OPINI: Menepis Stres Kerja di Perusahaan

Ilustrasi. - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
21 Januari 2020 05:02 WIB Satwika Ganendra Aspirasi Share :

Di tengah gegap gempita pelaksanaan Revolusi Industri 4.0. Sesungguhnya harapan pemerintah mulai fokus pada upaya meningkatkan entrepreneurship masyarakat, geliat industri kecil, startup serta produktivitas warga.

Apabila fondasi ekonomi belum cukup kuat, maka daya saing bangsa justru berada di tangan warga yang kreatif, inovatif, dan produktif. Tetapi pada kenyataannya, tumpuan harapan selama ini masih berada dipundak aparatur sipil negara (ASN) dan beberapa perusahaan besar baik swasta dan badan usaha milik negara (BUMN).

Di sisi lain, bagi ASN, BUMN dan swasta sebagai tumpuan harapan masyarakat, perkembangan zaman yang bersifat disruptif dan penuh guncangan, seringkali juga mengalami ketegangan psikologis, atau stres kerja, yaitu fenomena turunnya semangat kerja yang berdampak pada produktivitas dan kinerja perusahaan.

Stres Kerja
Perubahan pola kerja yang begitu cepat dan sifat kompetitif yang dahsyat terkadang sulit diikuti pegawai, sehingga cenderung lahir gangguan psikologis yang lazim disebut stress. Dalam dunia kerja, gangguan tersebut masuk dalam kategori stres kerja. Baik terkait dengan bidang pekerjaan maupun lantaran situasi lingkungannya.

Terlebih akhir-akhir ini, tidak sedikit perusahaan yang mengalami kerugian lantaran mismanagement, atau berita viral tentang pimpinan perusahaan terlibat skandal, sehingga harus berurusan dengan penegak hukum. Tidak mustahil seluruh pegawai akan terimbas citranya, sehingga mengalami stress. Kendati sesungguhnya mereka telah bekerja dengan penuh integritas dan dedikasi yang tinggi.

Dalam definisi Health and Safety Executive (HSE) dikemukakan stres adalah reaksi yang merugikan seseorang, merupakan tekanan yang berlebihan atau beban kerja yang tidak rasional kepada seseorang. Dalam kaitan pekerjaan, stres dapat mempengaruhi emosi, semangat kerja, perilaku dan juga produktivitasnya.

Timbulnya stres kerja di perusahaan, menurut Robbin (2006), antara lain faktor lingkungan, yaitu ekonomi, teknologi dan politik. Saat ini ketiga kondisi tersebut bergerak sangat cepat dan seakan berlomba untuk menguasai landscape kehidupan dunia.

Kondisi organisasi yang rentan menimbulkan stres kerja, adalah faktor organisasi perusahaan atau kelembagaan yang berupa role demands, yakni aturan main, tuntutan dan tujuan kerja yang tidak jelas, sehingga pegawai cenderung gagap saat menjalankan tugasnya.

Beberapa penelitian menjelaskan hal tersebut lantaran adanya hambatan interpersonal demands, yaitu kendala informasi dan komunikasi antar pegawai yang satu dengan lainnya, termasuk kendala hubungan komunikasi atasan dengan bawahannya.

Penyebab lain terjadinya stres kerja di perusahaan adalah organizational system, yaitu struktur organisasi perusahaan beserta sistemnya yang tidak mampu menyesuaikan tuntutan pasar. Sistem yang terlalu kaku dan birokratis, bisa menyebabkan pegawai mengalami stres kerja.

Ada juga organizational leadership. Peran dan karakter pemimpin yang hanya mengutamakan pekerjaan, tanpa memperhatikan kondisi dan situasi personal pegawai, acapkali juga menyebabkan turunnya motivasi, semangat serta produktivitas kerjanya.

Manusia Unggul
Untuk menepis terjadinya gangguan stres kerja, di tengah gencarnya pembangunan dan juga persaingan bisnis yang ketat, maka sudah selayaknya pimpinan perusahaan menguasai Manajemen Stres Kerja.
Mengantisipasi kemungkinan terjadinya stres kerja, McGrath (1976) mengklasifikasi aspek timbulnya stres kerja, yang meliputi faktor lingkungan fisik, tugas, peran, perilaku, lingkungan sosial dan aspek kepribadian.

Kemudian Morgan dan King (2003) meringkas penyebab menjadi tiga aspek, yaitu fisik, psikologis dan lingkungan sosial. Kondisi fisik meliputi kondisi ruang kerja (faktor ergonomi dan layout ruangan), sedangkan faktor psikologis meliputi; aspek ketidakpuasan kerja, sulit konsentrasi, mudah lupa, sulit mengambil keputusan.

Pimpinan perusahaan patut memahami tengara psikologis lingkungan kerjanya, seperti misalnya: mudah terjadi penyebaran rumor, suka bergosip, mudah marah, gelisah, cemas, panik, mudah merasa iri atau cemburu, putus asa, pesimistik, merasa tidak berharga, loneliness dan suka menyalahkan diri sendiri.

Mengingat manusia adalah makhluk sosial, maka sistem dan organisasi perusahaan perlu menyediakan waktu, agar terjadi komunikasi yang harmonis antara teman sejawat, atasan dan bawahannya secara timbal balik. Termasuk juga proses interaksi dengan keluarga serta masyarakat di sekitarnya.

Melalui penyempurnaan organisasi secara komprehensif dan terintegrasi, termasuk akurasi sistem dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka perusahaan swasta BUMN maupun kelembagaan negara juga memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan seutuhnya.

Manajemen Stres Kerja adalah katup yang perlu mendapatkan perhatian dalam sistem manajemen modern agar terlahir tenaga kerja yang sehat jasmani dan rohaninya, berkualitas, kreatif, produktif dan berintegritas. Stres kerja memang tidak bisa terhapus, namun jajaran manajemen bisa menekan terjadinya stres kerja di lingkungan kerjanya agar terlahir tenaga kerja yang kompeten, profesional dan berintegritas. Hal tersebut sejalan dengan program pemerintah untuk menciptakan manusia unggul untuk mewujudkan Indonesia Maju. Semoga.

*Penulis merupakan staf di perusahaan BUMN