OPINI: Quo Vadis Budaya Berpikir Kritis

Ilustrasi Pendidikan. - Harian Jogja
23 Oktober 2019 06:02 WIB Arie Hendrawan Aspirasi Share :

Artikel ini dilatarbelakangi oleh kegelisahan penulis sebagai guru terhadap rendahnya budaya berpikir kritis peserta didik. Bukan berarti mereka tidak memiliki kemampuan tersebut. Namun, potensi berpikir kritis yang mereka punya cenderung hanya dipakai untuk merespons tren budaya populer, seperti makanan, film dan festival. Sementara, dalam domain akademis dan otentis, hal itu masih kurang diasah.

Padahal, saat ini berpikir kritis dan solutif menjadi salah satu keterampilan abad 21 yang wajib dikuasai oleh peserta didik, selain kreativitas dan inovasi, komunikasi serta kolaborasi. Berpikir kritis sendiri memiliki banyak definisi, tetapi sederhananya dapat diartikan sebagai proses berpikir secara kompleks untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menarik simpulan dari setiap informasi yang didapatkan.

Berpikir kritis berbeda dengan berpikir sinis. Berpikir kritis membangun sedangkan berpikir sinis menjatuhkan. Berpikir kritis itu menyadarkan sedangkan berpikir sinis justru mengaburkan. Lemahnya daya berpikir kritis dipengaruhi banyak faktor. Salah satu faktornya adalah tingkat literasi yang rendah, khususnya dalam budaya membaca. Sementara, arus informasi digital yang kini beredar sangat besar.

Di samping itu, faktor lain yang juga ikut mempengaruhi adalah pola pikir linear yang telah menjadi warisan dari sistem pendidikan lama. Sejak dulu sering diajari cara belajar tetapi tak pernah diajari bagaimana cara untuk berpikir. Alhasil, dalam belajar, peserta didik selalu menggunakan metode hafalan, yang oleh Sabda PS, pendiri dari Zenius Education, dikatakan sebagai cara belajar yang paling dangkal.

Bukan berarti menghafal tidak penting sebagai cara untuk belajar, tetapi ada metode yang lebih baik, yaitu dengan memahami. Melalui hafalan, kita hanya akan mengingat-ingat materi dari permukaan. Sementara itu, dengan memahami, kita bisa mengetahui materi secara mendalam, sehingga tidak terikat oleh hafalan. Lantas, bagaimana agar kita mudah memahami sesuatu? Sederhana, dengan cara berpikir kritis.

Namun, potensi itu akan pupus ketika kita tidak berusaha untuk membudayakan berpikir kritis. Misalnya, dalam pembahasan tentang penemuan radio, pertanyaan-pertanyaan yang sering berputar di benak kita adalah siapa penemunya? kapan ditemukan? dan di mana ditemukan? Tanpa kita sadari, hal tersebut merupakan pola pikir linier yang hanya berorientasi pada hafalan semata.

Oleh karena itu, kita perlu melatih otak kita untuk ke luar dari pola pikir sempit itu. Caranya dengan mengubah daftar pertanyaan, seperti contoh, bagaimana radio bisa ditemukan? mengapa radio dibuat? atau bagaimana dampak penemuan radio? Dengan demikian, cakrawala berpikir kita akan semakin luas dan sekaligus dapat memahami informasi secara utuh, tidak setengah-setengah dan asal tahu.

Keterampilan berpikir kritis seperti dijelaskan diatas, tidak hanya dapat diterapkan dalam ranah akademis, melainkan juga pada ranah otentis atau kehidupan sehari-hari. Artinya, potensi berpikir kritis mampu menyelesaikan berbagai persoalan yang ada di kehidupan sehari-hari. Hal tersebut tidak terlepas dari cara kerja berpikir kritis yang melihat segala sesuatu dengan perspektif-perspektif baru.

Sejarah mencatat, peradaban umat manusia ikut dibangun oleh kemampuan berpikir kritis. Misalnya saja, andai Edison tidak berpikir kritis untuk memperbaiki penemuan lampu bohlam dari 22 ilmuwan sebelumnya, mungkin sampai detik ini dunia masih gelap gulita. Atau, jika saja founding fathers Indonesia tidak berpikir kritis untuk mencapai kemerdekaan, mungkin hingga sekarang bangsa kita masih terjajah.

Sementara itu, di orde media dan informasi seperti saat ini, berpikir kritis membantu kita mengolah memvalidasi setiap informasi dengan baik. Tujuannya, agar kita tidak mudah dibohongi oleh informasi-informasi palsu (hoax) yang dapat menyebabkan kemunduran peradaban yang telah dibangun selama ini. Dampak informasi hoaks bersifat multidimensional yang berimplikasi pada berbagai lini kehidupan.

Atas dasar itu, kita semua wajib untuk bersama-sama membudayakan berpikir kritis. Hal tersebut bisa dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah, hingga masyarakat sebagai Tripusat Pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara. Sebagai pendidik, guru juga harus memfasilitasi peserta didik yang berpikir kritis dengan mengedepankan sifat inklusif. Terakhir, kita amalkan advis Tan Malaka, “Berpikir besar, kemudian bertindak!”

*Penulis merupakan guru PPKn di Semarang/mahasiswa S2 Ilmu Politik Undip