OPINI: Travel Pattern, Pilihan Swasta dan Pertumbuhan Ekonomi

Ilustrasi. - freepik
08 April 2020 05:02 WIB Agus Rochiyardi Aspirasi Share :

Sekarang ini, pariwisata merupakan sunrise industri, jumlah wisatawan pada 2019 sebanyak 1,5 milliar pelancong, berdasarkan hal yang disampaikan United Nation World Tourism Organization (UNWTO) di Madrid, Spanyol pada Senin (20/1) sedangkan wisatawan mancanegara (wisman) yang masuk ke Indonesia menurut Badan Pusat Statistik pada tahun yang sama dikisaran 16,3 juta jiwa. Ini berarti wisatawan yang masuk ke Indonesia relatif kecil sekali.

Melihat potensi yang ada, pemerintah membuat kebijakan untuk kemudahan wisatawan mancanegara masuk ke Indonesia yaitu berupa bebas visa untuk 168 negara, kemudahan perizinan yacth dan cruise untuk embark dan disembark di beberapa pelabuhan, juga kemudahan investor berinvestasi dengan menderegulasi 90% bisnis pariwisata terkait dengan kepemilikan saham dan kemudahan perizinan.

Sayangnya geliat pariwisata yang mulai terlihat, terganggu di akhir Januari 2020 setelah muncul virus Corona (Covid-19) yang mendunia yang di mulai dari kota Wuhan, China. Hampir seluruh negara di dunia melakukan pembatasan pergerakan rakyatnya untuk melakukan perjalanan sehingga hal ini sangat menekan industri pariwisata.

Mensikapi hal tersebut, sambil menunggu redanya Covid-19, para pelaku wisata di Indonesia harus melakukan sesuatu terutama pembenahan dilingkungan internalnya masing-masing, dapat berbentuk peningkatan kualitas SDM, produk, dan lain-lain.

Agen travel sebagai salah satu pelaku industri pariwisata, yang tupoksinya mengatur, merencanakan perjalanan, menawarkan, memberikan saran, termasuk acara dan keperluan perjalanan, untuk memenuhi keingintahuan, kesenangan ataupun menghabiskan waktu luang wisatawan, dan lain-lain harus juga menata ulang perannya.

Pada saat wisatawan hendak pergi berwisata, pilihannya format backpacker atau melalui agen travel, yang berjiwa petualang mungkin memilih backpacker, namun orang yang tidak ingin ribet menyerahkan pilihannya melalui agen travel, tinggal bayar, duduk manis, semua sudah diatur. Adapun faktor pilihan pelanggan berwisata meliputi waktu, harga, ikon wisata, transportasi, dan juga tampilan iklan.

Travel Pattern
Salah satu yang perlu ditata ulang agen travel yaitu pembuatan Travel Pattern yang meliputi rute, sites dan wisatawan, format day-trip, resort trip, holiday-trip, roundtrip dan passing through. Pembuatan Travel Pattern dapat meningkatkan lama tinggal wisatawan dan juga mendorong pemerataan pembangunan pariwisata di daerah.

Travel Pattern yang dimaksud adalah suatu pola perjalanan yang dirancang, dibangun dan dikemas menjadi suatu komoditi yang layak untuk dinikmati. Unsur-unsur yang harus diperhatiakan mencakup informasi umum (geografi, iklim, bahasa, dan budaya lokal); informasi fasilitas umum (kantor polisi, bank, rumah sakit, kantor imigrasi, dan perbelanjaan; identifikasi atraksi wisata (alam, budaya dan buatan); identifikasi fasilitas akomodasi (klasifikasi hotel, kapasitas kamar, fasilitas dan pelayanan, serta kemudahan pencapaian lokasi); identifikasi fasilitas restouran (jam buka, menu serta kemudahan pencapaian lokasi); serta sarana dan prasarana pendukung (moda transportasi, daya dukung jalan, airport dan pelabuhan).

Paket Wisata
Sesudah pembuatan Travel Pattern, selanjutnya dibuat paket wisata dengan kelengkapan itinerary, dengan pertimbangan seperti maksud perjalanan, pilihan destinasi, lama tinggal, anggaran belanja klien, pilihan akomodasi, dan persyaratan dokumen. Paket ini mengatur moda transportasi, akomodasi, dokumen perjalanan, tiket masuk wisata sampai dengan kuliner khas destinasi tertentu, dan ditawarkan dengan thema seperti, pilgrim, honeymoon, wisata sejarah, wisata pendidikan dan lain-lain.

Paket keluar negeri diistilahkan sebagai Outbond Tourism dan sebaliknya wisatawan asing yang masuk kedalam negeri diistilahkan sebagai Inbound Tourism. Berdasarkan waktu, bisa ditawarkan durasi sehari, atau beberapa hari, ada juga yang merujuk jarak tempuh yaitu short hour dengan waktu tempuh ke estimasi kurang dari 6 jam dan long hour yang melebihi enam jam perjalanan. Durasi waktu ini menentukan lama tinggal dari wisatawan yang akan berpengaruh terhadap pengeluaran uangnya.

Awalnya lama tinggal merupakan istilah di rumah sakit yang berarti jumlah hari pasien tinggal dalam satu episode perawatan. Jumlah hari tinggal di rumah sakit mulai pendaftaran sampai keluar dari rumah sakit. Istilah ini diadopsi kedalam istilah pariwisata, dihitung mulai wisatawan masuk ke kawasan pariwisata, melakukan aktivitas wisata, sampai dengan kembali ke tempatnya.

Lama tinggal ditentukan oleh beberapa hal, mulai dari bentuk dan lamanya atraksi, kuantitas atraksi yang ditawarkan, atraksi pendukung disekitar destinasi, dan kemampuan guide didalam bercerita.

Usaha Baru
Adanya Travel Pattern yang dibuat akan mendorong tumbuh pariwisata daerah walaupun baru sekedar wisata pendukung. Hal ini dikarenakan banyaknya wisatawan yang lalu-lalang, dan memerlukan tempat singgah sementara sebelum mencapai suatu destinasi, dan masyarakat memanfaatkan hal tersebut, sebagai contoh munculnya penjualan pusat oleh-oleh, toilet umum, pompa bensin, mushola, ataupun desa wisata, dan lain-lain.

Munculnya bisnis baru disini awalnya dalam rangka memenuhi kebutuhan yang mendesak, seperti mengisi bahan bakar, menjalankan ibadah keagamaan, istirahat, dll. Didalam perkembangannya, masyarakat mulai sadar bahwa kerumunan massa dapat dimanfaatkan lebih dari sekedar yang sudah ada.

Mulailah dibuat play ground anak-anak, sehingga waktu istirahat mereka menjadi lebih lama, dan apabila kondisi semakin baik, muncul investor membuat arena permainan dan bahkan bisa sampai membuat tempat rekreasi baru, maka akan terjadi pertumbahan ekonomi masyarakat daerah sekitar.

Penyusunan Travel Pattern yang komprehensif akan dapat meningkatkan lama tinggal selain itu akan mendorong daerah-daerah yang dilalui dapat tumbuh dan berkembang perekonomiannya. Semoga wabah Virus Corona mereda dan Industri Pariwisata kembali menggeliat tumbuh dan berkembang.

*Penulis merupakan Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur