OPINI: Perekonomian Suguhkan Suku Bunga Acuan Melawan Covid-19

Ilustrasi virus Corona. - REUTERS/Dado Ruvic
26 Februari 2020 05:02 WIB Suparmono Aspirasi Share :

Merebaknya virus yang berepisentrum di Wuhan, Tiongkok membuat Bank Indonesia (BI) untuk merevisi target pertumbuhan melalui penurunan suku bunga acuan. Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 19-20 Februari 2020 memutuskan untuk menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 bps menjadi 4,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 25 bps menjadi 4,00%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 25 bps menjadi 5,50%. Seberapa besar dampak yang ditimbulkan dari Covid-19 ini terhadap sendi ekonomi Indonesia dan dinamika global.

Pertumbuhan ekonomi 2020 diperkirakan akan terpukul lebih rendah, yaitu menjadi 5,0%-5,4%, dari prakiraan semula 5,1%-5,5%. Bila benar, maka hal ini akan menjadi petaka terlebih bila penurunan itu lebih besar dari perkiraan. Sebagaimana diperkirakan, turunnya pertumbuhan ekonomi akan membawa Indonesia dalam jebakan kelompok negara dengan pendapatan rendah.

Diperkirakan serangan Covid-19 menjangkiti lebih dari 79.000 orang dan telah merenggut 2.592 jiwa penduduk Tiongkok. Pengaruh terhadap perekonomian domestik akan tertransmisi melalui jalur yaitu jalur pariwisata, perdagangan, dan investasi. Kontribusi sektor pariwisata terhadap PDB 4,8% terutama di 10 destinasi prioritas. Devisa pariwisata pada 2018 mencapai US$19,29 miliar. Belum lagi sektor lain yang akan terpengaruh dari ketakutan wisatawan untuk melakukan perjalanan wisata.

Tingkat hunian hotel, industri transportasi, industri makanan dan minuman, maupun industri lain yang terkait dengan konsumsi wisatawan akan merasakah dampaknya. Kinerja ekspor pun terganggu karena produk ekspor Indonesia sebagian besar masih bergantung pada impor bahan baku yang berasal dari Tiongkok. Bahkan bahan baku farmasi berasal 60% dari Tiongkok. Belum lagi kebutuhan bahan makanan dan minuman, produk-produk olahan dalam kaleng, termasuk produk rumah tangga serta barang elektronik.

Investasi yang harapkan pemerintah untuk menggerakkan perekonomian, pun sampai-sampai pemerintah merancang Omnimbus Law cipta kerja yang masih kontroversi juga tergantung pada Tiongkok. Realisasi investasi dari Tiongkok di Indonesia selama 2019 mencapai US$3,31 miliar. Nilai ini sangat signifikan akan memukul perekonomian Indonesia bila bencana ini terus berlanjut.

Pertanyaannya, relevankah kondisi ini membuat Bank Indonesia harus rasional untuk menurunkan target pertumbuhan ekonomi dan mengambil jalan menurunkan tingkat suku bunga sebagaimana yang dilakukan oleh RRT dan Thailand serta beberapa negara ASEAN lainnya. Bukankan penurunan suku bunga acuan yang telah dilakukan sejak 2019 yang telah mencapai 100 basis poin ini dikhawatirkan akan mengakibatkan permasalahan baru, yaitu potensi krisis likuiditas dalam sistem perbankan nasional.

Penurunan suku bunga seharusnya akan mendorong elemen pertumbuhan ekonomi bergerak terstimulus. Penurunan suku bunga, salah satunya akan mendorong meningkatkan kredit dalam membiayai investasi karena rendahnya cost of capital yang harus mereka tanggung. Pertumbuhan kredit di daerah cenderung rendah selama 2019 meskipun suku bunga telah diturunkan tiga kali. Bahkan pertumbuhan kredit di Sulawesi Utara terjebak pada angka -0,65%, Sumatera Selatan 1,72% dan Provinsi Riau hanya 3,41%.

Secara sektoral, hampir semua sektor tidak mengalami perbaikan pertumbuhan ekonomi kecuali sektor kontruksi, pengangkuran dan telekomunikasi, dan jasa sosial. Belum lagi dana pihak ketiga (DPK) yang juga mengalami penurunan dari 6,72% pada November 2019 menjadi 6,54% pada Desember. Hal inilah yang membuat keraguan palaku dan pengamat ekonomi terkait dengan efektivitas penurunan suku bunga acuan ini.

Penurunan suku bunga acuan juga belum mampu mendongkrak investasi maupun konsumsi sektor rumah tangga. Dilihat dari pertumbuhan ekonomi sisi pengeluaran, selama 2018, pembentukan modal tetap domestik bruto sebesar 6,64% dan turun menjadi 4,45% pada 2019 lalu. Pelaku usaha belum serta merta merespons positif penurunan suku bunga ini dengan memanfaatkannya untuk melakukan investasi.

Bank Indonesia pun masih memiliki optimisme dibalik keraguan sebagian publik. Kita berharap, Ke depan, upaya penanggulangan Covid-19 perlu terus dicermati karena dapat mempengaruhi prospek pertumbuhan ekonomi, volume perdagangan, dan harga komoditas dunia, serta pergerakan aliran modal ke negara berkembang, termasuk Indonesia. Dorongan untuk peningkatan PMA serta mengendalikan defisit transaksi berjalan yang pada 2020 dan 2021 perlu dilakukan agar mencapai pada kisaran 2,5%-3,0% PDB.

Paling tidak dalam jangka pendek ini, perlindungan ekonomi terhadap masyarakat harus dijaga dari sisi daya beli. Bila suku bunga belum mampu menggerakkan instrumen ekonomi strategis lainnya, Bank Indonesia harus tetap menjaga inflasi tetap rendah dan stabil dalam kisaran sasaran 3,0% ±1% pada 2020 dan 2021.

Semoga badai Covid-19 ini segera berakhir sehingga larangan penerbangan dari dan menuju Tiongkok dicabut. Indonesia merupakan 10 besar negara yang dikunjungi oleh wisatawan Tiongkok. Selain penurunan suku bunga, pemerintah seharusnya memberikan insentif untuk mengatasi masalah terkait dengan pariwisata, investasi, dan perdagangan. Insentif tersebut diharapkan sedikit memberikan pemulihan agar kelesuan ekonomi ini tidak berlanjut.

*Penulis merupakan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN/Pengurus ISEI Jogja