OPINI: Keanekaragaman Keong untuk Menentukan Kualitas Air Sungai Code

Merti Kali Code. - Antara/Hendra Nurdiyansyah

Air merupakan salah satu sumber daya alam yang memiliki peran penting dalam kehidupan makhluk hidup baik tumbuhan, hewan maupun manusia. Salah satu habitat air tawar yang merupakan fenomena alam dan terbentuk secara alami adalah sungai. Biasanya sungai dimanfaatkan masyarakat untuk memenuhi berbagai macam keperluan seperti kebutuhan rumah tangga, industri, pertanian maupun rekreasi. Salah satu sungai di DIY adalah Sungai Code.

Sungai Code termasuk dalam salah satu sungai besar yang ada di DIY yang memiliki hulu pada Sungai Boyong dan muara di Sungai Opak. Sungai Code melintasi tiga wilayah, yaitu Sleman, Jogja dan Bantul. Berdasarkan lokasinya, Sungai Code berdekatan dengan tempat strategis yaitu Malioboro yang menjadi central business district (CBD) bagi Jogja. Mendasarkan pada Peraturan Gubernur DIY No.20/2008, Sungai Code masuk ke dalam kelas II dengan peruntukan sebagai sarana atau prasarana rekreasi air, budi daya ikan air tawar, peternakan, pertanian, dan peruntukan lain yang menggunakan syarat mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.

Penggunaan lahan dan aktivitas masyarakat di sekitar Sungai Code dapat mempengaruhi kualitas air. Berdasarkan hasil pengamatan, penggunaan lahan di Sungai Code didominasi oleh permukiman penduduk dan lahan pertanian. Aktivitas masyarakat di Sungai Code didominasi penambangan pasir/batu dan juga memancing. Bahan pencemar yang berasal dari aktivitas manusia dan penggunaan lahan baik permukiman maupun pertanian mampu memberikan dampak negatif sehingga menyebabkan perubahan pada faktor fisika, kimia dan selanjutnya berdampak pada ekosistem perairan. Adanya perubahan tersebut menyebabkan penurunan kualitas air sehingga tidak sesuai dengan baku mutu yang ada. Karena itu, perlu dilakukan monitoring kualitas air dengan tujuan untuk dapat mengevaluasi kondisi perairan dan menentukan langkah lanjutan agar kualitas air sesuai dengan baku mutu yang telah ditentukan.

Pemantauan kualitas perairan dapat dilakukan dengan pengukuran fisik, kimia dan biologi. Dinas Lingkungan Hidup DIY telah memantau kualitas air dengan indeks pencemaran dan indeks storet sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.115/2003. Untuk mengetahui pencemaran dibutuhkan juga pemantauan secara biologi (biomonitoring) hal ini dikarenakan biota yang ada di perairan mampu mencerminkan kualitas perairan karena memiliki hubungan erat dengan suatu kondisi lingkungan tertentu. Respons biologis dapat mengartikan atau menjelaskan kondisi tertentu pada lingkungan.

Kualitas Perairan
Adanya organisme yang hidup pada suatu lingkungan berarti organisme tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mendukung organisme untuk hidup sehingga dengan adanya faktor-faktor yang tidak sesuai bagi kehidupan organisme akan menyebabkan organisme memberikan responnya dengan berpindah tempat, menjadi lebih toleran atau mati. Organisme yang dapat digunakan sebagai pengukur kualitas perairan (bioindikator) di antaranya bakteri dan makroinvertebrata.

Gastropoda merupakan salah satu hewan makroinvertebrata yang termasuk dalam filum moluska. Masyarakat lebih mengenal gastropoda sebagai bekicot, siput, maupun keong. Gastropoda memiliki peranan penting di ekosistem karena termasuk salah satu kelompok hewan dasar yang berperan sebagai konsumen primer (herbivore) dan konsumen sekunder (karnivora) pada rantai makanan. Selain berperan sebagai konsumen primer dan sekunder, gastropoda memiliki peranan penting di perairan yaitu sebagai indikator kualitas perairan. Gastropoda dapat digunakan sebagai penentu kualitas perairan karena memiliki pergerakan yang lambat, melekat pada substrat, hidup dan menetap pada perairan dengan toleransi fakultatif (agak lebar) yaitu dapat bertahan hidup pada kondisi tidak tercemar sampai dengan tercemar sedang dan terdapat jenis gastropoda yang mampu hidup pada kondisi tercemar berat. Selain itu, gastropoda relatif banyak di perairan, mudah ditemukan dan mudah diidentifikasi.

Keanekaragaman jenis gastropoda pada suatu perairan dapat digunakan untuk menentukan kualitas perairan karena semakin beragam organisme pada suatu perairan maka menunjukkan kualitas air baik untuk dijadikan sebagai tempat hidup biota dan pencemaran semakin kecil. Penelitian dilakukan di Jembatan Boyong, Jembatan Ngentak, Jembatan Kewek, Jembatan Sayidan, Jembatan Keparakan, Jembatan Tungkak, Jembatan Abang dan Jembatan Pacar Wonokromo. Gastropoda diambil dengan cara hand collecting atau menggunakan jarring dengan besar lubang 0,05 mm dengan ploting pada lokasi penelitian untuk mendapatkan jenis gastropoda yang lebih beragam. Ploting dilakukan hingga tidak ditemukan jenis baru pada perairan tersebut. Cara yang dapat digunakan untuk menentukan keanekaragaman gastropoda adalah dengan menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon – Wiener dan dihubungkan dengan kriteria pencemaran perairan.

Tercemar Berat
Berdasarkan hasil observasi dan identifikasi, ditemukan enam jenis gastropoda pada Sungai Code yaitu Anentome helena, Melanoides tuberculata, Tarebia granifera, Filopaludina javanica, Sulcospira testudinaria dan Pomacea canaliculata. Menurut hasil perhitungan indeks keanekaragaman Shannon-Wiener nilai tertinggi keanekaragaman terdapat pada bagian hulu yaitu sebesar 3,65 dan terendah sebesar 0 pada bagian tengah Sungai Code. Kriteria pencemaran dari Sungai Code ini berkisar antara tidak tercemar hingga tercemar berat. Kriteria tidak tecemar berada pada titik lokasi hulu, dimana kondisi lingkungan alami dan belum terdapat aktivitas manusia yang mempengaruhi kondisi perairan.

Dan kriteria tercemar terdapat pada lokasi selain bagian hulu karena sudah terdapat aktivitas manusia dan penggunaan lahan seperti permukiman dan pertanian yang limbahnya mampu mempengaruhi kualitas air dan mempengaruhi keberadaan biota perairan khususnya gastropoda. Berdasarkan hasil perhitungan indeks pencemaran, kualitas air Sungai Code termasuk dalam kategori tercemar ringan. Perbedaan kriteria pencemaran pada kedua indeks ini dikarenakan adanya perbedaan metode pengukuran dimana pada indeks pencemaran diukur berdasarkan parameter fisik-kimia, sedangkan pada indeks keanekaragaman diukur menggunakan keberadaan biota yang ada. Gastropoda dipengaruhi oleh kualitas air dan menunjukkan hasil yang lebih sensitif untuk menggambarkan dampak dan kualitas lingkungan sehingga didapatkan hasil perairan Sungai Code termasuk dalam kategori tercemar berat dimulai dari Jembatan Ngentak.

Selain itu, terdapat parameter seperti nitrat dan fosfat yang berasal dari limbah domestik dan pertanian yang melebihi baku mutu kualitas air. Hal ini menunjukkan beban yang masuk ke dalam Sungai Code melebihi kemampuan sungai untuk melakukan self puritification atau membersihkan dirinya sendiri sehingga terjadi pencemaran air. Adanya pencemaran air yang berasal dari limbah baik rumah tangga maupun pertanian merupakan bukti perlunya dilakukan monitoring kualitas air secara terus menerus dengan parameter fisik, kimia dan biologi berkelanjutan.