HIKMAH RAMADAN: Meningkatkan Kualitas Diri di Bulan Puasa

Suasana salat tarawih di Masjidil Haram. Istimewa
28 April 2020 04:02 WIB Endro Dwi Hatmanto Hikmah Ramadan Share :

Ketika bulan Ramadan tiba, biasanya umat Islam sangat bergairah untuk menjalankan rangkaian ibadah seperti puasa menahan lapar dan haus di siang hari, melaksanakan salat tarawih bersama, tilawah Alquran, membayar infaq dan shadaqah. Berbagai upaya ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas kita sebagai mukmin. Kualitas sangat dipentingkan dalam ajaran Islam. Bahkan dalam bukunya Fikih Prioritas, Yusuf Qardawi menggambarkan Islam mementingkan kualitas dulu dibandingkan dengan kuantitas.

Dengan mendasari pemahaman mereka pada Alquran, para ulama membagi kualitas manusia menjadi tiga. Pertama adalah manusia yang dzalim li-nafsih, yakni orang yang tidak memiliki panduan nilai dan norma dalam hidupnya. Ia menjadi tuna moral. Tindakannya didasarkan pada ego dan kepentingan pribadinya. Ia abai apakah tindakannya merugikan orang lain. Norma-norma agama absen dalam kehidupannya. Ia menabrak segala rambu moral dalam agama dengan semua tindakannya: korupsi, bertindak anarkis, zalim, berzina dan sebagainya. Bisa saja kelompok ini mengkaim dirinya sebaga orang yang beragama.

Kualitas manusia yang kedua adalah muqtashid, yaitu orang yang mengalami semacam dualisme kepribadian. Suatu saat ia melaksanakan perintah-perintah agama seperti mengerjakan salat dan melaksanakan haji. Tapi pada saat lain ia melakukan kemaksiatan seperti melakukan korupsi, penggelapan uang, berzina dan berbagai kemaksiatan lain. Inilah yang dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai orang yang bertipe salat terus maksiat jalan (STMJ). Fenomena ini menjadikan bangsa ini ironis karena di satu sisi masyarakat kita terkenal dengan masyarakat yang religius, namun pada sisi lain kita terkenal dengan bangsa yang korup, perusak hutan dan lingkungan ekologis. Padahal, ibadah yang kita laksanakan seperti salat, puasa, zakat dan haji mestinya berimplikasi untuk memperbaiki akhlak.

Kualitas manusia yang ketiga disebut dengan sabiq bil-khairat, yaitu muslim yang orientasi kehidupannya untuk melakukan kebaikan dan kebenaran sesuai dengan natural Allah dan ajaran Rasulullah. Hidupnya dipanglimai oleh aturan-aturan agama dan nilai-nilai Islam. Kehidupannya didedikasikan untuk beribadah kepada Allah. Keislamannya dibuktikan oleh iman yang menuntutnya untuk mematuhi perintah dan menjauhi laranganNya.

Mencintai Allah
Kemudian pengakuan keislaman dan keimanannya dibuktikan oleh ihsan, yakni perilaku kebaikan yang ditampilkan melalui akhlakul karimah atau perbuatan baiknya. salatnya menjadikannya orang yang dapat mencegah dirinya dari perbuatan mungkar dan berbuat kerusakan. Zakatnya menjadikannya orang yang dermawan, memiliki senses of crisis melihat penderitaan orang lain dan suka berbagi dan memberi kontribusi kepada masyarakat. Hajinya menjadikannya orang yang berpikir egaliter dan tidak membeda-bedakan perlakuannya terhadap orang lain.

Puasa di bulan Ramadan sejatinya juga dapat digunakan untuk mencapai kualitas sabiq bil-khairat. Puasa seharusnya menjadikan kaum beriman orang-orang yang sabar dan memiliki kemampuan untuk mengontrol diri. Dalam konteks sosial saat ini di saat wabah virus dan implikasi ekonomi yang tidak stabil, sikap sabar yang digembleng oleh ibadah puasa sangat diperlukan.

Orang yang memiliki kualitas sabiq bil-khairat digambarkan oleh Allah dalam surat Al-Maidah ayat 54. Orang yang memiliki kualitas ini memiliki beberapa karakter. Pertama, mereka mencintai Allah termasuk berkhidmat untuk melaksanakan aturan-aturan-Nya. Kedua, mereka bersikap lemah lembut kepada orang-orang yang beriman.

Sikap lemah lembut diperlukan untuk membangun modal sosial untuk saling percaya dan membangun kerukunan masyarakat. Ketiga, mereka bersikap tegas terhadap kekufuran. Kekufuran kepada Allah adalah sumber dari berbagai kemaksiatan. Keempat, mereka berjihad di jalan Allah, yakni sikap kesungguhan dalam berjuang di jalan yang diatur oleh Allah dengan jiwa, tenaga, pikiran dan hartanya. Dalam menjalankan kebaikan-kebaikan itu, mereka juga tabah dan tahan banting terhadap berbagai celaan yang ditujukan kepadanya.

Bulan Ramadan adalah momentum dimana kita bisa membangun model manusia sabiq bil-khairat. Esensi puasa adalah instrumen untuk menghantarkan kita menjadi orang-orang yang tertaqwa. Taqwa itu adalah mematuhi perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Manusia dengan kualitas sabiq bil-khairat dimulai dengan kemampuannya untuk mematuhi perintah Allah dan menjauhi laranganNya.

*Penulis merupakan Dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta