OPINI: Kenikmatan Menjadi Masyarakat Tontonan (Spectacle)

Wisatawan saat berkunjung ke Candi Ratu Boko.- Harian Jogja - Yogi Anugrah
25 Juni 2019 19:02 WIB Irsanti Widuri Asih Aspirasi Share :

Libur Lebaran baru saja berlalu bahkan banyak yang sudah menyambungnya dengan libur sekolah. Berlibur, terutama dengan cara melakukan perjalanan, bagi sebagian masyarakat Indonesia telah menjadi momen penting yang bahkan bisa mengalahkan kebutuhan primer.

Dalam rilisnya pada pertengahan Juli 2018, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional memberi data terjadinya perubahan komponen belanja masyarakat selama sepuluh tahun terakhir dari aspek non-leisure, misalnya kebutuhan pokok, seperti rumah, makan dan minum, menjadi komponen leisure, yaitu rekreasi (https://databoks.katadata.co.id).

Komponen yang mengalami perubahan adalah konsumsi transportasi dan komunikasi yang meningkat dari 23,4% menjadi 24,7%, diikuti dengan peningkatan konsumsi restoran dan hotel dari 9,1% menjadi 9,3%. Adapun konsumsi yang mengalami penurunan yang paling signifikan adalah konsumsi makan dan minum yang turun dari 36,7% ke 32,6%.

Bagi masyarakat kontemporer, berlibur telah menjadi simbol dalam menunjukkan identitas diri. Kepuasan diperoleh ketika bisa mendapatkan pengalaman ke mana dan bagaimana saya menghabiskan waktu liburan saya, yang belum tentu orang lain bisa memperoleh kesempatannya. Apalagi, jika liburan dihabiskan dengan kegiatan atau pergi ke tempat-tempat yang tengah menjadi tren.

Masyarakat Tontonan
Di era digital saat ini, hal utama yang dilakukan masyarakat di balik semua kegiatan travellingnya adalah pengunggahan foto-foto kegiatan perjalanan tersebut. Jika kita perhatikan berbagai akun media sosial masyarakat selama libur lebaran kemarin, maka kita bisa saksikan akun-akun tersebut selain dipenuhi dengan aktivitas bersilaturahim dengan sanak keluarga, juga dipenuhi dengan foto-foto aktivitas berlibur masyarakat di berbagai wilayah, baik di tanah air maupun di luar negeri.

Fenomena ini menarik untuk dianalisis melalui gagasan tontonan yang diusung oleh seorang filsuf Prancis, Guy Debord. Hal ini disebabkan karena selain mendapatkan pleasure (kesenangan) dari pengalaman mengunjungi tempat-tempat baru, masyarakat juga mendapatkan pleasure untuk mempertontonkan pengalaman travelling mereka yang berfungsi sebagai pembentuk identitas dan citra diri yang saat ini difasilitasi dan disemai oleh media sosial.

Debord menyatakan bahwa the spectacle is not a collection of images; it is a social relation between people that is mediated by images. Seseorang akan diidentifikasi melalui citra-citra yang melekat pada dirinya, yang kemudian akan mempengaruhi relasinya dengan orang lain.

Debord juga berargumentasi bahwa saat ini telah terjadi degradasi di tengah masyarakat, nilai-nilai yang dianut masyarakat sudah berubah dari ingin menunjukkan eksistensi diri melalui materialisasi apa yang dimiliki menjadi apa yang bisa ditampilkan. Konsumsi yang dilakukan masyarakat kontemporer adalah untuk memenuhi pemuasan mata melalui citra-citra yang ditampilkan.

Ketika hidup manusia begitu didominasi oleh komoditas, apakah komoditas itu berupa barang yang berwujud maupun tidak, maka manusia menjadi pemuja komoditas. Dalam tulisannya mengenai The Commodity as Spectacle, Debord mendefinisikan hal ini sebagai the fetishism of commodity.

Ketika pemujaan terhadap komoditas tersebut direalisasikan melalui tindak konsumsi, maka terpenuhilah apa yang dibutuhkan oleh tontonan, karena dunia yang nyata digantikan oleh pemilihan citra-citra yang difungsikan sebagai simbol realitas. Dalam konteks ini, tidak ada realitas yang sesungguhnya, karena realitas telah diwujudkan dalam bentuk representasi-representasi berupa pengonsumsian komoditas sebagai citra dengan tujuan mengonstruksi identitas.

Kajian lebih jauh tentang tontonan dilakukan oleh Briziarelli dan Armano yang mendeskripsikan dengan sangat lugas bagaimana konsep tontonan di era digital, semakin merajalela hingga mereka menggunakan istilah colonizes (menjajah) untuk merefleksikan spectacle sebagai bentuk penjajahan baru dalam hampir semua aspek hidup manusia yang dimanifestasikan ke dalam bentuk-bentuk komodifikasi, eksploitasi, dan reifikasi.

Dengan demikian, masyarakat kontemporer memang semakin kuat menggunakan kegiatan konsumsi bukan untuk memenuhi kebutuhannya, namun lebih sebagai pembentuk citra sekaligus ekspresi identitas diri yang akan mengukuhkan posisinya di tengah masyarakat dan mempengaruhi relasi sosialnya dengan anggota masyarakat lainnya.

Fasilitas Perjalanan
Perubahan pola konsumsi masyarakat yang mulai mengutamakan kegiatan travelling ini, juga disambut pasar dengan merebaknya bisnis agen perjalanan yang di era digital ini muncul dalam bentuk berbagai aplikasi agen perjalanan daring.

Fasilitas yang disediakan oleh aplikasi agen perjalanan daring, tidak lagi hanya sekadar pencarian dan pembelian tiket transportasi dan akomodasi, tapi merambah pada hal-hal lain terkait perjalanan, misalnya mencari tiket pertunjukan, informasi tempat rekreasi, tempat makan, bahkan pemenuhan kebutuhan akan akses Internet (wifi) selama melakukan perjalanan.

Traveloka, Wego, Pegipegi, trivago, Booking adalah contoh aplikasi yang menyediakan pemenuhan kebutuhan travelling masyarakat dengan cara yang sangat simpel, nyaman, praktis, dan cepat. Aplikasi agen perjalanan daring ini memberikan kemudahan, hanya dengan memainkan ujung-ujung jari, segala kebutuhan yang berhubungan dengan perencanaan kegiatan perjalanan bisa diperoleh.

Bahkan, tersedia juga fasilitas PayLater (bayar kemudian) yang memberikan pinjaman lunak tanpa kartu kredit kepada masyarakat yang ingin melakukan travelling, tapi belum memiliki dana yang mencukupi. Pinjaman lunak tersebut disediakan dengan proses yang sangat mudah dan cepat, dengan maksimal pinjaman sebesar sepuluh juta rupiah dan tenor satu tahun.

Selain itu, spot-spot perjalanan pun saat ini telah didesain sedemikian rupa untuk memenuhi satu lagi jenis kebutuhan bepergian masyarakat, yaitu untuk berswafoto. Tempat-tempat wisata berlomba-lomba dalam menyediakan spot-spot cantik yang instagrammable (dari istilah salah satu media sosial, yaitu Instagram untuk merujuk pada foto yang memiliki kualitas baik sehingga layak untuk diunggah di Instagram).

Sayangnya, demi mencapai kebutuhan spot cantik untuk berswafoto yang merupakan nilai jual sebuah tempat wisata, beberapa tempat wisata mendesain fasilitas yang nyaris seragam. Kita dapat menemukan replika menara Eiffel di Merapi Park Jogja, Small World Purwokerto, Museum Angkut Malang, Hutan Pinus Punti Kayu Palembang, atau di Taman Bunga Celosia Bandungan Semarang.

Di beberapa kota kita juga temui merebaknya museum upside down world (museum dunia terbalik), atau tempat wisata tiga dimensi, atau kampung warna-warni. Beberapa tempat wisata alami memang murni mampu menghadirkan keindahan alam yang sangat memesona. Namun tidak sedikit juga tempat wisata alami tersebut mulai melengkapi diri dengan spot-spot untuk foto agar memenuhi kriteria instagrammable tersebut, seperti ayunan di pinggir pantai, panggung di lembah bukit, atau sepeda gantung. Pada akhirnya, tempat-tempat wisata tersebut kehilangan ciri khasnya.

Degradasi Nilai-Nilai
Berlibur adalah hak setiap orang setelah sekian waktu harus berkutat di tengah rutinitas yang menyita energi. Berlibur menjadi sarana kita mengisi ulang tenaga dan menyegarkan pikiran lagi agar dapat kembali melakukan aktivitas sehari-hari dengan lebih baik dan lebih produktif.

Berbagi cerita atau pengalaman mengenai bagaimana kita menghabiskan waktu liburan juga wajar saja dilakukan. Yang terlewat wajar adalah jika apa pun dilakukan, bahkan hingga berutang demi dapat melakukan travelling, yang kemudian diunggah di akun-akun media sosial untuk mendatangkan decak kagum kawan, kerabat, atau kenalan.

Akhirnya, masyarakat penggandrung hasrat menjadi tontonanlah yang tercipta. Degradasi nilai-nilai masyarakat versi Debord pun semakin nyata terjadi, di mana masyarakat ada yang lebih mementingkan pemuasan mata demi sebuah konstruksi identitas.

Media sosial bisa dipastikan sebagai pemicu dalam membentuk masyarakat spectacle dan berbagai aplikasi travelling menopangnya dengan sangat manis sehingga sangat berkontribusi bagi terbentuknya masyarakat Indonesia menjadi lebih konsumtif, hedonis, dan semakin menghamba pada tontonan.