OPINI: Keteladanan Pahlawan bagi Insan Pendidik

Ilustrasi. - SOLOPOS/Ratna Puspita Dewi
12 November 2019 05:17 WIB Sumardjo Aspirasi Share :

Para pahlawan telah mencontohkan dan membuktikan bahwa kemerdekaan Republik Indonesia (RI) dapat diraih dikarenakan dalam diri pejuang sudah memiliki modal. Modal dimana untuk dapat rela berkorban, ikhlas serta pantang menyerah. Semangat itulah yang patut diteladani pada masa sekarang, tidak hanya bagi bangsa Indonesia maupun generasi muda, akan tetapi pula semangat itu harus ada dalam diri pendidik agar selalu mempunyai semangat untuk berjuang memperjuangkan masa depan anak bangsa terbebas dari ketertinggalan dan kebodohan.

Pada zaman penjajahan para pahlawan telah berjuang. Berjuang tidak menggunakan alat perang modern, tetapi dengan sebilah keris atau bambu runcing mereka telah membuktikan bahwa berjuang tidak harus menggunakan alat yang ampuh. Alat yang ampuh yang mereka yakini dan akhirnya dapat merebut kemerdekaan ialah dengan sebuah modal dalam diri. Semangat untuk rela berkorban, semangat ikhlas dan semangat pantang menyerah.

Hal tersebut harus dapat menjadi teladan terutama bagi pendidik era anak didik ditengah teknologi yang terus berkembang. Modal rela berkorban, ikhlas dan pantang menyerah harus dapat diimplementasikan oleh pendidik saat ini. Semangat pendidik untuk rela berkorban, dimana sebuah tindakan dengan melakukan dengan penuh kerelaan maupun keikhlasan di dalam hati dan tanpa dalam dirinya terbesit untuk mengharapkan suatu imbalan dengan bersedia memberikan sesuatu mulai dari waktu, tenaga sampai pemikirannya.

Di dalam lingkungan pendidikan, semangat tersebut dapat dilakukan pendidik untuk meluangkan waktunya, tenaganya serta pemikirannya memberikan ilmu sesuai yang dibutuhkan anak didik. Tidak berorientasi pada target pengajaran yang harus diselesaikan dalam sehari akan tetapi rela meluangkan waktunya ketika anak didik belum menguasai materi yang diajarkan dengan mendampingi serta membimbing sampai anak didik sudah mampu memahami materi yang telah diberikan tanpa berkeluh kesah ataupun merasa terpaksa.

Selain itu sikap rela berkorban tidak hanya dilakukan pendidik di dalam lingkungan sekolah tempat belajar mengajar, namun juga semangat tersebut ditunjukkan di lingkungan masyarakat. Seperti diketahui masih banyak anak yang diluar sana harusnya bersekolah namun sudah ada anak yang sudah putus sekolah bahkan sudah banyak yang bekerja padahal belum waktunya untuk bekerja. Sebagai pendidik mendapati situasi tersebut harus dapat tergerak hatinya untuk menyapa dan mengajak mereka untuk kembali bersekolah. Bila mereka belum mau, pendidik dapat meluangkan waktunya untuk memberikan waktunya mendatanginya setiap sore dengan mengenalkan berbagai macam pelajaran dengan cara inovatif dengan tujuannya agar mengajak mereka kembali ke sekolah. Layaknya seorang guru yang mendatangi anak didiknya.

Semangat keikhlasan pendidik dalam mentransfer ilmunya juga diuji. Rela memberikannya serta ilmu yang diberikan tidak hanya ilmu yang hanya melaksanakan kurikulum yang ada, melainkan ilmu yang diberikan tersebut juga dapat berguna bagi anak didik untuk menjalani masa depannya dengan baik. Ikhlas mencerdaskan anak bangsa dan mengesampingkan hasil (gaji) yang ada. Pendidik harus dapat selalu enjoy dalam mentransfer ilmu kepada anak didik meskipun mempunyai beban mental yang tidak ringan berhadapan anak didik dengan beragam karakter yang dimiliki anak didik.

Sikap rela berkorban dan ikhlas tentunya harus diimbangi dengan selalu bersemangat pantang menyerah menghadapi situasi apapun dengan anak didik. Pantang menyerah mendampingi anak didik yang belum menguasai serta menyelesaikan mata pelajaran, pantang menyerah untuk selalu menampilkan materi yang menyenangkan bagi anak didik, pantang menyerah mengembangkan sikap positif anak dalam kegiatan pembelajaran, pantang menyerah mengembangkan budi pekerti dan karakter yang dimiliki anak didik yang beragam karakter serta pantang menyerah untuk berinteraksi komunikasi yang selalu kondusif dan nyaman dengan anak didik.

Ketiga sikap tersebut hendaknya menjadi spirit yang harus terpatri pada insan pendidik untuk meneladani jasa – jasa para pahlawan.  Sudahkah kita bersikap demikian? Bagi yang belum memiliki ketiganya saatnya untuk dapat mulai membangun semangat tersebut meskipun nantinya masih banyak mengalami kendala dalam berinteraksi dengan anak didik.

Bagi yang sudah memiliki ketiga sikap tersebut, janganlah menjadi kendor akan tetapi justru harus semakin terpupuk untuk selalu rela berkorban dengan keikhlasan serta selalu pantang menyerah menghadapi permasalahan atau kendala saat berinteraksi dengan anak didik. Agar di dalam pendidikan dapat tercipta tujuan pembelajaran yang optimal serta kegiatan belajar dan mengajar yang lebih nyaman bagi anak didik.

Perjuangan pahlawanan tidak ada artinya bila tidak diikuti semangat untuk memaknainya. Hendaklah insan pendidik memaknai kemerdekaan ini untuk selalu berjuang bagi anak didik  untuk memerdekakan dari ketertinggalan dan kebodohan demi kehidupan dan kemajuan masa depan anak bangsa.

*Penulis merupakan pensiunan Kepala SD di lingkungan Pemda DIY