OPINI: Stunting, Sebuah Pekerjaan Rumah

Ilustrasi anak 'stunting' atau kerdil yang antara lain disebabkan kurang gizi. - Istimewa
11 Desember 2019 05:02 WIB Risyaf Fahreza Aspirasi Share :

Cukup men­cengangkan bah­wa masih ada se­kitar 9 juta anak di Indonesia yang mengalami ke­ku­rangan gizi kronis atau stunting. Itulah kenapa Presiden Joko Widodo saat mengumumkan dr. Terawan sebagai Menteri Kesehatan, secara tegas menyebut masalah stunting akan menjadi salah satu prioritas utama yang harus diselesaikan. Tentu ini bukan tantangan mudah bagi Menkes yang baru, tapi juga bukan hal yang tak mungkin diselesaikan.

World Health Organization (WHO) menyebut stunting adalah kondisi terjadinya gangguan pertumbuhan dan perkembangan pada anak-anak yang dipengaruhi oleh kurangnya asupan gizi. Dalam jangka waktu lama, masalah tersebut dapat mempengaruhi pertumbuhan anak, yang biasanya ditandai dengan tinggi badan yang lebih rendah dibanding standar usianya. Dampaknya, anak-anak yang mengalami masalah stunting akan memiliki kemampuan kognitif, motorik, dan intelektual yang rendah, serta daya tahan tubuh rentan sehingga mudah terserang penyakit. Hal tersebut akan menurunkan kualitas sumber daya manusia secara umum.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utama terjadinya stunting pada anak. Pertama dan yang paling utama adalah kurangnya asupan nutrisi dari makanan yang dikonsumsi oleh si anak sejak dalam kandungan. Kedua, pola asuh orang tua yang tidak memberikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. Ketiga, kurangnya kesadaran akan kebersihan dan pola hidup sehat. Ketiga faktor di atas diyakini menjadi penyebab tingginya angka stunting di Indonesia. Hal ini didukung oleh beberapa fakta bahwa 1 dari 3 ibu hamil di Indonesia mengalami anemia. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya asupan gizi dan kurangnya suplemen zat besi.

Fakta selanjutnya, sekitar 60% dari bayi usia 0 hingga 6 bulan tidak mendapatkan ASI eksklusif karena beberapa sebab. Ditambah lagi, 2 dari 3 anak usia 6 hingga 24 bulan tidak mendapatkan makanan pendamping ASI. Padahal, pemberian ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI selama 24 bulan pertama dapat mengurangi risiko gagal tumbuh pada anak. Terakhir, sebagian besar masyarakat belum memiliki akses terhadap sanitasi yang memadai dan air bersih. Selain itu, ada kenyataan yang cukup perih bahwa 1 dari 5 rumah tangga di Indonesia masih buang hajat di ruang terbuka.

Dampaknya, stunting terjadi di hampir setiap wilayah Indonesia. Data terakhir yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa 27,67% anak di Indonesia mengalami stunting. Angka ini terbilang cukup besar, bahkan pada 2016 Indonesia berada pada urutan 108 dari 132 negara berdasarkan data dari Global Nutrition Report. Di Asia Tenggara, Indonesia berada di peringkat kedua teratas setelah Kamboja. Tingginya angka prevalensi stunting tersebut menimbulkan masalah lain, yaitu tingkat kecerdasan anak. Sebab pertumbuhan anak kurang optimal, Indonesia pernah berada di urutan 64 dari 65 negara untuk urusan tingkat “kecerdasan” siswa berdasarkan asesmen PISA, lembaga internasional yang melakukan asesmen terhadap kompetensi membaca, matematika, dan sains.

Rendahnya kompetensi anak yang terkena stunting berimbas pada penurunan produktivitas tenaga kerja. Dalam jangka panjang, produktivitas tenaga kerja yang rendah akan menghambat daya saing bangsa, memperburuk angka kemiskinan, dan menurunkan kualitas pertumbuhan ekonomi. Tak ayal, di banyak negara stunting sudah dianggap menjadi masalah besar karena menimbulkan kerugian yang tidak sedikit. Misalnya di Kamboja, salah satu negara dengan angka stunting tertinggi di dunia, kerugian ekonomi akibat stunting diperkirakan sebesar US$400 juta setiap tahunnya atau 2,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Setali tiga uang, di Afrika, wilayah dengan kejadian stunting terbanyak di dunia, stunting menyebabkan economic loss hingga 11% dari PDB setiap tahunnya. Di Indonesia, kerugian ekonomi akibat stunting diperkirakan hingga Rp1.200 triliun per tahun.

FOKUS PEMERINTAH

Tak heran apabila Pemerintah menaruh perhatian serius pada masalah stunting. Beberapa program prioritas telah dicanangkan, komitmen seluruh instansi juga sudah dituangkan. Hal tersebut tercermin dalam tiga arah kebijakan pencegahan stunting. Pertama, peningkatan intervensi Pemerintah dengan sasaran ibu hamil, ibu menyusui, dan balita, antara lain melalui penyediaan makanan tambahan. Kedua, perbaikan akses dan sanitasi dasar melalu penyediaan air minum dan akses sanitasi yang layak. Ketiga, Pemerintah akan meningkatkan cakupan program bantuan sosial, diantaranya melalui pemberian bantuan pangan non-tunai untuk keluarga kurang mampu.

Untuk mendukung program-program tersebut, Pemerintah menyediakan dukungan fiskal melalui APBN. Baik dari sisi belanja pemerintah pusat, maupun Transfer Ke Daerah dan Dana Desa (TKDD). Dari sisi belanja pemerintah pusat, anggaran dialokasikan antara lain melalui pos belanja dana dekonsentrasi, dana tugas pembantuan, dan subsidi. Sedangkan dari sisi TKDD, Pemerintah juga mengalokasikan anggaran untuk penanganan stunting melalui Dana Alokasi Khusus yang memang ditujukan untuk mendanai kegiatan khusus di daerah yang menjadi prioritas nasional.

Program-program dan du­kung­an fiskal tersebut diharapkan dapat menurunkan angka pre­ve­lensi stunting menjadi 22% pada 2025. Target tersebut bu­kan barang mustahil untuk di­ca­pai. Banyak contoh di be­berapa negara yang berhasil me­nu­runkan angka stunting. Tak perlu jauh-jauh, tetangga dekat bisa menjadi contoh nya­ta. Misal di Vietnam, angka stun­ting berhasil diturunkan da­ri 50% menjadi 23% melalui be­be­rapa upaya, seperti pemberi­an cuti 6 bulan bagi ibu melahir­kan agar dapat memberikan ASI eksklusif bagi bayinya. Pun de­mi­kian dengan Thailand, ang­ka stunting turun dari 50% ke 20% melalui pemberdayaan relawan di daerah-daerah de­ngan angka stunting tertinggi.

Program-program di negara tetangga tersebut bisa ditiru karena sudah terbukti berhasil menurunkan angka stunting cukup signifikan. Tapi yang perlu diingat bahwa program-program yang bagus saja tidak cukup, perlu komitmen yang kuat dari seluruh pihak untuk menurunkan angka stunting. Kita harus sepenuhnya sadar bahwa anak-anak adalah masa depan bangsa ini. Jadi, pekerjaan rumah untuk menurunkan angka stunting ini harus segera diselesaikan. Karena generasi yang sehat adalah fondasi kokoh bagi masa depan sebuah bangsa.

*Penulis merupakan Health Economist Badan Kebijakan Fiskal

Sumber : Bisnis Indonesia