OPINI: Prospek Industri Asuransi

Karyawan melayani calon nasabah di gerai perusahaan asuransi di salah satu pusat perbelanjaan, di Jakarta, Sabtu (28/4/2019). - Bisnis/Endang Muchtar
22 Oktober 2019 05:02 WIB Dody A.S Dalimunthe Aspirasi Share :

Situasi ekonomi Indonesia berpengaruh terhadap premi industri asuransi umum. Pada 2018 realisasi pertumbuhan ekonomi tercatat 5,2% dan dalam tren naik jika dibandingkan dengan 2017. Rasio penetrasi asuransi meski masih rendah tetapi meningkat stabil dari tahun ke tahun (secara total 2,77%, sementara untuk asuransi umum 0,41%).

Rendahnya penetrasi asuransi mengindikasikan masih besarnya potensi pengembangan bisnis asuransi di Indonesia. Sementara itu densitas asuransi umum per kapita per tahun juga terus meningkat. Pada 2017 tercatat Rp 210.227 dan tahun berikutnya Rp232.075.

Hingga akhir 2018 industri asuransi didukung oleh 75 perusahaan asuransi umum, 60 perusahaan asuransi jiwa, 6 perusahaan reasuransi, 3 perusahaan asuransi sosial, dan 2 Badan Pelaksanan Jaminan Sosial. Didukung pula oleh 169 perusahaan pialang asuransi, 42 pialang reasuransi, dan 27 penilai kerugian (loss adjuster). Tercatat pula 585.761 agen asuransi jiwa dan 41.291 agen asuransi umum.

Premi di akhir 2018 tercatat Rp186,54 triliun dari asuransi jiwa dan Rp61,15 triliun dari asuransi umum serta laba Rp13,3 triliun untuk asuransi jiwa dan Rp5,6 triliun untuk asuransi umum. Total aset industri asuransi Rp1.209,6 triliun didominasi aset asuransi jiwa Rp520,6 triliun dan aset asuransi umum Rp146,8 triliun.

Pada semester pertama 2019 iIndustri asuransi Indonesia membukukan premi total Rp221,14 triliun, naik 3% dibandingkan dengan tahun sebelumnya untuk periode yang sama, terdiri dari Rp81,56 triliun premi asuransi jiwa dan Rp 40,13 triliun premi asuransi umum. Asuransi umum sendiri tumbuh signifikan yaitu 20% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Sebagaimana karakteristik industri jasa keuangan, asuransi adalah industri global yang akan terpengaruh dan saling memengaruhi antar wilayah regional dan negara. Bukan saja terhadap praktek bisnis tapi juga peraturan yang berlaku. Setidaknya ada empat hal yang saling memengaruhi pasar asuransi masa depan di Asia Pasifik, termasuk Indonesia.

Pertama, pertumbuhan kelas menengah dan perubahan peraturan. Tingkat penetrasi asuransi di pasar berkembang Asia-Pasifik, termasuk India, Indonesia, China, dan Malaysia akan naik. Perubahan peraturan di seluruh wilayah akan membuka pasar asuransi.

Kedua, saluran distribusi akan lebih banyak menggunakan digital. Hal ini membuat lanskap distribusi asuransi berubah. Di seluruh wilayah, terutama mereka yang muda dan aktif secara digital, terbuka untuk membeli asuransi dari pendatang baru, termasuk yang dari luar industri asuransi.

Ketiga, ekosistem mulai bertahan. Permintaan akan jasa ekosistem ini telah memacu kemitraan baru. Keempat, peluang merger dan akuisisi (M&A) berlimpah di pasar yang berkembang. Acquirers telah melakukan sekitar US$ 72 miliar dalam transaksi M&A terkait dengan asuransi di Asia Pasifik dalam 5 tahun terakhir dengan banyak agen penargetan dan operator asuransi jiwa.

Bagaimana tren industri asuransi tahun depan? Untuk tataran strategis setidaknya ada empat hal yang menjadi perhatian para eksekutif puncak atau pengambil keputusan di perusahaan asuransi. Pertama, perusahaan asuransi harus dapat beradaptasi. Dalam era perubahan dan loyalitas tidak lagi menjadi perhatian konsumen, industri harus melampaui produk dan layanan inti jika ingin mempertahankan basis pelanggan.

Kedua, peta pertumbuhan yang berbeda. Pendekatan tradisional dalam menjual produk asuransi sudah harus berubah. Pertumbuhan akan datang dari model berbasis layanan baru, produk inovatif dan fokus yang lebih besar pada pencegahan. Ketiga, dalam lingkungan yang sangat kompetitif, perusahaan tidak dapat lagi mengandalkan pertumbuhan organik atau inovasi internal. Pemenangnya adalah mereka yang dapat menjalin aliansi dengan perusahaan baru yang inovatif, bersekutu dengan InsurTech, dan berkonsolidasi dengan rekan-rekan mereka.

Keempat, perubahan teknologi telah terjadi. Perusahaan asuransi perlu mengetahui cara menggunakan teknologi yang tepat untuk tujuan yang benar atau mereka berisiko ketinggalan. Diperkirakan pada akhir tahun ini premi akan tumbuh 14% dari target 10%. Tahun depan diestimasi tumbuh 17% dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019 masih sejalan dengan target saat ini 5,3%.

Dilihat dari data premi asuransi umum selama ini masih bertumpu kepada lini bisnis asuransi harta benda dan asuransi kendaraan bermotor yang mayoritas diperoleh dari permintaan lembaga keuangan pembiayan yang mengharuskan adanya asuransi atas penyaluran kredit yang diberikannya kepada debitur. Lini bisnis asuransi kredit juga tumbuh tinggi dengan alasan tersebut.

Dengan demikian sumber bisnis asuransi masih bertumpu kepada tertanggung korporasi atau dunia usaha yang memang memiliki preferensi risk avers (menghindari risiko) dan sudah pasti menjadi konsumen asuransi. Tantangan industri asuransi saat ini dan kedepan adalah bagaimana menggarap masyarakat yang masih belum mengerti asuransi agar mengerti, memahami serta membeli asuransi. Masyarakat kelompok ini jumlahnya sangat banyak serta tersebar ke seluruh wilayah Indonesia.

Berdasarkan catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per 2017, indeks literasi asuransi baru mencapai 15,76%, turun dari survei 2013 sebesar 17,84%. Tingkat utilitas asuransi juga baru 12,08%. Data ini menunjukkan potensi konsumen asuransi sangat besar, dan yang sangat perlu dilakukan adalah literasi masif kepada seluruh masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah. Industri asuransi sudah mencoba merumuskan produk asuransi mikro yang khusus ditujukan kepada kelompok masyarakat menengah bawah dengan fitur pertanggungan yang sederhana, mudah diperoleh, premi ekonomis, dan pembayaran klaim segera.

Pemasaran asuransi mikro ternyata masih sulit dilakukan oleh industri asuransi umum. Perkembangan positif saat ini, mulai banyak perusahaan asuransi umum yang membuat produk-produk asuransi individu seperti travel insurance, household insurance, dan accident and health insurance. Kedepan ini diharapkan menggeser portofolio tertanggung asuransi umum yang selama ini didominasi tertanggung korporasi serta lini bisnis asuransi property dan kendaraan bermotor.

Namun kenaikan literasi dan penetrasi asuransi tetap akan sulit mengejar industri jasa keuangan lain jika tidak dilakukan secara masif. Untuk itu keterlibatan teknologi adalah suatu hal yang tidak terhindarkan. Oleh karena itu bicara mengenai pertumbuhan industri asuransi adalah bicara tentang insurance industry 4.0.

Setidaknya di Hari Asuransi tepat hari ini menjadi momentum bagi semua pemangku kepentingan untuk bersama berkomitmen membangun industri asuransi yang lebih maju.

*Penulis merupakan Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia

Sumber : Bisnis Indonesia