OPINI: Inovasi dan Kepemimpinan

Ilustrasi kamera tersembunyi. - Harian Jogja
26 Juli 2019 05:02 WIB Suparmono Aspirasi Share :

Inovasi saat ini menjadi sebuah jargon yang didengungkan dalam setiap organisasi, baik organisasi nirlaba maupun organisasi pengejar laba. Inovasi seolah dianggap menjadi syarat kunci bagi sebuah keberhasilan, entah itu apapun bentuknya.
 
Ada banyak definisi inovasi, salah satunya adalah bahwa inovasi itu merupakan keberhasilan sosial dan ekonomi berkat diperkenalkannya atau ditemukannya cara-cara baru atau kombinasi baru dari cara-cara lama dalam mentransformasi input menjadi output sedemikian rupa sehingga berhasil menciptakan perubahan besar dalam hubungan antara nilai guna atau nilai manfaat. Intinya, dengan inovasi akan memunculkan kemudahan, efektivitas, dan efisiensi, bagi bagi pengguna maupun penghasil.

Banyak orang lupa bahwa inovasi itu dihasilkan semata berasal dari perusahaan, ini merupakan pandangan yang kurang tepat. Inovasi yang baik itu justru seharusnya dilakukan dengan lebih banyak melibatkan konsumen dan pengguna sebagai kontributor. Artinya, apa yang dibutuhkan oleh pengguna, itulah yang harus direspon oleh produsen sehingga produk ataupun jasa tersebut direspon oleh pengguna. Bukan sebaliknya, bahwa perusahaan meminta penggunalah yang harus menyesuaikan dan merespon inovasi yang mereka lakukan.

Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA) yang berada di bawah Departemen Pertahanan Amerika Serikat merupakan salah satu contoh institusi paling inovatif di muka bumi. Tidak ada inovasi yang mereka lakukan yang tidak dikenal dan mendominasi perkembangan milenial saat ini. Sebutlah bahwa merekalah yang memperkenalkan kita pada internet, GPS, drone, Siri, cloud computing, peluru kendali, hingga pesawat siluman.

Bagi mereka prinsipnya adalah bahwa berinovasi mengubah dunia. Tapi perlu diingat, novasi bukan hanya menyangkut penciptaan suatu produk, melainkan inovasi dapat dilakukan pada berbagai aspek yaitu proses, metode, struktur organisasi, hubungan, strategi, pola pikir, dan pelayanan. Artinya, bagi sebuah institusi, bila melakukan inovasi, jangan hanya sepenggal-sepenggal, tapi lakukan secara menyeluruh pada berbagai lini sehingga tingkat efektivitasnya dapat dirasakan sebagai sebuah kemampuan daya saing.

Banyak yang berfikir bahwa inovasi itu hanya pada produk yang dihasilkan, inilah kekeliruan itu. Apalah artinya inovasi dilakukan sejak pemilihan input, saat diproses, sampai dengan produk tersbut dihasilkan. Inovasi itu tidak akan memberikan arti pada perusahaan apabila tidak dilakukan inovasi pada pelayanan. Produk inovatif tapi tidak disertai dengan pelayanan yang baik kepada customer, tentunya akan dilibas oleh produk lain yang mampu memberikan pelayanan yang lebih baik. Ingat, apa yang diinginkan pengguna, itulah yang harus dilayani oleh produsen.

Telat berinovasi artinya mempercepat kematian produk yang ditawarkan, bahkan bisa mematikan perusahaan bila dibiarkan secara sadar ataupun tidak. Belajar dari kelambatan dan resistensi Kodak dalam merespon teknologi digital, pada saat Kodak menguasai film kamera. Tragisnya, kegagalan Kodak justru diungkap oleh karyawannya sendiri yang menemukan dan mengembangkan kamera digital. Dialah Steven Sasson, seorang pemuda yang bekerja pada Eastman Kodak yang berusia 24 tahun pada tahun 1973.

Inovasi dan penemuannya untuk kamera digital ternyata menjadi pembunuh produk andalan perusahaan dimana dia bekerja. Apakah Sasson merupakan karyawan yang berhianat pada kematian produk dimana perusahaan tempatnya bekerja. Sasson telah menyampaikan temuannya pada perusahaan, tapi perusahaan resisten dan pongah terhadap temuan baru ini, bahkan temuan ini telah didemontrasikan dihadapan eksekutif perusahaan. Dengan berkembangnya kamera digital, maka menghantarkan secara perlahan film kamera ke peristirahatannya.

Sepenggal cerita dalam keterlambatan melakukan inovasi mengakibatkan suatu yang fatal bagi sebuah produk, meskipun saat itu Kodak begitu yakinnya dengan dominasinya. Kebesaran dan dominasi suatu perusahaan perlahan akan tenggelam, meskipun perusahaan itu tidak mengalami kemunduran. Tapi kondisi ini berbahaya apabila pesaing kita, baik pesaing langsung maupun pesaing tidak langsung melakukan inovasi dan perubahan secara signifikan.

Inovasi atau matinya sebuah institusi selain ditentukan kemampuan segenap anggota organisasi dalam melakukan inovasi, juga ditentukan oleh sangat oleh gaya kepemimpinan pada perusahaan. Gaya kepemimpinan dalam sebuah perusahaan sangat menentukan banyaknya inovasi yang akan dihasilkan. Inovasi pada dasarnya sangat ditentukan oleh kemampuan pemimpin perusahaan dalam menemukan, mengembangkan, memelihara, dan mendayagunakan potensi inovasi tersebut termasuk untuk memotivasi karyawan mengaktualisasikan seluruh potensi yang dimiliki.

Kepemimpinan seperti apa yang dirasakan mampu mendorong dan menciptakan inovasi pada suatu perusahaan. Kepemimpinan yang terkait erat dengan inovasi di perusahaan yaitu kepemimpinan transformasional, kepemimpinan partisipatif dan Leader-Member Exchange (LMX). Dari ketiga tipe kepemimpinan itu, tipe kepemimpinan yang transformasional lah yang memungkinkan inovasi dapat berkembang dan terkanalisasi.

Tipe pemimpin seperti ini mampu menjadi Idealized Influence yang memiliki sifat-sifat keteladanan (role model). Selain itu pemimpin ini mampu menjadi Intellectual Stimulation yang mampu mengembangkan kompetensi dengan cara memberikan tantangan. Tipe pemimpin ini juda bisa menjadi Individual Consideration yang ditandai dengan kemampuan pemimpin dalam memperhatikan kebutuhan. Terakhir, kepemimpinan ini juga mampu memberikan Inspirational Motivation.

Inovasi ternyata asngat kompleks dan tidak sesederhana yang dijargonkan selama ini. Inovasi harus disertai dengan kreativitas, kesempatan, kemampuan pemimpin, dan dilakukan secara komprehensif. Siap atau tidak siap, mau atau tidak mau, terpaksa ataupun sukarela, inovasi harus dilakukan dengan konsisten dan terencana serta terstruktur. Tidak bisa dilakukan sepenggal-sepenggal yang pada akhirnya tidak secara signifikan berpengaruh pada daya saing produk maupun daya saing perusahaan. Pilihannya sekarang adalah, inovasi atau tertinggal dan mati.


*Penulis merupakan dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Jogja/Dosen Creativity and Inovation Strattegy Program Magister Management-UTY