OPINI: Pariwisata Bersiap Menyambut New Normal

Pengunjung berjalan-jalan di area di Glamorous Camping De'Loano di Loano, Purworejo, Jawa Tengah, Kamis (14/2)./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
18 Mei 2020 11:37 WIB Dr. Drs. Agus Rochiyardi MM. Aspirasi Share :

Revolusi Industri 4.0 dan pandemi Covid-19 berdampak pada berbagai sendi kehidupan. Kedua hal itu pula yang memicu munculnya istilah baru bernama New Normal yang menggambarkan kondisi di mana kebiasaan lama tidak lagi menjadi patokan di dalam berbisnis, berusaha, dan sebagainya.

Sebagai analogi, sepasang keluarga muda, yang baru saja mendapatkan anak untuk yang pertama kalinya, yang terjadi adalah kebingungan pada saat anak menangis, bayi buang air kecil, memberi susu, dan masih banyak lagi hal baru ditemui pasangan muda tersebut. Esensinya mereka terpaksa harus mengubah kebiasaan lama, dan adaptasi, mulai dari mengatur tidur, pengendalian diri, mengatur jadwal kegiatan, dll.

Sebagaimana disarikan dalam webinar dengan tema What will be the New Normal for travel post Covid-19? yang diselenggarakan oleh Digital Tourism Think Tank (DTTT) dan Adventure Travel Trade Association (ATTA) pada 9 April lalu. Dalam webinar itu, sekitar 100 ahli di berbagai sektor industri yang terdampak pandemi, saling sharing tentang pandangan dan perpektif di industry mereka masing-masing.

Dari webinar itu, disimpulkan bahwa untuk mendekati pelanggan melalui Virtual Travel Experiences, industri harus mendemonstrasikan higiene dengan serius; program social distancing, membuat pelanggan melakukan kegiatannya secara contacless. Selain itu digital teknologi semakin memanjakan pelanggan, health dan safety menjadi pertimbangan utama pelanggan, mereka lebih individual dan menghindari kerumunan; care as the new service, tuntutan transparansi sangat diperlukan; tuntutan terhadap nilai pengalaman berwisata menjadi tinggi, perlu extra service dan security.

Secara garis besar, tuntutan kepada indutri pariwisata dalam kondisi sekarang ini yaitu mereka harus lebih kreatif, tangkas dan gesit, mampu beradaptasi, dan kolaborasi di antara mereka.

Contoh New Normal  yang dilakukan oleh JetBlue, maskapai Amerika Serikat mulai 4 Mei 2020 memaksa penumpangnya menggunakan masker selama penerbangan, dengan alasan menggunakan masker bukan tentang melindungi diri sendiri, tetapi juga melindungi orang-orang di sekitar. Ini menjadi etika terbang yang baru.

Pemerintah pun telah menginisiasi The New Normal dalam Pariwisata setelah pandemi Covid-19. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Wishnutama Kusubandio pada Vi-Con Bincang Bisnis Asita pada Sabtu (2/5) siang yang diikuti  peserta dari agen perjalanan di berbagai daerah, serta beberapa duta besar.

Prinsip Higiene

Pada kesempatan tersebut dicontohkan bahwa New Normal di industri pariwisata lebih mengarah pada  kebutuhan dasar seperti higienitas, yakni toilet, kebersihan, dan juga safety sehingga wisatawan merasa secure dalam berwisata, lebih lanjut disampaikan bahwa anggaran-anggaran kedepan akan difokuskan pada permasalahan mendasar tersebut.

Pemerintah selaku regulator membuat aturan main, membantu destinasi dan para pelaku usaha pariwisata untuk dapat menjalankan aktivitasnya tanpa terganggu dan juga meyakinkan wisatawan dapat memperoleh jasa pariwisata sesuai yang diharapkan.

Pada hal-hal yang bersifat kritis seperti adanya pandemi Covid-19 pemerintah juga dapat men-trigger, mengaktivasi maupun men-starter melalui insentif dan kegiatan, agar kepariwisataan dapat tumbuh berkembang dan normal kembali.

Adaptasi Perubahan

Berbagai asosiasi pariwisata seperti Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (PUTRI), Asosiasi Rekreasi Keluarga Indonesia (ARKI), dan yang lainnya, sudah mulai merasakan imbas Revolusi Industri 4.0 dan pandemi. Guna mempersiapkan pasca-meredanya pandemi, mereka harus memulai dengan memahami New Normal, mengantisipasi dan beradaptasi dengan perubahan yang ada.

Bagaimana memulainya? Dimulai dengan melihat dampak dari Megatrend (Physical, Digital dan Biological) yang memunculkan Revolusi Industri 4.0, dan behavior wisatawan pasca Covid-19.

Sebagaimana diketahui, Revolusi Industri 4.0 telah mendorong kita pada dunia baru, hal ini dipicu oleh penemuan cetak tiga dimensi, artificial inteligent, robotik, drone, teknologi digital, The Internet of Thing, rekayasa genetik, dan biosintesis. Dengan adanya hal tersebut, maka perlu diubah cara berpikir, cara bekerja, penguasaan skill baru yang lebih adaptif terhadap situasi baru ini.

Begitu pula dengan pandemi Covid-19 yang juga mempercepat kita beradaptasi, sebagai contoh work from home memaksa kita memanfaatkan komunikasi melalui jalur Internet, seperti Whatsapp, Vi-Con; dunia e-commerce, muncul berbagai aplikasi yang memudahkan orang untuk berbelanja; dan yang lebih dulu jalan adanya jasa ojek daring.

Untuk itu, industri pariwisata, apapun asosiasinya harus mulai memikirkan beberapa hal penting. Di antaranya adalah memikirkan bentuk-bentuk virtual travel experience mengingat pergerakan global yang dibatasi, dan ini disajikan dalam sosial media, bisa dalam bentuk film pendek, muapun live streaming.

Harapan Pelanggan

Ini akan memengaruhi pelanggan dan harapannya; mendemontrasikan higiene, misal toilet kering, petugas menggunakan sarung tangan. Ini akan membangun kepercayaan dan keyakinan pelanggan; mengurangi kontak langsung antara wisatawan dengan petugas, misalnya memanfaatkan teknologi seperti pembayaran, perbanyakan papan informasi, dan lain-lain; memanfatkan digital teknologi untuk membantu wisatawan, misal membuat aplikasi yang dapat diakses melalui device wisatawan terkait dengan harga, jenis produk, peta lokasi, fasilitas yang ada pada destinasi.

Selain itu industri harus berpikir ulang soal ketakutan wisatawan terhadap perjalanan dan juga kerumunan, misalnya melalui pembatasan jumlah pengunjung, dan pengaturan frekuensi kegiatan. Industri juga harus mendemontrasikan rasa care terhadap pelanggan secara transparan, misalnya kebijakan tentang pembatalan maupun kebijakan tentang lingkungan.wisatawan akan lebih fokus pada nilai pengalaman yang didapatkan, industri harus lebih dapat menawarkan dan juga menggaransi tentang apa-apa yang dijanjikan.

Pada akhirnya, seluruh pemangku kebijakan, guna pengembangan kepariwisataan harus berkolaborasi, memetakan dan memprediksi mana yang nantinya menjadi New Normal dan dijadikan New Standard karena hal ini merupakan kesepakatan bersama.

Penulis adalah Direktur pemasaran Pariwisata Badan otorita Borobudur