OPINI: Digitalisasi Pariwisata Suatu Keharusan

Ilustrasi iklan digital - Bisnis.com

Jumlah wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia setiap tahunnya meningkat tajam dengan Compound Annual Growth Rate sebesar 14%, pada 2014 jumlahnya 9,43 juta dan pada 2019 naik menjadi 16,3 juta. Namun, ini baru sekitar 1% dari seluruh wisatawan yang ada di dunia (1,5 milliar orang).

Dari jumlah pengunjung tersebut, ternyata di tahun yang sama mampu meraup devisa sebesar US$20 miliar, terbayang devisa yang akan mengalir ke Indonesia bila mampu mendatangkan pengunjung lebih banyak lagi. Karena itu, diperlukan usaha ataupun ide kreatif untuk mencapainya.

Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk meningkatkan jumlah kunjungan yaitu melalui program digitalisasi kepariwisataan agar memudahkan wisatawan di manapun mereka berada untuk mengakses seluruh informasi, melihat secara virtual, melakukan transaksi dan berwisata ke Indonesia.

Go Digital menjadi penting mengingat Revolusi Industri 4.0 telah merambah ke berbagai aspek kehidupan dan pandemi Covid-19 memaksa serta mendorong manusia untuk memaksimalkan fungsi teknologi. Contoh digitalisasi pada transportasi taksi, awalnya harus menunggu di jalan raya, dengan bantuan aplikasi mereka akan datang menghampiri kita; kirim surat dulu menunggu berhari-hari sekarang melalui surel dapat segera diterima; transaksi di bank melalui antrean sekarang cukup melalui E-Banking, dan lain-lain.

Terjadi shifting perilaku manusia khususnya generasi milenial, dari konvensional ke modern dan berkeinginan segala sesuatunya serba instan. Wisatawan milenial menggunakan gawai atau gadget untuk melakukan kegiatan travelling dengan mencari, memesan dan membayar secara daring.

Sifat dan karakteristik generasi ini senang membagikan pengalamannya melalui media sosial, telepon seluler menjadi hal yang tak terpisahkan, selektif dalam membelanjakan uangnya dan lebih memilih membeli experience. Perubahan sikap perilaku konsumen ini harus di pahami dan direspons dengan cepat oleh para pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah sampai dengan para pelaku pariwisata.

Big Data
Keberhasilan pemanfaatan transformasi digital sangat tergantung dari data yang diperoleh, bagaimana mengoleksi, menjaga, menganalisis berbasis algoritma dan intelegensia artifisial dan utilize informasi yang terbentuk.

Pada saat pencarian informasi sering menggunaan Internet dan data hasil pencarian merupakan data yang disimpan oleh Google, termasuk penggunaan ponsel, merekam telepon, SMS, data GPS terkait dengan lokasi, kegiatan media sosial seperti mengunggah foto dan lain-lain, itu semua adalah big data yang akan membentuk informasi, mampu mengenali pola, membuat asumsi, memprediksi perilaku konsumen sehingga dapat untuk membantu operasional lebih effisien, mendorong inovasi dan akhirnya membuat keputusan yang lebih baik.

Industri di pariwisata perlu melakukan transformasi digital agar dapat mengakselerasi keterlibatan teknologi, ketersediaan dan penggunaan data untuk memahami pelanggan, kompetitor, supply chain, pangsa pasar, dan lain-lain. Dalam hal ini Industri membuat bisnis model baru, yang diharapkan mampu menciptakan nilai kreatif agar jasa pariwisata yang ditawarkan lebih berkualitas, dan niali komersial yang secara finansial mampu menghasilkan uang, sekaligus tetap bertahan.

Dalam melakukan transformasi digital, perlu diperhatikan pemikiran seluruh pihak yang terlibat, harus berpikir tentang pelayanan pelanggan dengan menggunakan teknologi yang paling tepat dan data dipandang sebagai sesuatu yang penting. Sumber daya manusia kompeten di bidangnya, saling berbagi pengetahuan digital, transparan dan meyakini kolaborasi sangat menguntungkan.

Di dalam prosesnya, fokus, melakukan benchmark, melibatkan si penerima manfaat agar dapat diketahui hasilnya sesuai dengan yang diharapkan. Pemilihan teknologi sangat penting, agar alat yang dipergunakan mampu meningkatan efisiensi, menurunkan biaya, dan implementasinya dapat dipantau semua pihak misalnya dengan memasang dashboard sebagai tolok ukur yang mudah dilihat oleh siapapun.

Platform Digital
Dari aspek produk daya tarik wisata, tampilan harus kreatif, menarik, instagramable dan gambarnya dengan resolusi tinggi sehingga wisatawan pada saat melihat, apapun gadgetnya, akan tertarik untuk berkunjung.

Pelayanan operasional harus mampu menunjukan apapun yang diperlukan wisatawan siap diakomodasi, lingkungan sekitar sangat homelike atau sesuai tema dan petugas yang ramah siap melayani. Aspek pemasaran, di awali pengambilan data wisatawan, memprofiling dan segmentasi wisatawan, membuat iklan customized dan targeted, kemudian mengeksekusi melalui media berbayar ataupun tidak berbayar secara daring, termasuk media sosial dan juga endorser ataupun brand ambassador orang-orang terkenal yang disesuaikan dengan daerah tujuan wisatanya.

Untuk meyakinkan wisatawan, pemasaran juga harus berani mendeclair bahwa daerah tujuan wisata bebas Covid-19 dan selalu menjalankan protokol Covid-19. Terpenting untuk penjualan adalah mempermudah reservasi atau pembelian tiket yaitu dengan adanya hyperlink ke travel agent online seperti Traveloka ataupun TripAdvisor.

Peran pemerintah yaitu membuat regulasi yang cepat dan tepat terkait dengan bisnis berbasis digital sehingga kepastian hukum terjamin. Mendukung kegiatan kepariwisataan seperti menyediakan digital marketplace, pelatihan digital, memobilisasi dan mengorkestrasi semua pelaku pariwisata agar menumbuhkan sinergi.

Digitalisasi pariwisata yang ada di ponsel, laptop, komputer, ataupun perangkat yang lain, akan membuat lebih personal buat wisatawan, platform digital menjadikan pelaku pariwisata lebih profesional, karena pangsa pasarnya luas dan terbuka, maka akan lebih global. Adanya digitalisasi pariwisata, diharapkan pengunjung akan semakin meningkat, dan perolehan devisa semakin tinggi.