OPINI: Paper Asset, Saham untuk Generasi Milenial

Ilustrasi. - Bisnis Indonesia/Felix Jody Kinarwan
08 Agustus 2019 05:02 WIB Sang Ayu Putu Piastini Gunaasih Aspirasi Share :

Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), literasi keuangan adalah rangkaian proses atau aktivitas untuk meningkatkan pengetahuan, keyakinan serta keterampilan konsumen dan masyarakat luas sehingga mereka mampu mengelola keuangan dengan baik.

Menurut survei yang dilakukan OJK pada 2013, saat ini hanya 21,84% penduduk yang bisa dikategorikan sebagai well literate. Kategori well literate didasarkan atas pengetahuan dan keyakinan seseorang tentang lembaga jasa keuangan serta produk jasa keuangan, termasuk fitur, manfaat dan risiko, hak dan kewajiban terkait dengan produk dan jasa keuangan serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan.

Sekitar 78% penduduk sisanya masih dikategorikan sebagai masyarakat yang buta dan/atau belum memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan. Salah satu akibatnya adalah masih banyak masyarakat yang belum mampu mengelola aset-aset keuangannya secara optimal, sehingga pertumbuhan ekonomi menjadi lambat dan akhirnya membentuk berbagai ketimpangan golongan dalam masyarakat yaitu golongan ekonomi atas, menengah, dan bawah. Salah satu literasi keuangan yang saat ini sedang gencar dicanangkan oleh pemerintah adalah mengenai pengetahuan investasi saham di pasar modal.

Menurut data yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia (BEI), investor di pasar modal masih di dominasi oleh asing. Dari 300 juta penduduk Indonesia hanya sekitar satu juta investor yang meninvestasikan asetnya dalam bentuk saham di BEI. Artinya, hanya 0,3% penduduk Indonesia yang menanamkan modalnya di perusahaan-perusahaan yang terdaftar di BEI.

Angka tersebut tentunya sangat jauh apabila dibandingkan dengan negara-negara tertangga terdekat, sebagai contoh, Malaysia sekitar 3,8 juta atau 12,8% penduduknya sudah menginvestasikan asetnya dalam bentuk saham di pasar modal, Singapura sekitar 1,5 juta atau 30%, dan China lebih 100,4 juta atau 13,7%. Minimnya pengetahuan dan keyakinan masyarakat Indonesia mengenai lembaga-lembaga jasa keuangan yang ada dapat dilihat dari data penyimpanan aset keuangan yang masih banyak disimpan dalam bentuk rekening koran di bank.

Sekitar 180 juta jiwa atau 0,6% masih merasa nyaman menginvestasikan asetnya dalam rekening koran. Sisanya menginvestasikan dalam bentuk properti ataupun barang mewah. Ini terjadi akibat persepsi yang ada di tengah masyarakat bahwa investasi saham di pasar modal butuh uang banyak, risikonya tinggi sehingga hanya untuk kalangan menengah atas.

Praktis
Selain itu, menyimpan uang di Bank memiliki kepastian keuntungan dalam bentuk bunga. Padahal, bunga yang diperoleh sebenarnya kecil karena telah dipotong biaya-biaya administrasi yang ada. Ketika seseorang menginvestasikan uangnya dalam bentuk saham, maka tidak ada lagi potongan biaya administrasi dan bunga dalam bentuk nilai kenaikan saham dapat diperoleh apabila seseorang tersebut memahami performa perusahaan yang sahamnya telah dibeli.

Sebagai gambaran, mari kita renungkan apa yang kita gunakan dalam aktivitas sehari-hari. Ketika kita mandi, umumnya kita menggunakan sabun, sampo, pasta gigi yang produknya di produksi oleh perusahaan consumer goods. Lalu kita sarapan roti, kudapan dan susu yang produknya diproduksi oleh perusahaan makanan. Selesai sarapan kita berangkat ke kantor atau ke sekolah dengan kendaraan yang juga diproduksi oleh perusahaan otomotif.

Begitu seterusnya setiap hari, tanpa kita sadari bahwa kita hanya berperan sebagai konsumen tanpa pernah memikirkan dari mana sumber uang yang didapatkan oleh perusahaan tersebut selain dari penjualan produk tersebut. Secara umum, perusahaan-perusahaan yang sedang berkembang atau butuh suntikan dana umumnya akan membuka kesempatan pada masyarakat luas untuk menanamkan modalnya di perusahaan-perusahaan tersebut dalam bentuk penjualan lembaran saham. Artinya ada bagi hasil keuntungan untuk pemegang-pemegang saham pada saat rapat umum pemegang saham (RUPS).

Secara tidak langsung pemegang saham juga dikatakan sebagai pemilik perusahaan itu walau hanya 0,1%. Pertanyaannya, maukah membeli saham dari produk-produk yang kita gunakan sehari-hari?
Seiring perkembangan zaman, aset dalam bentuk properti, kendaraan, atau benda-benda besar dirasa kurang lagi cocok dijadikan aset untuk jangka panjang khusunya bagi generasi milenial. Selain perawatannya yang butuh biaya, juga administrasinya cukup menyulitkan.

Generasi milenial cenderung menyukai hal yang praktis dan sederhana. Saham sebagai salah satu paper asset dirasa sesuai bagi generasi milenial saat ini. Selain saham, jenis paper asset lainnya dapat berupa obligasi/surat berharga negara ataupun deposito. Sebagai ilustrasi, investasi dalam bentuk saham bisa mulai sejak usia 20 tahun dengan nominal uang sebesar Rp100.000.

Dengan nominal tersebut kita bisa membeli saham perusahaan yang diinginkan. Dibandingkan jika membeli tanah tentu kita akan membutuhkan lebih banyak dana. Prosesnya sangat sederhanya, cukup dengan membuka (RDI) di perusahaan sekuritas atau perusahaan sekuritas yang dimiliki oleh bank kita sudah bisa menjadi pemilik perusahaan.

Nabung Saham
Pola pikir investasi dalam bentuk saham yang sebelumnya seram, penuh risiko, susah dan berbagai stigma negatif harus segera dihilangkan. Karena selain menginvestasikan aset, kita juga secara tidak langsung bertanggung jawab sebagai pemilik perusahaan tersebut. Analoginya seperti membuka coffee shop. Misalnya, jika ada dua orang bekerja sama membuka coffee shop. Orang I menyetorkan modal awal 75% sementara orang II menyetorkan modal awal 25%. Jika mereka sama-sama bekerja dan akhirnya memperoleh keuntungan, keuntungannya akan dibagi 75:25. Orang I mendapatkan 75% dari keuntungan dan orang II mendapatkan sisanya yaitu 25%.

Pembagian keuntungan ini, di pasar modal biasa disebut deviden. Hanya saja di pasar modal pembagian deviden melalui proses akuntansi, yang akan menentukan besaran deviden diterima investor dari setiap lembar saham yang dimilikinya. Lebih lanjut kita akan berkenalan dengan cummulative date, right issue, stock split dan lain lain.

Jika suatu hari orang I dan orang II berselisih. Kemudian orang II memutuskan keluar dari usaha coffee shop. Maka, 25% dari aset coffee shop saat itu akan dibawa pergi oleh orang II, atau mungkin akan dijual ke I atau ada orang ke III yang membeli. Di pasar modal peristiwa seperti ini disebut trading. Kita bisa melakukan aksi menjual saham yang kita miliki, atau membeli saham orang lain yang sedang dijual. Nantinya secara bertahap, kita akan berkenalan dengan istilah volume, likuiditas, LQ 45, saham lapis kedua, dan seterusnya. Prinsipnya sesederhana itu.

Namanya bisnis pasti ada turun dan naik. Selama saham yang dipilih adalah berfundamental baik/memiliki performa yang baik, tentu akan menghasilkan keuntungan, seperti halnya kasus coffee shop tadi. Jika kopi yang dijual laku maka dia untung, sebaliknya tak laku maka rugi. Ilustrasi coffee shop tadi, meski dagangan kopinya tidak laku, barang dagangannya masih tetap ada.

Dia bisa saja menjual kopinya dengan harga diskon agar cepat laku. Begitu pun dengan saham, ketika nilai saham turun maka investor bisa saja menjualnya dengan harga rendah alias merugi. Kalau kopinya enak, banyak yang beli, harga kopinya bisa naik. Harga saham sangat mungkin juga naik. Beda sama berjudi, ketika dia kalah maka dia tak dapat apa-apa, harta/asetnya akan habis. Mari kita dukung kampanye yang telah dicanangkan oleh pemerintah dengan slogan Yuk Nabung Saham.


*Penulis merupakan dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta