OPINI: Destinasi Pariwisata Butuh Budaya Rasa Memiliki

Wisatawan menikmati keindahan Songgo Langit, Mangunan, Bantul, Kamis (6/6/2019).- Harian Jogja - Salsabila Annisa Azmi
24 Februari 2020 05:02 WIB Agus Rochiyardi Aspirasi Share :

Pada dasarnya, Pemerintah ada untuk berkompromi, membuat keputusan, dan mendukung sektor swasta, sedangkan sektor swasta ada untuk membuka lapangan kerja dan mendukung kepentingan umum, maka sebagaimana diketahui dalam Undang Undang No.10/2009 tentang Kepariwisataan pada Bab VI Usaha Pariwisata pada pasal 14 terdapat 13 jenis usaha pariwisata, yang mana dari masing-masing jenis usaha ini diisi oleh para pelaku usaha pariwisata yang membuat destinasi dengan basis alam, budaya dan buatan, dalam rangka memenuhi kepentingan umum.

Sesuai dengan penjabaran Rencana Induk Pengembangan Kepariwisataan Indonesia (Peraturan Pemerintah No.50/2011), salah satu yang harus dikembangkan yaitu Destinasi Pariwisata dimana sebagai suatu entitas yang mencakup wilayah geografis tertentu yang didalamnya terdapat komponen produk pariwisata, layanan, serta pendukung lainnya (masyarakat, pelaku industri pariwisata dan institusi pengembang) yang membentuk sistem yang sinergis.

Secara prinsip di dalam pengembangan sebuah Destinasi Kawasan Pariwisata tidak terlepas dari keberadaan amenitas, aksesibilitas dan atraksi namun demikian dalam konteks atraksi harus dipahami yang berkaitan dengan produk, pelayanan dan pengelolaan. Hal ini penting kerena produk merupakan sesuatu yang dijual ataupun dijadikan daya tarik untuk pelanggan, biasanya tangible, dapat dilihat, dirasakan, didengar dalam bentuk alam, budaya maupun buatan sehingga produk ini harus memiliki kriteria yang dianggap memenuhi syarat untuk dijual; Pelayanan lebih bersifat intangible diberikan kepada klien, berupa service exellent yang dilakukan secara terus menerus dan konsisten sedangkan pengelolaan dilakukan oleh manajemen pengelola yang mengendalikan keseluruhan kegiatan dikawasan destinasi pariwisata tersebut sehingga pembuatan standar operasional prosedur, tata tertib, pengembangan kompetensi SDM, remunerasi dan lain-lain ditujukan untuk kemajuan organisasi.

Di dalam sebuah organisasi, rasa saling percaya adalah modal untuk meningkatkan kinerja, namun hal ini tidak bisa dipaksakan ataupun diperintahkan, dan hanya bisa ditumbuh-kembangkan serta diilhami dari organisasi yang sehat, di mana orang-orang yang ada didalamnya merasa terikat dalam suatu kontrak sosial, dan pada akhirnya akan membentuk budaya didalam organisasi tersebut.

Budaya organisasi adalah sebuah sistem makna bersama yang dianut para anggota yang membedakan suatu organisasi dari organisasi-organisasi lainnya, di mana makna bersama ini merupakan sekumpulan karakteristik yang khas yang disepakati dan dijunjung tinggi untuk dilaksanakan dalam organisasi tersebut. Hal ini bisa dalam bentuk bermacam-macam mulai dari yang tangible seperti logo, uniform, dan lain-lain sampai yang intangible berupa perilaku dan lain-lain.

Salah satu sifat manusia yang menonjol adalah ingin selalu menguasai sesuatu, yang berarti memiliki, hal ini dalam artian positif dapat menumbuhkan perbaikan diberbagai hal, karena ada kecenderungan lebih banyak hal baik atau positif yang terjadi dibandingkan hal yang buruk. Sebagai contoh, seorang pemilik, biasanya memperhatikan, peduli, membangun, dan memikirkan masa depan, namun berbeda kalau hanya sekadar sewa. Penyewa sebuah mobil akan merasa enggan untuk mencuci mobil yang disewa karena merasa bukan miliknya, dan masih banyak contoh-contoh yang lainnya.

Sifat kepemilikan akan memusatkan perhatian kepada pemikiran jangka panjang, dan bukan jangka pendek, kepada strategi dan bukan taktik, dan apabila sifat manusia yang merasa memiliki (sense of belonging) ini dapat dikembangkan dalam sebuah organisasi dan ditingkatkan lagi pada level destinasi, apalagi sampai tingkat nasional, maka akan berdampak baik untuk perkembangan kepariwisataan, sehingga muncul istilah Indonesia Incorporated.

Rasa memiliki itu sendiri merupakan hasil kombinasi dari kesadaran, komitmen, respek dan sedikit rasa posesif dalam konteks dedikasi dan kompetitif, yang dimiliki oleh orang-orang yang ada didalam sebuah organisasi. Hal ini juga berperan sebagai pembentuk identitas diri serta memotivasi seseorang untuk berpartisipasi dalam kelompoknya.

Sebuah destinasi yang diawaki oleh orang-orang yang rasa memilikinya tinggi akan berimbas positif pada organisasi yaitu dapat tumbuh dan berkembang dengan baik, karena tanpa paksaan mereka akan secara sukarela melakukan tugas-tugas yang diemban tanpa merasa terbebani, dan dengan sepenuh hati mendedikasikan dirinya kepada perusahaan.

Dengan rasa memiliki yang tinggi maka organisasi akan mudah menjadikan destinasinya menjadi sebuah trendsetter, misalnya dengan menggali ide-ide kreatif, melakukan kolaborasi dengan pentahelix, mengembangkan rantai nilai yang positif, mengembangkan keunikan yang dimiliki organisasi dan melakukan inovasi baik dari pengetahuan baru, cara baru, objek baru, teknologi baru maupun penemuan baru.

Dari hasil diskusi di beberapa tempat rekreasi buatan seperti Taman Impian Jaya Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, Taman Safari Indonesia dan sebagainya, mereka mengelola tempat rekreasinya dengan mengedepankan budaya guyup, integritas, saling menghormati, memperhatikan hubungan antar karyawan dan pengelola sehingga karyawan punya rasa memiliki yang tinggi, terbukti selalu saja menawarkan produk-produk yang menarik, diminati pelanggan dan yang terpenting turn over karyawan rendah dan ini membuat organisasi kondusif, mudah diarahkan sesuai keinginan manajemen.

Pada saat karyawan merasa nyaman dan hatinya senang, hal ini akan berdampak kepada pelayanan yang diberikan kepada pelanggan dan dapat menumbuhkan moment of truth positif buat pelanggan.
Pada akhirnya, pengelola sebuah destinasi harus mampu menciptakan perasaan sense of belonging untuk seluruh karyawannya, dan apabila situasi ini terjadi, maka ide-ide kreatif, kekompakan, sinergi akan banyak bermunculan dan ini akan membuat destinasi tersebut bertahan dan sustain.

*Penulis merupakan Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur