OPINI: Akselerasi Kualitas Keimanan dan Ketakwaan untuk Mencapai Idulfitri

ilustrasi. - Reuters/Ina Fassbender
03 Juni 2019 07:07 WIB sutrisno Hikmah Ramadan Share :

Iman didefinisikan sebagai sebuah tindakan membenarkan dengan hati sesuai keyakinan yang dimiliki dalam hal ini adalah ajaran yang dibawa oleh Muhammad SAW. Mengikrarkan dengan lisan apa yang sudah diyakini dengan melafalkan dua kalimah syahadat (syahadatain) dan mengamalkan dengan perbuatan atau tindakan dalam bentuk ibadah-ibadah sesuai dengan tuntunan Rasulullah melalui sunahnya.

Tingkatan iman menurut imam Al-Ghazali dibagi menjadi empat, imanul abidin imannya para ahli ibadah karena mengharap surga dan takut neraka, imanul muhibbin iman karena rasa cinta meskipun merasa putus asa ketika yang diinginkan dari Allah tidak segera didapatkannya, imanul mukhlisin iman seseorang yang ikhlas, dan imanul arifin iman yang arif dan bijaksana beribadah hanya mengharap rida Allah semata.

Beberapa percepatan (akselerasi) ibadah untuk meningkatkan keimanan yang dapat dilakukan pada bulan Ramadan di antaranya, mengapai kemuliaan pada malam lailatul qodar (kebaikan 1.000 bulan) menemukan keberkahan pada bulan Ramadhan syahrul mubarak, mendapatkan ampunan dari Allah, mendapatkan kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa sebulan penuh dan mengakhiri dengan hari raya Idulfitri.

Secara terminologi Idulfitri diartikan sebagai hari raya yang datang berulang kali setiap tanggal 1 Syawal yang menandai puasa telah selesai dan kembali diperbolehkan makan minum di siang hari. Kata idul fithri juga berarti kembali ke fitrah, yakni ‘asal kejadian’, atau ‘kesucian’, atau ‘agama yang benar’. Makna lain dari kata idul fitri disebut juga sebagai hari kemenangan karena pada hari itu seluruh kaum muslimin dan muslimat telah menuntaskan kewajiban yang cukup berat menahan hawa nafsu menunaikan ibadah puasa selama bulan Ramadan.

Kemuliaan Manusia
Di antara tanda kemenangan dan ketakwaan yang diraih dalam berpuasa adalah terkendalikan hawa nafsu, senantiasa berpikir dan berperilaku positif serta mampu membangun hubungan baik kepada dengan Allah (hablum minallah) berupa ibadah dengan sempurna dan dapat menjelma dalam kesolehan sosial (hablum minannas). Indikator lain adalah semangat mendalami agama, tadarus dan tadabbur Alquran serta menunaikan kewajiban zakat, infak dan sedekah sebagai bentuk kesolihan sosial yang dimiliki.

Setelah sebulan penuh melakukan akselerasi keimanan dengan menjalankan ibadah secara maksimal diharapkan akan mewujudkan rasa ketakwaan kepada Allah SWT. Ketaqwaan seseorang menjadi kriteria penilaian Allah terhadap kemuliaan manusia. Manusia dinilai mulia oleh Allah bukan berdasarkan bentuk fisik, kepandaian, kekayaan, asal usul, suku bangsa maupuan penilaian lainnya, melainkan ketaqwaan yang dimiliki. Sebagaiamana firman Allah dalam QS. Al Hujaraat ayat 13 yang artinya “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Kemenangan berupa ketakwaan dapat diperoleh umat muslim saat Idulfitri dengan beberapa ciri yang dimiliki diantaranya dijelaskan Allah pada QS. Ali Imran 133-135 yaitu bersegera memohon ampunan Allah atas perbuatan dosa dan meminta maaf kepada sesama manusia, senang berinfaq/sadaqah dalam keadaan lapang maupun sempit, dapat menahan amarah, mudah memaafkan kesalahan orang lain, senantiasa melakukan kebaikan, selalu menepati janji QS:3(76), bersabar dalam menerima cobaan QS:2(177), tidak sombong dan tidak berbuat kerusakan QS:28(83), selalu mengingat Allah (dzikrullah) QS:33(41), selalu berhati-hati dalam setiap tindakan karena takut terhadap azab Allah QS:21(48-49). Allah berjanji selalu beserta orang-orang yang bertaqwa dan orang-orang berbuat kebaikan QS:16 (128).


*Penulis merupakan dosen Ekonomi Syariah FAI UMY/Mahasiswa S3 Islamic Banking Finance IIUM Malaysia