OPINI: Peluang Wilayah Penyangga YIA

Presiden Joko Widodo bersama rombongan saat meninjau salah satu fasilitas di terminal penumpang di Yogyakarta Internasional Airport (YIA), di Kecamatan Temon, Kabupaten Kulonprogo, Kamis (29/8). - Harian Jogja/Jalu Rahman Dewantara
31 Desember 2019 06:02 WIB Satwika Ganendra Aspirasi Share :

Dalam berbagai kesempatan, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan HB X menjelaskan visi dan misi pantai selatan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi DIY. Gubernur berketetapan merealisasikan paradigma Among Tani dan Dagang Layar, yaitu maksimalisasi potensi kelautan di sektor selatan DIY untuk kemaslahatan masyarakat.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, Energi dan Sumber Daya Mineral DIY pernah menjelaskan wilayah selatan DIY akan menjadi beranda depan pusat pertumbuhan ekonomi. Hal tersebut sekaligus mengawal keberadaan Yogyakarta International Airport (YIA) atau Bandara Internasional Yogyakarta (BIY) di Kecamatan Temon, Kulonprogo.

Dalam pelaksanaannya tentu bertali temali dengan kebijakan pemerintah-pemerintah daerah di wilayah penyangga bandara, seperti Jogja, Bantul, Sleman, Gunungkidul, Purworejo, Klaten, Magelang, Boyolali, Kebumen ataupun Wonosobo.

Berkesinambungan
Seperti pernah ditulis di Harian Jogja (2/12). YIA patut didukung prasarana lain, semisal akses jalan bandara antara Pemda DIY dan Pemda Jateng sehingga peluang wilayah itu terbuka, antara lain daerah  wisata Jogja Solo Semarang (Joglosemar) maupun Magelang Kulonprogo Purworejo (Gelangprojo) seperti Candi Borobudur, Prambanan dan Glamping de Loano.

Perluasan kawasan aerotropolis cukup strategis, yang semula hanya lima kilometer dari bandara, menjadi 15 kilometer sehingga Rumah Sakit Umum Daerah Wates juga tengah dibangun jadi rumah sakit bertaraf internasional. Selain kepentingan bandara dan pengembangan kota, sekaligus juga magnet investasi dan peluang bisnis.

Masalah percepatan pembangunan aerotropolis sedang dalam tahap sinkronisasi antara RTDR Kulonprogo, RTRW DIY dan Pemerintah Pusat sampai lahirnya Peraturan Pemerintah tentang Aerotropolis lantaran rencananya YIA beroperasional penuh pada 2020.

Pelaksana Tugas General Manager Yogyakarta International Airport (YIA) Agus Pandu mengatakan berdasarkan monitoring yang dilakukan, progres pembangunan YIA mencapai 90%. Kini tinggal finishing touch yaitu pengerjaan karya seni mengingat DIY kaya dengan nilai seni budaya.

Di samping itu, pembangunan hotel ditarget selesai Februari 2020 sehingga jika YIA beroperasi pada April 2020, kru penerbangan dapat menginap di hotel tersebut, mengingat di Kulonprogo belum tersedia hotel bintang lima beserta infrastrukturnya.

Pada kesempatan berbeda, dijelaskan perkembangan co-working space untuk meningkatkan pelayanan kepada penumpang. Diharapkan adanya co-working space, kebutuhan penumpang, profesional dan kalangan anak muda difasilitasi sehingga sembari menunggu pesawat, berselancar di dunia maya ataupun menyelesaikan pekerjaannya.

Bangun Kreativitas
Sejatinya masyarakat memiliki kreativitas yang tinggi. Contoh asesoris hotel, kafe, barista, kios pernak-pernik maupun resto ala warung lesehan di Jogja membuktikan adanya kreativitas dan entrepreneurship warga. Tinggal bagaimana mengembangkan inisiatif masyarakat di wilayah Joglosemar atau Gelangprojo.

Patut kita ingat bersama konsep Joseph Stiglitz, Creating a Learning Society; A New Approach to Growth, Development, and Social Progress, dalam menciptakan kesejahteraan, akumulasi kreativitas dan inovasi lebih penting ketimbang modal. Kendati investasi juga merupakan motor penggerak kreativitas tersebut.

Oleh karena itu, saatnya kini memperhatikan harmonisasi pembangunan wilayah, baik di lingkup DIY maupun Jawa Tengah. Dalam pandangan sosiopsikologis, pemerataan pembangunan dapat mengubah pola pikir masyarakat lebih mandiri, berinisiatif dan lepas dari ketergantungan subsidi pemerintah.


Peran Generasi Muda
Eksistensi YIA tentu bertali temali dengan lembaga pendidikan, kualitas sumber daya manusia serta pariwisata kawasan penyangga. Sebuah kenyataan, pembangunan tidak terlepas dari pengaruh generasi milenial dan profesional muda.

Dalam Revolusi Industri 4.0, sebagian besar generasi milenial atraktif dengan aktivitas perusahaan rintisan (start up) di masing-masing daerah. Oleh karena itu, keberadaan para pengusaha muda dengan startup-nya perlu dilibatkan untuk pembangunan wilayah.

Kota-kota penyangga di sekitar YIA membutuhkan generasi muda yang mumpuni di bidang keilmuan, keterampilan kerja, kemampuan berbahasa asing dan pemahaman teknologi informasi yang baik. Diharapkan profesional muda tidak latah bekerja di kota besar ataupun luar negeri tetapi justru  membangun daerahnya.

Pimpinan perusahaan dituntut cermat mengelola kehadiran profesional muda. Kehadiran mereka diharapkan menjadi inisiator dan motivator membangkitkan semangat seluruh warga di daerahnya. lantaran keunikan karakter mereka, antara lain berani mengambil risiko, idealis, kepercayaan diri yang tinggi dan tidak kompromistik dengan budaya koruptif.

Masyarakat yang tinggal di wilayah penyangga YIA memiliki harapan besar, tidak hanya visi dan misi Among Tani dan Dagang Layar bagi wilayah DIY yang dapat terwujud tetapi juga peningkatan kesejahteraan penduduk di wilayah Jawa bagian selatan, akan bergegas mengikuti perkembangan wilayah lainnya, di seantero negeri.  Semoga.

*Penulis merupakan staf di perusahaan BUMN