OPINI: IHSG, Tahan atau Nyangkut atau Beli?

Ilustrasi. - Bisnis Indonesia/Felix Jody Kinarwan
19 Maret 2020 05:02 WIB Sang Ayu Putu Piastini Gunaasih Aspirasi Share :

Kampanye Yuk Nabung Saham (YNS) yang digemakan pemerintah beberapa tahun terakhir ini telah mampu menarik lebih dari 250.000 investor baru pada tahun 2019. Jumlah tambahan investor tersebut telah mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah Bursa Saham di Indonesia. Namun, investasi saham ternyata tidak semudah yang dibayangkan khususnya bagi investor pemula.

Bagi investor pemula khususnya yang sama sekali belum memahami dan mengenal metode fundamental dalam berinvestasi saham, kemungkinan akan sangat kaget dengan tren fluktuasi yang terjadi. Seperti yang terjadi di awal tahun 2020 hingga saat ini, para investor pemula dibuat panik dan dilatih kesabaran dikarenakan portofolionya hold atau nyangkut atau turun merosot tajam.

Di awal 2020, Indeks Harga Saham gabungan (IHSG) terus merosot tajam hingga saat ini. Bahkan, aksi jual yang masif membuat IHSG mengalami pekan paling mengerikan sejak 2008. Pekan lalu perdagangan di Bursa Efek Indonesia harus dihentikan selama 30 menit karena IHSG turun 5% atau lebih. Tujuannya adalah mengurangi fluktuasi tajam di pasar modal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga memperbolehkan emiten melakukan buyback (pembelian saham beredar oleh emiten) saham tanpa melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Isu Makro
Indonesia sebagai negara berkembang, secara ekonomi sangat sensitif sekali dengan roda ekonomi global (ekonomi makro). Segala jenis isu ekonomi baik positif atau negatif yang terjadi secara makro sangat mempengaruhi IHSG berupa penguatan atau pelemahan. Kondisi merosotnya IHSG saat ini diakibatkan oleh pasar saham global yang berjatuhan. Salah satunya adalah tren negatif yang terjadi pada Indeks Dow Jones.

Beberapa waktu lalu, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengeluarkan kebijakan terkait dengan pandemi virus yang terjadi saat ini. Presiden Donald Trump mengumumkan larangan perjalanan untuk sementara waktu dari dan ke Eropa untuk meminimalkan penyebaran virus Corona (Covid-19). Selain itu, Word Health Organization (WHO) juga telah mengumumkan Covid-19 sebagai pandemi sesaat setelah kebijakan Presiden Donald Trump.

Hal ini yang mengakibatkan Indeks Dow Jones masuk ke dalam kondisi bear market. Bear market merupakan kondisi saat indeks ditutup 20% atau lebih di bawah titik tertinggi yang terbaru. Mengikuti kejatuhan pasar saham global, IHSG juga masuk dalam kondisi bear market. Selain disebabkan oleh pandemi Covid-19, tekanan pasar modal dunia disebabkan pula oleh perang harga minyak, dan penurunan suku bunga oleh Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve (The Fed).

Ibarat sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Indonesia juga ternyata memiliki isu-isu negatif di dalam negeri. Kasus saham gorengan yang masih hangat yaitu kasus dugaan korupsi Jiwasraya dan Asabri juga menyebabkan forced sell sehingga tekanan jual meningkat. Banyak investor asing melakukan net sell sehingga tidak ada yang menahan laju penurunan indeks. Net sell tidak dapat dikontrol karena sebagian pesar pemegang saham di IHSG adalah asing. Selain itu, OJK juga melakukan suspensi produk dari 37 Manajer Investasi (MI). Hal ini mengakibatkan kepercayaan investor ke MI menjadi berkurang dan menarik modalnya kembali. MI yang gagal bayar dan indikasi bermasalah mengakibatkan semakin banyaknya forced sell yang kemudian diikuti kepanikan investor lain.

Naik atau turunnya saham dalam jangka waktu pendek sebaiknya diabaikan, karena menakar perilaku pasar yang tidak rasional seperti saat ini akan sia-sia. Jika fundamental awal berinvestasi yaitu nilai investasi maka proses menyimpan uang dengan ekspektasi mendapat imbal hasil dengan prinsip kehati-hatian harus dijaga.

Pemilihan saham yang tepat dalam berinvestasi saham dapat dianalogikan seperti memilih pasangan. Kita harus bisa menerima pasangan yang agak cuek tetapi pekerja keras atau agak pelupa tetapi penyabar. Apapun kekurangan dan risiko dari saham di portofolio yang diinvestasikan harus bisa diterima.

Kalau saat ini sebagian besar portofolio anda merah bahkan turun 20%-40% pilihan ada di tangan masing-masing bukan mengikuti tren. Tentunya tujuan utama para investor melakukan investasi saham adalah mendapatkan cuan (untung besar). Namun dalam berinvestasi saham khususnya, investor harus siap dengan kondisi hold (nyangkut) dalam jangka waktu tertentu atau hingga kerugian (cut loss).

Dalam menghadapi bear market ini, risiko itu harus di kelola, ketakutan harus dihadapi, kebingungan harus diatasi, dan mental harus dilatih. Pengelolaan emosi menjadi kunci utama dalam berinvestasi saham. Ada trik tersendiri dalam berinvestasi saham yaitu dengan memegang prinsip cash is king.

Maksudnya adalah rutin melakukan top up rekening dana nasabah (RDN) saat kondisi bear market agar uang tunai tidak habis untuk tujuan konsumtif. Ketika IHSG menunjukkan rebond saatnya melakukan aksi buy (beli), hal ini dilakukan untuk menghindari kondisi nyangkut tadi. Selamat mengarungi badai bear market untuk para investor pemula dan semoga selamat sampai tujuan keuangan masing-masing tanpa kekurangan sesuatu apapun.

*Penulis merupakan Dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta