OPINI: Sinergi Penerbangan dan Pariwisata di DIY

Sejumlah kendaraan melintas di depan proyek pembangunan hotel yang berlokasi di depan pintu masuk YIA, Kapanewon Temon, Kulonprogo, Senin (3/8/2020).-Harian Jogja - Jalu Rahman Dewantara.
12 Agustus 2020 05:02 WIB Dibyo Sumantri Priambodo, Psikolog/mantan BOD di BUMN Aspirasi Share :

Dalam rapat terbatas dengan topik Penggabungan BUMN di sektor Aviasi dan Pariwisata yang dihadiri para menteri Kabinet Indonesia Maju di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (6/8), Presiden Joko Widodo memerintahkan penataan sistem di sektor pariwisata dan penerbangan agar dapat lebih efektif. Momentum penataan itu terjadi , khususnya saat pandemi Covid-19 karena kontraksi mendalam di kedua sektor tersebut pada triwulan II-2020 (Harian Jogja, 7/8)

Presiden menjelaskan penurunan ini justru menjadi momentum untuk konsolidasi, untuk transformasi di bidang pariwisata , penentuan hub, penentuan superhub kemudian juga kemungkinan untuk menyatukan BUMN penerbangan dan pariwisata sehingga arahnya semakin kelihatan.

Seperti disampaikan BPS beberapa waktu lalu, kontraksi dalam perekonomian Indonesia tumbuh negatif 5,32 persen pada tiwulan II-2020 karena Covid-19 yang telah membatasi aktivitas ekonomi. Presiden Joko Widodo menambahkan triwulan ke-2 tahun 2020, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Indonesia mencapai 482.000 dan ini turun 81% untuk quarter to quarter dan turun 87% untuk year on year, penurunan terkontraksi yang cukup dalam.

Prasarana Bandara
Sebagai pemerhati dunia pariwisata, perintah yang dikemukakan Presiden Joko Widodo kiranya patut disambut positif, sejauh pelaksanan di lapangan memahami filosofi tersebut secara komprehensif, holistik dan terukur. Karena pariwisata memang bertali temali dengan kualitas industri penerbangan. Baik prasarana maupun kualitas pelayanannya.

Keberadaan Yogyakarta International Airport (YIA) di Temon, Kulonprogo, sesungguhnya telah menjawab sebagian dari permasalahan pariwisata di DIY. Pengembangan kawasan Aerocity di kompleks bandara, akan dilengkapi dengan fasilitas tiga hotel berbintang yang diharapkan beroperasi tahun depan. Selain itu, direncanakan pengembangan destinasi wisata berupa pembangunan Kereta Gantung (aerial trainway) di daerah Sermo, yang akan menghubungkan sejumlah destinasi wisata di kawasan perbukitan Menoreh, perbukitan di Kulonprogo yang indah dan menawan.

Terkait dengan pengembangan pariwisata, Angkasa Pura I dan Perhimpunan Hotel dan Restoran (PHRI) DIY menyambut baik pembangunan hotel tersebut. Bahkan disampaikan Pelaksana Tugas Sementara (PTS) General Manager YIA PT Angkasa Pura I, Agus Pandu Purnama, pembangunan hotel itu sebagai pendukung beroperasinya bandara secara paripurna.

Agus Pandu Purnama menyambut baik, terutama hotel berbintang. Bahkan kebutuhan tersebut tidak hanya untuk wisatawan tetapi juga untuk kru yang jumlahnya banyak. Lantas diungkapkan di kawasan sekitar bandara terdapat lahan sekitar 89 hektare untuk mendukung Aerocity.

Dengan optimistis PTS General Manager Angkasa Pura I itu mengatakan nantinya selain hotel ada gedung pertemuan, tempat pelayanan kargo, taman, rumah sakit dan mal yang akan dibangun tahun 2021, kendatipun pandemi Covid-19 belum tahu kapan akan berakhir.

Prospek Pariwisata DIY
Menyambut tatanan baru di fase normal baru, sejatinya YIA adalah magnet bagi investor menanamkan modal untukberbagai prasarana di wilayah DIY. Sebagaimana diungkapkan Presiden Joko Widodo, terdapat delapan bandara internasional yang berpotensi menjadi hub dan superhub yaitu bandara Ngurah Rai, Soekarno Hatta, Kualanamu, Jogja, Balikpapan, Hasanudin, Sam Ratulangi dan Bandara Juanda.

Yang dimaksud Presiden, airline hub adalah penghubung maskapai penerbangan pada bandara di mana sebuah maskapai penerbangan menggunakannya sebagai titik transfer untuk mendapatkan penumpang ke tujuan yang mereka maksudkan. Wisatawan dapat bergerak antarbandara yang tidak terlayani penerbangan langsung, lalu mengganti pesawat sesuai tujuan mereka.

Sekadar gambaran dalam long weekend beberapa waktu lalu, industri perhotelan di DIY mulai menunjukkan tren positif. Seperti dikemukakan oleh Ketua PHRI DIY, Deddy Pranowo, setidaknya 120 hotel dan restoran telah buka. Tingkat okupansi selama liburan panjang sempat mencapai 100% dari kamar yang tersedia.

Tingkat okupansi 70% terjadi pada hotel bintang 3, 4 dan 5. Hotel bintang 4 dan 5 telah merata, namun kendati semua sudah menerapkan protokol kesehatan, hotel bintang 3 ke bawah masih sebatas dalam Kota Jogja.

Kondisi tersebut ditengarai karena para wisatawan lebih banyak menggunakan kendaraan darat karena pertimbangan praktis, dan sebagian menganggap bahwa bandara Adisutjipto Jogjakarta tidak ada lagi melayani penerbangan.

Aspek Strategis
Pada sisi yang berbeda, benang merah keberadaan bandara YIA di Temon, Kulonprogo dengan pengembangan wisata di DIY, sesungguhnya aspek strategis sebagai pengembangan pesisir pantai selatan dan wilayah barat sampai dengan Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, sesuai sumbu imajiner dan falsafah Among Tani Dan Dagang Layar yang dicanangkan Gubernur DIY, Sri Sultan HB X.

Oleh karena itu, BUMN terkait, Pemerintah Daerah dan masyarakat industri kepariwisatan perlu memahami seutuhnya permintaan Presiden Joko Widodo untuk penataan sektor pariwisata dan penerbangan. Kedua faktor tersebut memang bertali temali satu sama lain.

Namun mengingat penggabungan dua atau lebih institusi tidak mungkin hanya berdasarkan trial and error ataupun common sense, maka yang lebih utama adalah bagaimana Pemerintah Pusat, pemerintah daerah dan antar institusi meningkatkan kordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplifikasi berbagai masalah yang ada. Semoga wacana ini bukan hanya fatamorgana.