OPINI: Sehatkah Generasi Coronials dan Quaranteens?

Ilustrasi generasi milenial. - techcrunch.com
30 Mei 2020 07:17 WIB Utami Setyorini Aspirasi Share :

Berharap landainya kurva pada masa pandemi Covid-19 bukanlah hal mudah. Pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di berbagai daerah yang kemudian hanya berakhir dengan perpanjangan demi perpanjangan tanpa hasil. Angka kasus pun tidak kunjung turun. Beberapa daerah zona merah tetap merah bahkan terkesan tak terkendali hingga muncul polemik untuk pemberlakuan new normal. Situasi yang tidak menentu kembali membayangi kehidupan global kita saat ini.

Sekolah yang semula akan dibuka kembali, urung dilakukan karena teror virus yang belum juga berakhir. Pendaftaran peserta didik baru via online dan sekolah online kembali menjadi alternatif untuk tetap menjaga kondisi pembelajaran.

Tahun ini memang jadi tahun yang unik. Berskala dunia, badai yang dihadapi sama dengan arah kapal yang berbeda-beda. Setiap level tingkatan usia merasakan hal yang kurang menyenangkan dari situasi ini.

Manusia yang pada kebiasaan awalnya adalah bebas merdeka, saat ini harus menghadapi musuh yang kemudian akan menjadi teman tak tampak. Salah satu yang terkena dampak dari wabah ini adalah para generasi muda.

Remaja menjadi bagian penting dari sebuah peradaban sebab di tangan merekalah masa depan kita ditentukan. Situasi pandemi yang mengubah situasi remaja yang aktif menjadi remaja yang harus tetap berada di tempat.

Apa yang bisa mereka kerjakan? Adakah inovasi terlahir dari kondisi di rumah saja? Dengan kemajuan teknologi saat ini yang berada pada gelombang ke-4, remaja sangat akrab dan menjadikan teknologi sebagai bagian primer hidupnya. Remaja yang baru mengenal dunia, dan harus dihadapkan dengan situasi yang tidak biasanya.

Remaja, sebelum virus ini melanda adalah sekelompok manusia muda yang belajar bersama dan menjelajahi lingkungan. Mereka beradaptasi sekaligus berinteraksi untuk proses pemenuhan jati diri sebagai manusia transisi.

Seharusnya mereka mampu untuk lebih beradaptasi dengan lingkungan yang terkesan anti sosial ini. Sebab milenial dan zillenial adalah generasi yang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan teknologi.

 Generasi Coronials

Remaja di era ini adalah generasi coronials dan quaranteens, mereka yang hidup dan berkembang dalam masa pandemi dunia. Menurut data Badan Pusat Statistik dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (2015), didapatkan ada sekitar 66 juta jiwa atau seperempat dari total penduduk Indonesia yang turut merasakan derita yang sama untuk membatasi ruang gerak dalam interaksi.

Tidak bersekolah secara normal, melakukan segala kegiatan pembelajaran secara daring dan bahkan di Indonesia terbebas dari mekanisme ujian nasional (UN). Generasi istimewa yang tidak biasa tetapi merupakan tonggak dari model kehidupan remaja di era kebiasaan baru.

Kebiasaan yang ada di sekolah dan di rumah tentunya berbeda sekali. Di rumah, mereka tidak terikat aturan seperti halnya di sekolah. Tidak perlu menggunakan seragam, tidak perlu menjaga sikap disiplin selama kegiatan dan tentunya keleluasaan waktu untuk beristirahat lebih lama.

Sisi kognitif mungkin saja dicapai dalam model pembelajaran daring, akan tetapi untuk sisi motorik dan afeksinya dampaknya tentu sangat minimal. Generasi ini dituntut untuk selalu berinisiatif lebih dari generasi sebelumnya. Minat diharapkan tumbuh dari diri sendiri tanpa memerlukan dorongan yang aktif seperti di era sekolah sebelumnya.

Coronials atau para quaranteen ini adalah generasi yang mau tidak mau mengikuti aturan kebiasaan baru manusia saat ini. Mereka harus berada dalam konsep sementara melakukan aktivitas dari rumah.

 Interaksi Sosial

Kegiatan yang mereka lakukan dengan pemanfaatan teknologi tentunya menghidupkan aktivitas interaksi sosial mereka secara daring. Memanfaatkan aplikasi mereka berinteraksi di dunia maya dan berekspresi.

Aplikasi Tik Tok dan Likee misalnya adalah yang dimanfaatkan oleh para remaja untuk bersosialisasi tanpa batas. Teknologi yang berkembang pesat dan termanfaatkan sesuai masanya ini tentu bukan tanpa dampak negatif. Remaja adalah tetap manusia yang secara kodrat adalah makhluk sosial.

Kondisi yang dialami saat ini yang cenderung menjadi anti sosial akhirnya menjauhkan remaja dari peristiwa berharga dalam hidupnya. Peristiwa itu baik yang menjadi kondisi komunal maupun momen pribadi dalam keseharian sebagai pelajar.

Ketika ini berlangsung dalam kurun waktu yang lama, beberapa pakar mengkhawatirkan tentang kondisi kesehatan mental para remaja. Terkungkung dalam suatu model isolasi seperti saat ini, rentan menimbulkan kecemasan dan kekecewaan.

Hal tersebut bisa diikuti dengan kondisi pesimis akan masa depan yang sangat tidak pasti. Menjadi perhatian khusus bagi kita orang dewasa sekitar remaja untuk dapat menjaga kesehatan mental mereka. Semoga kita mampu mencermati kondisi ini dan peduli untuk masa depan bersama.

*Penulis merupakan pemerhati masyarakat dan pegiat ormas perempuan