OPINI: Pandemi Covid-19 dan Pemulihan Pariwisata

Ilustrasi wisata Jogja. - Harian Jogja/Salsabila Annisa Azmi
05 Mei 2020 05:02 WIB Agus Rochiyardi Aspirasi Share :

Outbreak Monster Mikroskopis, Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) dimulai dari kota Wuhan, China menjadi epidemi di daerah regional Asia dan akhirnya menjadi pandemi diseluruh dunia. Sampai dengan saat ini masih belum diketemukan vaksin Covid-19 sehingga di berbagai negara usaha yang dilakukan untuk memutus rantai penyakit ini dengan stay at home, work from home, physical distancing dan juga mendorong untuk meningkatkan kebersihan, memakan makanan bergizi agar imunitas meningkat.

Dengan adanya pandemi Covid-19, beberapa industri diuntungkan, seperti industri medical supply, personal health care, food proccessing, e-commerce namun ada juga industri yang dirugikan sebagai contoh industri pariwisata, aviasi & marine, otomotif serta konstruksi. Dalam situasi seperti ini industri pariwisata yang paling tertekan karena esensi pariwisata adalah pergerakan wisatawan, dan sekarang ini sangat dibatasi.

Covid-19 juga berpengaruh diberbagai hal, seperti perekonomian global yang lesu, muncul banyak pengangguran, pemanasan global turun, polusi udara berkurang sehingga langit nampak jernih, cara pandang terhadap higiene dan gizi yang lebih diutamakan, dan lain-lain.

Sebagaimana diketahui eosistem pariwisata unsurnya wisatawan, destinasi dan pelaku usaha pariwisata, ketiga unsur ini saling pengaruh-mempengaruhi satu dengan yang lainnya. Wisatawan atau pelanggan, sementara waktu diisolasi ataupun di karantina, mereka tidak bisa ke mana-mana, dalam situasi seperti ini yang dapat dilakukan, yaitu untuk keperluan kantor mereka rapat melalui video conference, pengembangan diri melalui baca buku, olah raga ringan, mendekatkan diri ke agama dan keluarga.

Destinasi dan pelaku usaha pariwisata, pendapatan tidak ada tetapi harus tetap dilakukan maintenance, membayar tagihan supplier dan fix cost lainnya seperti gaji karyawan, listrik, air. Kemenparekraf RI menyikapi hal ini mengacu ke standar penanganan krisis dari United Nations World Tourism Organizatios (UNWTO) dengan membuat skenario tahap Tanggap Darurat (Maret-29 Mei 2020), tahap Pemulihan (Juni-Desember 2020) dan tahap penormalan (Januari-Desember 2021).

Pada tahap tanggap darurat ini, Kemenparekraf membentuk krisis center terkait dengan awareness Covid-19; pelaksanaan kegiatan MICE & event serta dukungan pelaksanaan kepariwisataan kepada industri pariwisata untuk sementara waktu ditunda; menyelenggarakan pelatihan daring yang terkait dengan peningkatan kemampuan, selain itu turut serta memberikan masker kain dan sembako kepada para pelaku pariwisata yang terdampak Covid-19.

Untuk tahap pemulihan, dilakukan mobilisasi percepatan di seluruh destinasi melalui koordinasi dengan kementerian dan lembaga untuk membuat kegiatan didaerah terpapar sedangkan tahap penormalan peran Kemenparekraf melakukan promosi besar-besaran dan lebih sebagai pemicu untuk aktivasi awal kegiatan kepariwisataan dengan tujuan kualitas destinasi dan devisa negara.

Dapat dipastikan sekarang ini seluruh industri pariwisata tiarap, asosiasi GIPI, PHRI, ASITA, PUTRI, ARKI dan lainnya, semua mengeluhkan keadaan yang ada. Dimulai dari tidak adanya pengunjung, yang ber-efek domino terhadap keseluruhan kegiatan kepariwisataan pada masing-masing asosiasi.


Prediksi meredanya Covid-19 memang masih diperdebatkan namun apabila Covid-19 mereda, para pelaku pariwisata harus siap untuk menggeliatkan kembali kepariwisataan, tentu dengan memperhatikan perubahan pemikiran dari wisatawannya.

Perubahan Pemikiran
Wisatawan pasca Covid-19 menurun kondisi ekonominya dan menahan pengeluaran kecuali membelanjakan kebutuhan esensial; tuntutan higiene tinggi; mengacu sustainable tourism, perubahan pemikiran ini bisa diterjemahkan bahwa wisata yang lebih diinginkan yaitu kembali ke alam; berbiaya murah; bersifat regional; dan bepergian dalam kelompok kecil dan atau keluarga.

Agar dapat bertahan, destinasi harus mampu beradaptasi, menerima dan menghadapi kenyataan yang terjadi, perlu berpikir keras agar organisasi yang dikelolanya tetap dapat dipertahankan, dalam hal ini survival strategy yang harus dijalankan.

Aspek operasional harus mengacu re-invent bisnis operation model dengan mencari peluang-peluang yang ada, misalnya apabila ada ruang kosong dapat dijadikan multy purpose hall untuk pernikahan, untuk kantor yang disewakan dan lainya. Membuat program-program kreatif untuk terobosan, mengedepankan service exellent, menyediakan fasilitas/tempat dengan tingkat higiene yang tinggi, customer service fokus dan memaintain pelanggan lama dengan empati dan memberikan solusi, aspek pemasaran, melakukan promosi yang bersifat awareness lewat media sosial, sementara harus soft selling, fokus pasar domestik dan regional, harus mendefinisikan kembali strategi penjualan dan bergeser dari luring ke penjualan daring, apabila produk lama maka harus berani memberikan diskon dan bundling sedangkan untuk produk baru yang inovatif dapat dengan harga premium.

Aspek sumber daya manusia harus berani mengambil keputusan merumahkan karyawan, memangkas gaji disesuaikan cash flow perusahaan, dilakukan pelatihan individu maupun tim, untuk peningkatan kualitas personil antisipasi terjadinya switching mindset pelanggan sehingga siap manakala Covid-19 mereda dan memenangkan pertempuran.

Aspek keuangan, manajemen harus berkoordinasi dengan pemasok untuk menunda atau menjadwal ulang pembayaran, melakukan pemetaan biaya terkait skala prioritas, dan penghematan di seruruh aspek manajemen.

Strategi untuk para pelaku usaha pendukung destinasi, seperti hotel harus berbenah meningkatkan kualitas; biro perjalanan wisata harus kreatif menawarkan paket-paket dengan berbagai kategori travel pattern; produsen suvenir/pedagang kaki lima harus memproduksi produk-produk yang lebih menguatkan destinasi, diusahakan setiap produsen memiliki uniqness atau kekhasan masing-masing.

Memang, sangat berat kondisi adanya pandemi Covid-19 namun demikian harapan dan usaha harus tetap dilakukan, dengan memahami perubahan yang terjadi dan langkah antipasi, dapat diyakini badai pasti berlalu dan udara cerah menyongsong kepariwisataan.

*Penulis merupakan Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur