RIFKA ANNISA: Kekerasan dalam Relasi Personal

ILustrasi kekerasan anak - JIBI
15 Februari 2020 05:27 WIB Indiah Wahyu Andari Aspirasi Share :

Terwujudnya kebahagiaan rumah tangga merupakan dambaan setiap pasangan yang sudah menikah. Hubungan yang harmonis antara suami-istri akan memungkinkan pasangan ini tumbuh dan mengatasi setiap persoalan dengan baik, juga memungkinkan terciptanya lingkungan yang kondusif bagi perkembangan anak. Sistem dan tatanan sosial di lingkungan pergaulannya dapat berjalan dengan baik, dan pada gilirannya akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Namun tidak semua pasangan dengan mudah mewujudkan kondisi keharmonisan tersebut. Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) mencatat dalam Catatan Tahunan (Catahu) tahun 2018, ada pengaduan kasus di seluruh Indonesia dimana sebanyak 5.167 perempuan mengadukan bahwa dia mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dan sebanyak 1.873 lainnya mengalami kekerasan dalam hubungan pacaran. Dalam mayoritas kasus kekerasan dalam rumah tangga dan relasi personal, perempuan menjadi korban atau orang yang mengalami dampak negatif dari peristiwa kekerasan.

Dalam bangunan konstruksi budaya masyarakat, perempuan dan laki-laki dibedakan tidak hanya berdasarkan perbedaan jenis kelamin biologis saja. Tugas, peran sosial, adat tradisi serta harapan yang berbeda juga dilekatkan pada laki-laki dan perempuan kemudian, yang melekat pada suatu budaya tertentu. Pembedaan secara sosial inilah kemudian yang disebut sebagai gender. Kosakata gender disinggung pertama kali oleh Ann Oakley (1987) untuk membedakan seks (jenis kelamin) secara biologis, dan kenyataan sosial budaya atas seks laki-laki dan perempuan.

Berbagai macam kasus kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan kemudian muncul. Kekerasan yang dilakukan karena menganggap perempuan lebih rendah inilah yang kemudian disebut sebagai kekerasan terhadap perempuan berbasis gender. Bentuk kekerasan sendiri bermacam-macam. Ada kekerasan fisik, psikologis, seksual, ekonomi, dan sosial.

Konstruksi Gender
Dalam konstruksi gender yang timpang, ketika posisi laki-laki menjadi dominan, peran laki-laki menjadi sentral dari segalanya. Budaya pun kemudian dibangun atas dasar hirarki dimana laki-laki dan pandangan laki-laki menjadi suatu norma. Budaya ini disebut sebagai budaya patriarki. Budaya patriarki memandang perempuan sebagai seorang yang lemah dan tidak berdaya. Secara turun temurun, budaya patriarki membentuk perbedaan perilaku, status, dan otoritas laki-laki dan perempuan yang kemudian menjadi hirarki gender.

Dalam relasi yang diwarnai kekerasan, hubungan dibangun berdasarkan konstruksi gender yang timpang dan budaya patriarkhi. Perempuan korban memiliki persoalan psikologis yang kompleks dimana dalam relasi personal, dia sering berada dalam posisi yang kurang diuntungkan. Dia terus menerus membangun harapan bahwa pasangan akan berubah menjadi lebih baik, sementara pada kenyataannya perempuan korban hidup di tengah-tengah teror dan ancaman peristiwa kekerasan yang tidak dapat diprediksi waktunya.

Perempuan korban kekerasan menghadapi peristiwa-peristiwa kekerasan yang dilakukan oleh pasangannya, yang tidak dapat dikontrol, baik itu waktu, intensitas, dan frekuensi kekerasan itu terjadi.
Ketika perempuan korban tidak mampu mengatasi peristiwa kekerasan yang dialami dan berlangsung terus menerus, dia kemudian mengalami kondisi ketidakberdayaan yang dipelajari. Individu yang teraniaya umumnya berpendapat mereka tidak memiliki kekuatan untuk menghentikan perbuatan penyiksanya, dan akhirnya cenderung untuk menghentikan segala usaha untuk meninggalkan atau mengubah kondisi kekerasan tersebut (Bel dan Naugle, 2005).

Pola Relasi
Kekhasan dari kekerasan dalam relasi personal adalah adanya keteraturan pola dan membentuk sebuah siklus. Hal ini terjadi karena di dalam kekerasan berbasis gender terdapat sistematika penguasaan dan kontrol. Tindakan kekerasan dalam relasi ini bukan sebuah tindakan agresi yang hanya dilakukan sesekali, namun sudah menjadi sebuah strategi yang digunakan untuk mengatasi konflik.

Pasangan yang berada dalam pola relasi yang penuh kekerasan akan terjebak ke dalam sebuah siklus kekerasan yang meliputi fase bulan madu, konflik, kekerasan, pengejaran kembali dan kembali ke fase bulan madu. Pada fase bulan madu, kekerasan sedang tidak terjadi. Dalam fase ini belum tentu dipenuhi dengan cinta dan kasih sayang, fase ini hanya menggambarkan suatu situasi yang tenang dan tidak ada gejolak yang berarti. Fase berikutnya konflik, yaitu ketika terjadi sebuah ketegangan dikarenakan sebab-sebab tertentu yang bisa jadi dipicu oleh hal kecil. Sayangnya, penyelesaian konflik diatasi dengan kekerasan. Setelah itu, pelaku akan meminta maaf dan melakukan pengejaran kembali.

Secara umum, banyak hal memicu timbulnya kekerasan, seperti pola komunikasi, status ekonomi, tingkat pendidikan, perbedaan nilai dan budaya, dan sebagainya. Namun, lebih dalam dari itu ternyata ada akar penyebab yang lebih mendasar lagi. Akar tersebut adalah kontruksi gender yang timpang, relasi kuasa yang timpang, dan budaya patriarki. Ketika posisi laki-laki dan perempuan masih timpang, rentan sekali dalam sebuah hubungan untuk terjadi kekerasan.

Nilai-nilai maskulinitas yang berkembang di kalangan laki-laki juga mendukung terjadinya kekerasan. Ketika laki-laki diharuskan untuk menjadi pemenang, menutup sisi afektifnya, dan selalu bersikap rasional, kekerasan akan tetap menjadi jawaban untuk penyelesaian konflik. Jika pola relasi pasangan yang timpang ini dibiarkan, maka siklus kekerasan akan berlangsung terus-menerus. Siklus ini tidak akan berhenti tanpa sebuah kesadaran untuk memerdekakan diri dari konstruksi gender yang terjadi pada dirinya dan pasangan, dan membangun sebuah tatanan baru yang lebih manusiawi.

*Penulis merupakan Konselor Psikologi Rifka Annisa WCC