OPINI: Waspada Jebakan Pendapatan Menengah

Ilustrasi uang rupiah - Reuters
17 Oktober 2019 05:02 WIB Sang Ayu Putu Piastini Gunaasih Aspirasi Share :

Hampir setiap bulan, perguruan-perguruan tinggi yang ada di Jogja secara bergantian atau bersamaan menyelenggarakan aktivitas wisuda. Wisuda merupakan momen dimana para mahasiswa dinyatakan lulus dan mendapatkan gelar sesuai dengan keilmuannya masing-masing.

Beberapa di antara para wisudawan/wisudawati ada yang berencana untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi dan sebagian besar lainnya berencana untuk bekerja di suatu perusahaan atau berwiraswasta. Bekerja di perusahaan/berwiraswasta tentunya menuntut para lulusan baru untuk beradaptasi dengan lingkungan dan aktivitas yang sangat berbeda ketika berada di lingkungan perguruan tinggi.

Salah satu tantangan terbesar ketika para pekerja bekerja adalah cobaan di akhir bulan ketika mendapat gaji/penghasilan. Umumnya para pekerja awal akan melakukan ritual selamatan atas gaji pertamanya baik dengan teman ataupun dengan keluarga. Bahayanya, ritual tersebut biasanya menjadi kebiasaan dan terus berlanjut dan tanpa terasa gaji di akhir bulan selalu habis dan bahkan akibat pengelolaan yang kurang baik menjadi minus untuk menutupi utang-utang. Bagi pekerja awal, khususnya bagi para generasi milenial, pengelolaan uang yang bijak dan baik perlu dilakukan agar tidak terjebak dalam kondisi jebakan pendapatan menengah.

Kenapa bisa terjadi? Saat penghasilan Rp2 juta, saya bisa menabung sebesar Rp1 juta. Saat penghasilan Rp4 juta, berapa tabungan yang bisa saya tabung? Jika jawaban Anda adalah Rp1 juta, selamat bahwa Anda sudah masuk dalam jebakan pendapatan menengah alias kelas menengah abadi.

Kenapa hal ini bisa terjadi? Analoginya adalah sebagai berikut, ketika penghasilan naik, maka telepon seluler (ponsel) pintar perlu diganti dengan alasan untuk menunjang pekerjaan. Ketika mendapat promosi jabatan, mobil diperbarui dengan alasan agar bisa menunjukkan citra diri walau pembayaran dengan uang muka tinggi dan sisanya mengangsur.

Ketika tabungan sudah mulai banyak, langsung pergi liburan ke luar negeri dengan alasan untuk menikmati hidup. Memberi penghargaan terhadap diri sendiri boleh namun jangan dijadikan alasan setiap kali mendapat penghasilan lebih.

Jebakan pendapatan menengah adalah kondisi kenaikan pada penghasilan namun berbanding terbalik dengan kondisi aset yang dimiliki. Generasi-generasi muda saat ini atau lebih dikenal dengan generasi milenial harus mulai membenahi pola konsumsi dan lebih banyak belajar mengenal literasi keuangan untuk menghindari middle trap income.

Berdasarkan hasil riset di berbagai negara, generasi milenial diprediksi mengalami kebangkrutan lebih awal dibandingkan generasi sebelum mereka seperti generasi X dan baby boomers. Penyebabnya adalah generasi milenial lebih senang menghabiskan uangnya untuk kegiatan konsumtif agar eksis di sosial media dibanding berinvestasi. Mereka juga lebih tertarik jalan-jalan, makan di restoran mewah, memiliki barang bermerek ketimbang menabung untuk dana pensiun atau membeli paper asset.

Presiden Joko Widodo dalam sebuah pidato kenegaraan menyatakan pada 2045 Indonesia diperkirakan masuk lima besar ekonomi terkuat. Terkait dengan hal tersebut, Presiden berharap agar generasi muda dapat bekerja lebih keras dan tidak manja demi menguatkan perekonomian Indonesia agar fase Indonesia emas (usia produktif akan lebih banyak daripada usia nonprodukti) dapat berjalan secara optimal. Bekerja lebih keras maksudnya adalah memiliki produktifitas tinggi dan juga mampu mengelola keuangan dengan baik, karena secara tidak langsung kebiasaan individu dalam mengatur pola keuangan akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi negara.

Ciri-Ciri
Menurut salah satu startup perencana keuangan independen di Indonesia, Jouska Finansial, ada lima ciri individu masuk jebakan pendapatan menengah. Pertama, kenaikan penghasilan tidak diimbangi dengan kenaikan aset, hal ini dijelaskan seperti ilustrasi di atas, yaitu ketika pendapatan meningkat dari Rp2 juta menjadi Rp4 juta maka seharusnya jumlah pengeluaran bisa tetap sama namun aset/tabungan bisa menjadi lebih besar yaitu dari Rp1 juta menjadi Rp3 juta.

Apa saja yang bisa di investasikan? Di sinilah perlunya mengenal literasi keuangan. Banyak media invesatasi yang bisa digunakan salah satunya adalah membeli obligasi pemerintah (ORI, SBR, ST, SR). Ciri kedua adalah pengeluaran sekunder dan tersier lebih besar daripada pengeluaran primer. Idealnya, pengeluaran primer setara upah minimum provinsi (UMP) di kota tertentu. Sebagai contoh, UMP DIY adalah Rp1,7 juta dan gaji yang diterima setiap bulan adalah Rp3 juta, maka uang yang ditabung minimal Rp1,3 juta.

Ciri ketiga adalah pembayaran kewajiban/utang berupa cicilan yang bersifat konsumtif lebih besar dibandingkan jumlah uang yang bisa ditabung setiap bulannya. Sebagai contoh, setiap bulan seharusnya bisa menabung Rp1,3 juta namun karena ingin memperbarui ponsel pintar keluaran terbaru seharga Rp11 juta, maka pembelian dilakukan secara mencicil sebesar Rp900.000 selama 12 bulan, sehingga hanya bisa menabung sebesar Rp400.000 selama 12 bulan.

Ciri keempat adalah aset yang digunakan untuk kepentingan pribadi seperti mobil, rumah, apartemen, dan perhiasan, jumlahnya lebih banyak daripada aset investasi (obligasi, saham, dan lain-lain). Ciri terakhir adalah sedikit atau tidak memiliki dana yang likuid berupa uang tunai, tabungan, dan deposito yang dapat dicairkan sewaktu-waktu.

Jika seorang individu menyadari telah terjebak dalam jebakan pendapatan menengah sesuai ciri-ciri di atas, saatnya bangun dan tidak ada kata terlambat untuk mengelola keuangan dengan baik. Mulai membuat anggaran tiap bulan, lalu mencatat pengeluaran dan membuat aliran kas. Hal itu menjadi wajib agar dapat terhindar dari pengeluaran yang tidak tercatat alias bocor.

Jangan takut melihat angka, perlahan tapi pasti rencanakan secara rutin untuk menabung untuk keperluan dana darurat, pelunasan utang, pembelian asuransi jiwa murni (jika sudah memiliki tanggungan/anak), asuransi kesehatan serta terakhir, cari produk investasi yang sesuai dengan tujuan dan jangka waktu pencapaiannya.

Mari benahi keuangan agar kelak jika masa pensiun telah tiba, bisa santai tanpa membebani anak dan cucu. Sesuai dengan kalimat bijak berikut, hadiah terbaik untuk anak cucu adalah perencanaan masa pensiun kita yang baik.

*Penulis merupakan Dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta