OPINI: Taksonomi Ki Hadjar Dewantara

Ilustrasi. - Espos/M. Ferri Setiawan
02 Oktober 2019 05:02 WIB Ki Sugeng Subagya Aspirasi Share :

Orasi ilmiah promovendus Sri Sultan HB X dalam acara Penganugerahan Doktor Honoris Causa Universitas Negeri Yogyakarta (Kamis 5/9/2019) dengan judul Pendidikan Karakter Berbasis Budaya sangat menarik. Tidak saja berupa gagasan-gagasan visioner, tetapi kajian empiris faktual berdasar implementasi teori tersaji dengan sangat baik. Selain tawaran-tawaran gagasan, tidak sedikit pandangan kritis yang merupakan tantangan bagi para pemerhati dan pakar pendidikan untuk melakukan kajian lebih lanjut.

Di antara tantangan itu, pengembangan trikotomi jiwa Ki Hadjar Dewantara (KHD) sebagaimana taksonomi Bloom (Benjamin Samuel Bloom). Kajian teori pendidikan lokal diperlukan agar lebih implementatif. Dari sisi waktu, KHD mengemukakan trikotomi jiwa pada tahun 1922 bersamaan dengan berdirinya Perguruan Tamansiswa. Bloom mengemukakan taksonominya pada tahun 1956. Artinya, KHD menemukan teori trikotomi jiwa 34 tahun mendahului Bloom menemukan taksonomi.

Taksonomi Bloom berkembang jauh lebih cepat dibandingkan dengan trikotomi jiwa KHD. Taksonomi Bloom mendunia mewarnai praktik pendidikan dan pembelajaran, sedangkan trikotomi jiwa KHD tampak stagnan. Di Indonesia, tempat lahirnya trikotomi jiwa, praktik pendidikan dan pembelajaran didominasi teori taksonomi Bloom.

Promovendus SHB X mengungkapkan bahwa konsep cipta, rasa, dan karsa dalam trikotomi jiwa KHD digambarkan tidak berbeda dengan kognitif, afektif, dan psikomotor dalam taksonomi Bloom. Setidaknya dalam pemaknaan penalaran, penghayatan, dan pengamalan. Kebudayaan adalah buah budi manusia melalui olah cipta (kognitif), olah rasa (afektif), dan olah karsa (psikomotorik).
Dalam konteks pembelajaran, mestinya cipta, rasa, dan karsa dikembangkan sebagai taksonomi KHD sampai berupa tabel Kata Kerja Opresional (KKO). Taksonomi merupakan kriteria untuk mengevaluasi kualitas dan efektifitas pembelajaran oleh guru. Dalam setiap aspek taksonomi terkandung KKO yang menggambarkan bentuk perilaku yang hendak dicapai melalui proses pembelajaran. Dalam hal ini KHD memberikan rambu-rambu proses pembelajaran efektif. Pembelajaran efektif berkualitas apabila dilakukan dengan cara tri-na, ialah niteni, nirokke dan nambahi, dan produknya sampai pada tri-nga, ialah ngerti, ngrasa dan nglakoni.

Belajar dari pengembangan taksonomi Bloom, KKO dalam taksonomi KHD hendaknya menggambarkan suatu proses pembelajaran, cara memroses suatu informasi sehingga dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa prinsip di dalamnya adalah, (1) sebelum memahami sebuah konsep maka harus mengingatnya terlebih dahulu, (2) sebelum menerapkan maka harus memahaminya terlebih dahulu, (3) sebelum mengevaluasi dampaknya maka harus mengukur atau menilai, (4) sebelum berkreasi sesuatu maka harus mengingat, memahami, mengaplikasikan, menganalisis dan mengevaluasi, serta memperbarui.

Pentahapan cara berpikir demikian bukan tanpak kritik. Dalam beberapa jenis kegiatan, tidak semua tahap diperlukan. Misalnya, dalam menciptakan sesuatu tidak harus melalui pentahapan. Hal itu kembali pada kreativitas individu. Proses pembelajaran dapat dimulai dari tahap manapun. Hakikatnya, pentahapan cara berpikir melekat pada setiap proses pembelajaran integral. Anak didik didorong berpikir secara holistik.

Kritik lainnya, ketika kemampuan dipisah-pisahkan, anak didik dapat kehilangan kemampuannya untuk menyatukan kembali komponen-komponen yang sudah terpisah. Model penciptaaan suatu produk baru atau menyelesaian suatu proyek tertentu lebih baik dalam memberikan tantangan terpadu yang mendorong untuk berpikir secara kritis.

Sehubungan dengan hal itu, dialektika thesa dan anti-thesa hendaknya dikembangkan sebagai bentuk revisi. Dalam perkembangan terakhir, taksonomi Bloom dalam ranah kognitif yang terdiri atas (1) pengetahuan, (2) pemahaman, (3) penerapan, (4) analisis, (5) sintesis, dan (6) evaluasi direkonstruksi dalam bentuk revisi sebagai (1) mengingat, (2) memahami, (3) menerapkan, (4) menganalisis, (5) mengevaluasi, dan (6) berkreasi. Taksonomi Bloom (lama) tingkah laku hasil belajar menggunakan kata sifat, sedangkan taksonomi Bloom (revisi) dengan menggunakan kata kerja. Selain itu, tingkatan terendah pengetahuan diganti dengan mengingat. Tingkatan sintesis dan tingkatan evaluasi dilebur menjadi mengevaluasi. Tingkatan evaluasi diganti menjadi berkreasi.

Perkembangan taksonomi Bloom sungguh luar biasa. Bukan hanya karena implementasinya yang mendunia, tetapi kontennya juga berkembang sedemikian rupa sehingga mampu menembus ruang dan waktu zamannya (nut ing jaman kelakone). Bagaimana dengan trikotomi KHD? Itulah tantangan kita saat ini. KHD telah mewakafkan konsep pendidikan nasional yang digali dari lubuk Ibu Pertiwi, kita yang harus mengembangkannya untuk diimplementasikan.


*Penulis merupakan pamong Tamansiswa/Alumnus FIP IKIP Jogja