OPINI: Pemimpin Kreatif dan Adaptif: Solusi di Masa Krisis

Yunita Anggarini, dosen STIM YKPN Yogyakarta/Ist
23 Juni 2020 21:37 WIB Media Digital Aspirasi Share :

Akhir-akhir ini kita terus dibombardir dengan berbagai informasi yang menunjukkan bahwa kita hidup pada periode perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Saat ini teknologi seakan menulis ulang buku peraturan di semua industri.

Era ini menuntut dunia usaha untuk responsif terhadap perubahan teknologi guna menjaga eksistensi bisnisnya. Kekacauan ini makin bertambah lagi dengan munculnya krisis Covid-19. Pandemi telah begitu ekstrem mengubah perilaku manusia.

Ada pelajaran menarik dari krisis ini. Ketika wabah ini  melanda Cina akhir 2019,  mungkin banyak dari kita yang awalnya tidak menduga bahwa krisis ini juga akan melanda Indonesia, sebagaimana  wabah-wabah  sebelumnya. Perusahaan bisa dipastikan belum ada yang memasukkan elemen Covid-19 dalam perencanaan bisnisnya untuk  2020. Sehingga krisis ini akhirnya mendorong setiap individu  untuk melakukan adjustment sebagai langkah  antisipasi bisnis.

Jika kita mau mencermati, ketika muncul isu globalisasi seharusnya seorang pemimpin telah menyiapkan plan B, sehingga perusahaan relatif lebih siap menghadapi perubahan-perubahan yang akan terjadi.

Satu pelajaran menarik dari Sambel Layah Corporation (SL Corp) yakni sebuah perusahaan yang bergerak di bidang  kuliner yang berkantor pusat di Purwokerto. Ketika isu global masuk ke dunia bisnis kuliner dan memunculkan fenomena baru ghost kitchen, memaksa pimpinan dan manajemen SL Corp untuk berpikir keras menyusun plan B. Beberapa rencana disusun termasuk ide inovatif untuk menciptakan  produk kemasan, yakni bumbu ireng Yu San, yang dijual dengan konsep reseller/droppshipper, yang sebelumnya dijual secara dine in outlet.

Adanya plan B ini menguntungkan perusahaan karena ketika krisis Covid-19 hadir, perusahaan bisa langsung banting setir ke arah bisnis yang berbeda. Perusahaan mengalihkan sebagian besar layanan dine in yang terpaksa harus vakum karena krisis, menjadi produk kemasan dan frozen food yang siap di-delivery secara online.

 Perusahaan diuntungkan selangkah lebih cepat mengantisipasi krisis, karena perusahaan telah memiliki plan B.

Pandemi virus Corona memang telah menempatkan tuntutan yang luar biasa pada pemimpin bisnis untuk adaptif dan kreatif dalam mengantisipasi bisnis dan kelanjutannya.

 Lagkah Penting

Selanjutnya langkah apa yang semestinya diambil oleh seorang pemimpin di saat krisis? Berikut terdapat tiga hal penting yang perlu dilakukan. Pertama, embrace the reality atau gaungkan realitas.

Mengakui bahwa perusahaan menghadapi krisis adalah hal pertama yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. Sikap yang transparan untuk menyampaikan realitas pada tim, akan menciptakan kesadaran bagi anggota organisasi akan kenyataan yang dihadapi dan mereka secara sadar melakukan persiapan-persiapan yang diperlukan.

 Di awal krisis, munculnya regulasi pemerintah dan perubahan perilaku pasar memaksa SL Corp menutup sebagian besar outlet-nya. Sosok pemimpin di SL Corp yakni Indra Wawan secara terbuka menyampaikan kepada manajemen dan karyawan bahwa perusahaan tengah berada di kondisi kegentingan, bahkan secara transparan beliau meminta kesediaan seluruh manajemen dan karyawan atas pengurangan gaji secara serentak.

Sikap transparansi pemimpin ini justru menciptakan kepercayaan dan semangat semua jajaran untuk melakukan antisipasi. Hal yang sama juga dilakukan oleh CEO GE Indonesia Handry Satriago yang secara transparan menyampaikan ke seluruh jajaran organisasi tentang penurunan dalam bisnisnya dan melahirkan pemahaman dan awareness anggota organisasi.

 Kedua, redefine the winning criteria yakni definisikan ulang kemenangan. Pada tahap kedua ini disarankan bagi pemimpin untuk duduk bersama dengan timnya (baik secara online maupun meeting offline yang berjarak) untuk  membicarakan  apa itu the winning (faktor-faktor keberhasilan) saat ini.

 Adanya perubahan karena krisis, menjadikan pemimpin tidak bisa lagi menggunakan alat ukur dan target yang sama. Hal-hal  baru harus didesain ulang, dan secara kreatif bersama-sama memikirkan hal-hal yang perlu dilakukan yang mungkin belum  terpikir sebelumnya.

Di sini peran pemimpin harus muncul untuk men-drive timnya menghasilkan ide-ide dan solusi kreatif. 

Beberapa ide baru yang berhasil dirumuskan SL Corp meliputi (1) pengembangan produk yang berorientasi market driven (produk kemasan, frozen food) dan memiliki banyak value added (expired date yang lama, unik dan produk pioner) yang menguntungkan proses jual beli, (2) sistem distribusi online yang efektif dan mudah dilakukan, (3) harga yang menarik dan menguntungkan bagi perantara dan konsumen, maupun (4) strategi-strategi baru lainnya. Dalam waktu dua bulan, saat ini tenaga penjualan yang telah bergabung di SL Corp telah mencapai puluhan ribu orang.

Ketiga, execute with focus atau eksekusi dengan benar-benar fokus rencana yang dihasilkan pada tahap kedua, kemudian dieksekusi dengan fokus yang sungguh sungguh. Proses eksekusi harus optimis dan tetap memiliki growth planning.

Tidak dipungkiri hampir semua bisnis mengalami penurunan, contoh bisnis airlines hanya melakukan penerbangan 9%, PT PLN mengalami penurunan permintaan yang drastis akibat berhentinya sebagian industri, termasuk SL Corp karena puluhan outlet-nya harus ditutup. Perusahaan yang sukses bukanlah perusahaan yang menjauhi kondisi chaos. SL Corp dengan optimis tetap siaga di tepi chaos.

Opitimistis dan Empati

Menurut Andi Grove (Owner Intel Corporation) menyatakan bahwa individu (perusahaan) yang ada di pinggiran chaos adalah perusahaan yang tangguh, karena punya kemampuan yang disebut dengan the ability to have the think of the unthinkable (mampu memikirkan hal-hal yang belum terfikirkan orang lain).

Selain optimis, dalam proses eksekusi juga perlu memasukkan elemen empati. Elemen empati ini benar-benar menjadi elemen penting bagi seorang pemimpin, terutama di era krisis. Berangkat dari keprihatinan terhadap banyaknya karyawan yang dirumahkan dan pengangguran, maka pimpinan menawari mereka menjadi tenaga perantara (distributor, agen atau reseller). Termasuk juga mengadakan program sedekah/berbagi  untuk kesejahteraan karyawan maupun masyarakat.

Aspek kebermanfaatan bagi masyarakat menjadi prinsip utama SL Corp. Demikianlah pentingnya pemimpin yang adaptif dan kreatif, karena tantangan dari masa ke masa terus berubah dan harus kita hadapi. Kepemimpinan inilah sebagai solusi, karena pemimpin ini akan bergerak cepat dengan berbagai tindakan, untuk memecahkan tantangan dengan perubahan yang sesuai kebutuhan.

*Penulis Yunita Anggarini, dosen STIM YKPN Yogyakarta