OPINI: Storynomics Tourism, Strategi Anyar Dongkrak Pelancong

Salah satu atraksi yang ada di sekitar Kawasan Otoritatif BOB yakni jelajah menggunakan kendaraan off road, Loano, Purworejo, Jawa Tengah, Rabu (14/8)./ Ist. - BOB
28 Oktober 2019 06:47 WIB Agus Rochiyardi Aspirasi Share :

Kita surprise ketika film Laskar Pelangi yang ditulis Andrea Hirata, yang disutradari Riri Reza dengan produsernya Mira Lesmana pada 2008, ditonton lebih dari 4,6 juta pemirsa yang berdampak kepada kepopuleran Pulau Belitung. Demikian pula film Ada Apa Dengan Cinta 2 yang mampu mendongkrak angka kunjungan ke destinasi Punthuk Setumbu Borobudur, Magelang, Jawa Tengah.

Adanya film ternyata mengangkat sebuah tempat yang dijadikan lokasi pengambilan gambar menjadi populer, sebagaimana yang dicontohkan. Hal ini sangat menarik untuk dibahas sehingga dapat digunakan sebagai acuan untuk perencanaan pengembangan sebuah destinasi.

Di dalam industri pemasaran telah terjadi perubahan yang sangat signifikan, di mana berdasarkan sebuah penelitian, jumlah penonton televisi yang berusia dibawah 40 tahun mengalami penurunan sebanyak 30%, dan media tayangan tanpa iklan Netflix meningkat tajam subcribers-nya. Hal ini terjadi dikarenakan generasi sekarang ini yang hidup di era informasi digital kurang suka iklan, sangat mudah bosan dan selalu berusaha mendapatkan sesuatu yang baru.

Pemirsa televisi pada saat tayangan iklan selalu mengganti saluran ke saluran yang lainnya untuk menghindari iklan ataupun alasan lainnya sehingga dengan terpaksa pengiklan memasang iklan pada saluran yang berbeda pada waktu yang bersamaan agar iklannya tetap terlihat oleh pemirsa televisi, ini sangat boros dan berbiaya mahal.

Pemasar memahami keterbatasan anggaran dan ingin tetap menanamkan gambaran di benak konsumen, mereka mencari jalan keluar agar iklannya dapat dilihat oleh pemirsa walau dengan sistem memaksa, misalnya dengan teks berjalan pada saat tayangan utama, acara bincang-bincang dengan latar belakang ada iklannya, juga pada saat siaran langsung pertandingan bulutangkis, tiba-tiba lantai pertandingan ada gambar iklannya.

DNA Destinasi
Secara teori, komunikasi merupakan penyampaian pesan baik verbal maupun nonverbal dari si pengirim kepada penerima, di mana melalui chanel yang dapat terganggu adanya gangguan, bisa karena keterbatasan kompetensi, budaya maupun usia, yang terkadang berpengaruh terhadap timbal balik yang diberikan si penerima pesan (Eric Baron, 2010).

Agar timbal balik yang diberikan akurat maka diusahakan mengeliminasi gangguan, dalam hal ini Storynomics diharapkan mampu mengeliminasi adanya gangguan. Storynomics berasal dari kata history yang berarti cerita masa lalu, dan nomic berasal dari kata yunani nomos yang berarti peraturan, aturan atau hukum.

Menko Maritim Luhut BP (kanalIndonesia.com, 30/8/2019) menyampaikan storynomics merupakan sebuah pendekatan pariwisata yang mengedepankan narasi, konten, kreatif dan living culture serta menggunakan kekuatan budaya sebagai DNA destinasi.

Di dalam bukunya Robert Mckee yang berjudul Storynomics, story-driven Marketing in the post-Advertising world (Twelve,New York-Boston, 2018) dijelaskan sebuah story merupakan serangkaian kegiatan-kegiatan yang mengkait, menahan dan atau mampu menggerakan orang untuk bertindak, di mana story yang dikaitkan dengan praktik bisnis akan mendorong ke hasil finansial.

Di dalam penelitian yang dilakukan oleh Prof Dr Jennifer Aaker (Standford University, 2012) terungkap bahwa sebuah story 22 kali lebih mudah diingat bila dibandingkan dengan kenyataannya sendiri. Visual diproses didalam otak 60,000 kali lebih cepat dibandingkan teks dan selain itu informasi yang ditransmisikan ke otak 90% berbentuk visual.

Pada penelitian yang lain, sebuah story yang diceritakan oleh penceritanya akan menghasilkan persamaan gelombang frequensi di otak pendengarnya (Greg J. Stehens, Lauren J. Silbert & Uri Hasson Princeton University, 2014).

Destinasi Baru
Secara umum storynomics dalam pariwisata merupakan kegiatan ekonomi pariwisata yang berbasis story atau cerita, dengan mengedepankan konteks awareness, experience, memory dan testimoni dari berbagai hal yang terkait dengan kepariwisataan.

Awareness merupakan kemampuan konsumen dalam mengenali atau mengingat sebuah objek atau peristiwa tertentu bisa berbentuk merek, nama, gambar, logo dan juga slogan-slogan yang pernah konsumen dapatkan.

Experience atau pengalaman merupakan hal yang sangat menantang dan paling dicari oleh generasi muda, di mana destinasi baru banyak diminati, apalagi yang dapat menimbulkan pengalaman baik berupa kenangan ataupun sensasi yang dimunculkan destinasi pada saat perjalanan, menikmati akomodasi ataupun pada saat menikmati atraksi itu sendiri.

Sesuai dengan jiwa kaum milenial dan generasi Z, mereka ingin selalu diperhatikan, yaitu dengan memasang status di Instagram, Facebook, dan lain-lain melalui foto-foto di destinasi yang diunggah sehingga foto-foto ini dapat menunjukkan keberadaannya, dan juga dapat digunakan untuk me-recall kenangan lama.

Di setiap kesempatan, generasi muda dalam merencanakan travellingnya selalu mencari testimoni-testimoni dari orang-orang yang pernah berkunjung pada sebuah destinasi sehingga dengan mengacu pada hal tersebut mereka memutuskan pilihannya.

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk membuat sebuah storynomics, mulai dari memberdayakan generasi muda untuk membuat travel vlog, pembuatan film-film layar lebar yang berlatar belakang sebuah destinasi, kerja sama dengan National Geographic membuat film dokumenter keindahan flora-fauna Indonesia, pembuatan animasi dan vertual reality terkait dengan budaya dan legenda yang ada di Indonesia dan lain-lain.

Dengan memanfaatkan berbagai media dapat diciptakan story yang dapat mengurangi gangguan yang sangat mengganggu sehingga pelanggan akan dapat melihat dan menikmati keindahan alam, budaya maupun berbagai kegiatan atraksi yang ada di Indonesia. Pada akhirnya storynomics dapat dipakai sebagai salah satu strategi baru untuk mendatangkan wisatawan ke Indonesia.

*Penulis meruapkan Direktur Badan Otorita Borobudur