OPINI: Daya Pikat Koperasi bagi Generasi Muda Belia

Ilustrasi koperasi.
04 September 2019 05:02 WIB Yulianti Aspirasi Share :

Koperasi Indonesia telah berumur 72 tahun. Perkembangan zaman terus berganti seiring berkembangnya teknologi yang ada. Pergantian generasi pun terus berkembang. Tercatat sudah ada lima generasi yang terus berkembang mulai dari generasi tradisional sampai dengan generasi milenial.

Hal tersebut pula diimbangi dengan perkembangan koperasi yang usianya tidak muda lagi terutama di era milenial dimana generasi yang ada memiliki karakter yang berbeda-beda dan sangat berpengaruh dalam mendukung kemajuan koperasi yang ada di Indonesia saat ini.

Sebelum kita berbicara bagaimana peran generasi milenial melalui rebranding koperasi yang ada, tentunya kita harus memahami dahulu karakter generasi yang dahulu sampai generasi saat ini. Di era sebelum kemerdekaan (kelahiran 1922-1945), generasi tradisional yang ada memiliki jiwa patriotisme tinggi meskipun dalam kondisi serba kekurangan namun cenderung hidup mandiri, tetapi matang dalam pengambilan sebuah keputusan dan suka bekerja keras.

Generasi terus berkembang ketika generasi yang ada lahir antara 1961-1980 atau generasi X. Generasi ini memiliki pemikiran maju namun sangat terbuka dengan kritik maupun saran, mampu bekerja secara efisien, tekun dalam bekerja dan kebanyakan memiliki jiwa pengusaha.

Generasi yang lahir 1995 – 2010 lebih mengenal teknologi memiliki karakter yang suka instan. Generasi yang sering dikenal sebagai generasi Z ini lebih suka mencari popularitas dengan berbagi di media sosial yang ada bahkan melakukan transaksi secara online.  Saat ini generasi kelahiran di tahun 2010 cenderung dan sangat lebih familiar di usianya masih belia (usia TK pun sudah memilikinya) dengan memiliki gadget di saku mereka. Terkadang menjadikan interaksi sosial di sekitarnya terabaikan.

Namun, demikian semakin berkembangnya generasi yang ada tentunya tingkat kebutuhan yang ada semakin banyak dan kian besar. Hal yang terpenting ialah meskipun teknologi berkembang cukup pesat, tidak hanya cukup dengan mengimbanginya dengan menguasai teknologi yang ada tetapi juga harus dapat mempersiapkan, mengatur dan mengelola keuangan yang ada dengan cara menabung ataupun berinvestasi. Tidak lain untuk mempersiapkan masa depannya dan kelangsungan kehidupannya secara ekonomi.

Hadirnya sebuah koperasi sangat membantu mempersiapkan generasi yang matang teknologi juga matang pula terhadap pengelolaan keuangan yang ada. Di mana di dalamnya ada unsur pengelolaan maupun segi edukatif. Secara garis besarnya koperasi yang ada tidak lain untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya untuk mewujudkan masyarakat yang adil, maju, dan sejahtera sesuai dengan UUD 1945 dan demokrasi ekonomi.

Era milenial dengan generasi usia belia yang sudah paham teknologi yang ada tentunya koperasi yang ada harus mengikuti perkembangan teknologi yang ada tersebut agar koperasi tidak hanya diperuntukkan bagi generasi tua akan tetapi diperuntukkan dengan generasi muda belia.

Bagaimana koperasi dapat dikenal oleh generasi teknologi muda belia? Teknologi sudah pasti menjadi jawabannya, tetapi tidak perlu teknologi yang ruwet bahkan generasi yang ada enggan mengenal koperasi. Pengenalan koperasi kepada generasi saat ini cukup dengan bahasa sederhana dan sesuai dengan usia mereka.

Salah satunya membuat gim koperasi (misalkan ketika memiliki uang, kemudian di tabung di koperasi) yang mudah dimainkan. Koperasi dapat pula dikenalkan dengan media boneka (bagi usia anak di bawah tujuh tahun) dan tentunya sesuai bahasa anak. Koperasi yang ada dapat pula dengan melalui semacam outbound perkoperasian (usia remaja) ataupun video animasi tentang perkoperasian. Melalui bumbung koperasi, di mana setiap bulannya ataupun secara periodik diambil kemudian ditabung di koperasi.

Berbagai inovasi sederhana ini jauh lebih dapat dilakukan secara efektif dan mengajak minat generasi saat ini lebih mengenal koperasi dan ikut di dalamnya sesuai karakter usia mereka. Mengintensifkan video-video tutorial ataupun publikasi tentang produk koperasi dengan disesuaikan usia penonton yang ada menjadikan generasi muda belia semakin mengenal tentang koperasi yang berdiri sejak lama.

Dapat pula menggunakan Instagram. Instagram sekarang justru lebih digemari daripada Facebook karena pengguna Instagram dapat mem-posting, menambah teman, memilih, mengomentari, memublikasikan ke media sosial lain tanpa harus repot. Tentunya publikasi melalui instagram ini harus dilakukan secara kontinyu dan diakses pengguna secara kontinyu pula.

Apalagi jika didukung dengan fitur stories di Instagram, lembaga koperasi dapat berbagi foto maupun video yang paling terbaru. Dengan demikian selain sebagai media promosi produk koperasi, juga dapat mendekatkan diri dengan generasi muda produk koperasi yang menjadi unggulan dan diminati.

Produk-produk koperasi yang ada juga haruslah dapat mudah diakses oleh generasi muda belia saat ini. Terutama ketika mereka membutuhkan serbacepat. Sebagai contoh, koperasi dapat membuat aplikasi e-studi yang menyediakan berbagai macam perlengkapan sekolah mulai dari seragam sekolah, alat tulis ataupun berbagai macam literasi untuk menunjang pendidikannya. Tanpa harus keluar rumah dengan aplikasi yang ada, tinggal pesan kemudian barang yang dibutuhkan langsung dikirim ke alamat pemesan.

Bagaimanapun generasi saat ini harus mengetahui, masuk ke dalamnya dan mendapatkan manfaatnya dari koperasi. Jika telah merasakan betapa banyaknya manfaat dari berkoperasi tinggal disharekan ke teman sebaya. Baik melalui interaksi di sekolah ataupun lingkungan masyarakat ataupun dapat pula melalui media sosial yang ada. Dengan kata lain, jika generasi saat ini telah sejak dini mengenal koperasi secara tidak langsung mereka telah ikut berperan serta dalam kemajuan pembangunan di negeri ini.

*Penulis merupakan penggerak Literasi Masyarakat Berkoperasi DIY