OPINI: Nihilisme Penglithih

Polisi menunjukkan terduga pelaku klitih dan beberapa barang bukti yang diamankan dalam jumpa pers pada Jumat (4/1/2019) di Polsek Ngaglik. - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
12 Februari 2020 05:17 WIB Ki Sugeng Subagya Aspirasi Share :

Aksi klithih yang marak berlangsung di Daerah Istimewa Yogyakarta sebuah ironi atas predikat kota pendidikan berbasis budaya. Budaya Jawa memiliki kaidah dasar kehidupan, ialah prinsip hidup rukun dan prinsip hormat. Prinsip hidup rukun bertujuan menciptakan keselarasan sosial, ialah suatu keadaan masyarakat yang tenang dan tenteram tanpa perselisihan. Sedangkan prinsip hormat merupakan sikap saling menghargai dan mengasihi.

Fenomena kejahatan jalanan yang pelakunya rata-rata usia belia tidak sekadar kenakalan remaja. Ketika peristiwanya massif dan bertubi-tubi mengesankan ketiadaan daya untuk mencegah dan menghentikannya. Keluarga, sekolah, dan masyarakat sebagai pusat-pusat pendidikan sedang memasuki ruang hampa atas eksistensi dan perannya.

Maraknya aksi klithih memberi petunjuk atas fungsi pendidikan keluarga yang tidak optimal. Pendidikan keluarga tidak mampu secara optimal menumbuhkan kebermaknaan dalam setiap tindakan anggota keluarga. Sikap dan perilaku individu terasa bebas makna. Nihilisme menjangkiti para pelaku klithih.

Nihilisme adalah sebuah pandangan filosofis yang sering dihubungkan dengan Friedrich Nietzsche. Nihilisme mengatakan bahwa dunia ini, terutama keberadaan manusia di dunia, tidak memiliki suatu tujuan. Sebagai manusia seharusnya perlu memberi jawaban atas pertanyaan dari mana, untuk apa, dan hendak kemana. Penglithih sebagai nihilis tidak mampu menunjukkan maksud dan tujuan sikap dan tindakan kriminalnya selain iseng dan main-main.

Aksi Nyata
Nihilis cenderung menganut faham yang tidak menerima apapun. Nihilisme apabila dilihat dari bentuk kata kerjanya berarti meniadakan, membasmi, memusnahkan, menghapuskan, dan melenyapkan segala eksistensi. Terminologi ini dipakai Nietzsche untuk menggambarkan bahwa apa saja yang dahulu dianggap bernilai dan bermakna kini sudah mulai memudar dan menuju keruntuhan. Nilai-nilai kebaikan yang diajarkan di dalam keluarga dianggap tidak ada. Jika pun masih ada, dipersepsikan sebagai tidak bermakna.

Aksi klithih masih saja terjadi dan tidak mereda malah semakin menjadi-jadi. Korban jiwa dan luka-luka berjatuhan. Hal ini menunjukkan semakin masifnya penganut nihilisme. Klithih sebagai aksi anti sosial dan tidak bermoral dipersepsikan oleh pelaku sebagai mencari kesenangan belaka. Seolah klithih merupakan permainan mengasyikan. Aksi klithih adalah kejahatan. Kejahatan adalah perbuatan im-moral dan antisosial yang tidak bisa diterima oleh masyarakat dan ditentang oleh negara. (Bonger, 1982).

Aksi klithih sebagai kejahatan harus dihentikan. Saatnya aparat penegak hukum mengambil tindakan tegas atas perbuatan pidana pelaku klithih. Aksi klithih sebagai manifestasi nihilisme harus dicegah. Eksistensi dan peran keluarga sebagai pusat pendidikan direkonstruksi dalam bentuk aksi nyata, massif, terarah, terukur, dan berdampak. Pendidikan keluarga mengambil peran secara pre-entif berupa penumbuhan kepatuhan terhadap nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Jika nilai-nilai dan norma tertanam kuat pada setiap individu, jangankan kejahatan, niat berbuat jahat tidak akan pernah ada.

Keluarga menjadi panglima dalam melawan nihilisme klithih. Fungsi keluarga, terutama fungsi-fungsi permanen yang tidak tergantikan seperti pendidikan pertama dan utama bagi anak-anak, menduduki peran sentral dalam melawan nihilism. Keluarga harus hadir dalam setiap diri anak, kapan-pun, di mana-pun dan dalam situasi apa-pun. Kasih sayang di dalam keluarga merupakan alat kontrol yang sangat ampuh dalam setiap aktifitas anak.

Model dan Teladan
Mengangani masalah klitih, peran dan eksistensi keluarga sangat sentral. Oleh sebab itu harus dibangun keluarga tangguh. Keluarga tangguh ialah keluarga yang memiliki sistem keyakinan yang positif, hal ini mempengaruhi cara keluarga memandang masalah,krisis dan peristiwa traumatik. Sudut pandang yang positif terhadap krisis akan membuat keluarga mampu mencari solusi-solusi efektif dalam mengatasi masalah.

Rekonstruksi fungsi keluarga dalam pendidikan dilakukan dalam rangka keluarga sebagai (1) sumber kasih sayang dan kekuasaan, (2) penghubung internal keluarga dengan masyarakat dan dunia luar, (3) sumber pemberi perasaan aman dan nyaman, (4) pelindung terhadap ancaman dan gangguan, dan (5) mengadili jika terjadi perselisihan.

Orangtua sebagai pendidik di dalam keluarga selalu menyediakan waktu untuk berinteraksi dengan anak walaupun hanya sebentar. Keterlibatan orangtua dapat dilakukan melalui permainan, pemberian pujian, dukungan, dan menanyakan kejadian-kejadian yang dialami anak pada hari itu.

Orangtua adalah model dan teladan bagi anak. Mustahil melawan klithih dilakukan oleh orangtua yang juga penglithih. Sementara itu, untuk menjadi orangtua yang pendidik di dalam keluarga memerlukan kematangan dan kedewasaan. Pernikahan dini oleh alasan apapun harus dicegah. Tidak mungkin dapat menjadi pendidik keluarga yang mumpuni jika “bocah anak-anak bocah”.

*Penulis merupakan pamong Tamansiswa/Panitera Bidang Penelitian dan Pengembangan Majelis Luhur Persatuan Tamansiswa