sejatinya hanya ditunjukkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Cinta kepada Allah dan Rasulullah adalah wujud keimanan. Kecintaan seorang hamba kepada Allah SWT akan mengantarkannya pada sikap penghambaan yang totalitas. Siapa saja yang mampu mencintai Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuhnya, melebihi cintanya kepada selain keduanya, maka dia akan merasakan lezatnya iman. Sebagaimana diriwayat sahabat Anas r.a, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tiga hal, barangsiapa memilikinya maka ia akan merasakan manisnya iman. (yaitu) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih dicintai dari selainnya, mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan benci kembali kepada kekufuran sebagaimana bencinya ia jika dilempar ke dalam api neraka.” (H.R. Bukhari Muslim)

Berbeda dengan cinta seseorang pada selain Allah dan Rasul, seseorang harus mampu mencintainya sekedarnya saja. Cinta kepada suami, isteri, kekasih, anak, harta, jabatan, tokoh, organisasi, dan lain sebagainya jangan sampai menjadikan seseorang pada belenggu penghambaan diri. Sahabat Ali bin Abi Thalib memberikan nasehat, “Cintailah orang yang engkau kasihi sekedarnya saja karena boleh jadi kelak engkau akan membencinya. Bencilah orang yang engkau benci juga sekedarnya saja karena boleh jadi kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai”.

Nasihat Ali bin Abi Thalib ini mengandung maksud agar seseorang jangan berlebihan dalam mencintai dan membenci. Boleh jadi kecintaan itu berubah menjadi kebencian. Sebaliknya boleh jadi juga kebencian berubah menjadi kecintaan. Rasa cinta yang berlebihan tidak mustahil akan melahirkan kesedihan dan kesengsaraan di kemudian hari. Begitu pula, rasa benci yang berlebihan tidak mustahil akan menjadikan seseorang merasa malu karenanya di kemudian hari. Mencintai sewajarnya juga akan menghindarkan seseorang pada kesulitan diri, karena terbebas dari belenggu ketergantungan pada orang, kelompok, atau benda apapun. Ia pun akan bebas berekspresi dan mengeksplorasi berbagai potensi yang dimilikinya, serta merdeka dari tekanan dan intimidasi siapa dan apapun.

Lantas, bagaimana cara menjaga kecintaan agar tidak berlebihan?. Umar bin Khattab r.a. memberikan nasehat: “Janganlah kecintaanmu menjadi beban dan janganlah kebencianmu menjadi kerusakan/kerugian”. Nasehat Umar r.a. ini mengajarkan bahwa apabila seseorang mencintai orang lain, maka janganlah dia tidak terlalu menyibukkan hatinya atas orang itu, sehingga kecintaan itu menjadi berat dan beban baginya. Demikian pula, ketika dia harus membenci sebagian perbuatan buruk seseorang, maka janganlah kebencian itu mencapai tingkat kebencian buta yang membutakan penilaiannya, sehingga melahirkan angan-angan kehancuran dan kesengsaraan untuknya. Oleh karena itu, seseorang harus menjaga hatinya, agar mencintai apapun dan siapapun (selain Allah dan Rasul-Nya) pertengahan atau sewajarnya saja. Wallahu A’lam.

*Penulis merupakan dosen AIK FKIK Universitas Muhammadiyah Yogyakarta