OPINI: Peran Sipil Menekan Pandemi

Ilustrasi penanganan pencegahan Covid/19
20 April 2020 05:02 WIB Arissetyanto Nugroho Aspirasi Share :

Di tengah isu Pandemi Covid-19 yang telah memengaruhi tatanan sosial masyarakat, beberapa hal dapat kita pelajari dari praktik terbaik negara-negara dunia dalam menghadapi Covid-19. Tanggung jawab sosial atau modal sosial sipil serta insentif individu merupakan sumber daya yang esensial dalam mengelola krisis yang terjadi.

Salah satu praktik menjadi model pengelolaan krisis Covid-19 adalah Korea Selatan. Negara yang mewajibkan warganya untuk mengikuti bela negara, sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran serta tanggung jawab pribadi kepada negara sejak muda.

Semangat ini yang kemudian dalam prosesnya dapat memobilisasi kedisiplinan masyarakat Korea Selatan saat menghadapi Covid-19.

Dari pengalaman ini maka kiranya Indonesia bisa mencontoh suatu bentuk kegiatan untuk mengembangkan kesadaran pribadi masyarakatnya untuk memberikan kontribusi bagi negara melalui proses pendidikan sejak dari Taman Kanak-kanak sampai dengan Perguruan Tinggi.

Proses ini dapat dilaksanakan dalam bentuk kewajiban untuk mengikuti kegiatan bela negara, dan juga mewajibkan siswa untuk mengikuti kegiatan Pramuka.

Kegiatan Pramuka juga mempunyai esensi mengembangkan tanggung jawab pribadi terhadap masyarakat dan lingkungan sosialnya.

Modal sosial ini juga harus didukung tokoh masyarakat, tokoh agama, elite di masyarakat yang memimpin lingkungan tempat tinggal masyarakat. Kolaborasi antara individu serta tokoh-tokoh ini dengan tujuan yang sama, mendukung kinerja yang efektif dan efisien untuk mencapai tujuan menyelesaikan pandemi Covid-19 dengan segera.

Secara kolektif, tanggung jawab sosial dapat melahirkan suatu modal sosial yang kuat untuk bisa menghadapi permasalahan pelik yang dihadapi bangsa ini.

Gerakan untuk mengembangkan kedisiplinan sejak dini seperti menjaga kesehatan dan aktif di dalam kegiatan kesehatan atau fitness tentunya memberikan manfaat bukan hanya ketika masalah pandemi Covid-19 ini saja, tetapi juga akan mengurangi tingkat risiko penyakit yang dialami oleh individu.

Tekanan untuk Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) juga akan menurun jika ada health herd improvement dari warga.

Oleh karena itu, insentif dari kegiatan yang akan memberikan manfaat jangka panjang bagi individu dan juga meringankan beban untuk membayar BPJS dapat diinisiasi seperti memberikan insentif pajak penghasilan, insentif uang sekolah yang akan mendorong kesadaran kolektif masyarakat untuk menjaga kesehatan.

Hal lain yang perlu menjadi perhatian kita adalah bagaimana sektor strategis yang mendukung kesehatan seperti masker, thermal gun, cairan disinfektan, vaksin, ventilator dan berbagai peralatan kesehatan lainnya dapat diproduksi oleh Indonesia.

Pemerintah juga perlu memberikan insentif bagi masyarakat dan juga sektor usaha yang ingin mengembangkan teknologi komunikasi berbasis online yang nyatanya sangat bermanfaat dalam pandemi ini.

Ketahanan dalam pangan juga merupakan hal yang strategis di dalam mengatasi krisis yang kita hadapi.

Jika kita tidak berdaulat dalam pangan, maka dapat terjadi kelangkaan bahan pangan serta distribusi yang tidak merata di masyarakat di perkotaan dan pedesaan, hal ini akan meningkatkan potensi adanya konflik horisontal di masyarakat.

Perguruan tinggi sebagai bagian dari masyarakat sipil mempunyai peran untuk mendukung proses pemberdayaan masyarakat dalam menghadapi Covid-19.

Aktivitas pemberdayaan yang selama ini dilakukan di Balai Latihan Keterampilan dapat diarahkan dengan membuat alat pelindung diri APD, masker kain, dan alat pembersih udara untuk tenaga medis dengan melibatkan pelaku usaha, mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Keterampilan yang selama ini dipraktikkan di Balai Latihan Kerja (BLK) dapat dimobilisasi dengan terukur dan tetap menjaga physical distancing sesuai dengan arahan pemerintah.

Komunikasi dapat dilakukan melalui saluran online, dan pengelola BLK dapat mendistribusikan bahan baku yang dipergunakan untuk membuat APD.

Perguruan tinggi juga dapat berperan untuk menjawab keingintahuan serta keresahan masyarakat perihal Covid-19 dengan memfasilitasi call center yang dapat menjawab keresahan masyarakat dengan memberdayakan mahasiswa dari Fakultas Kedokteran, Fakultas Kesehatan Masyarakat, dan Fakultas Ilmu Komunikasi yang sudah dibekali dengan pengetahuan dasar untuk menjawab berbagai pertanyaan seputar Covid-19.

Peran sentral dari pusat kesehatan masyarakat dan poliklinik yang memang sudah diberdayakan untuk melakukan deteksi dini serta sosialisasi Covid-19.

Hal ini dapat diintegrasikan dengan mendistribusikan multivitamin yang dibutuhkan oleh masyarakat serta jamu-jamu yang memang dapat mendukung daya tahan tubuh masyarakat di areal operasional puskesmas.

Kita juga melihat bagaimana ojek online menurun pendapatannya, sehingga dalam proses transaksional atau pengadaan bahan logistik, pengadaan bantuan bantuan untuk komunitas, maka kita dapat bekerja sama dengan ojek online yang dapat mendistribusikan berbagai kebutuhan dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Selain itu juga pemberdayaan masyarakat atau ojek online dapat dimanfaatkan untuk membagikan kebutuhan pokok seperti beras yang memang akan makin dibutuhkan dalam situasi PSBB atau karantina wilayah pada masa yang akan datang.

*Penulis merupakan Rektor Universitas Mercu Buana

Sumber : Bisnis Indonesia