OPINI: Kualitas Winongo Berdasarkan Indikator Makroinvertebrata

Anak-anak mengikuti kampanye susur Kali Winongo sebagai bagian pengenalan alternatif wisata air di Jogja, Minggu (1/4). (Abdul Hamid Razak/JIBI - Harian Jogja)

Sungai merupakan salah satu ekosistem air tawar dan di dalamnya terjadi aliran energi yang masuk ataupun keluar. Aliran energi tersebut berperan dalam keseimbangan ekosistem sungai dan sekitarnya. Aktivitas manusia di sekitar ekosistem sungai dapat mengganggu stabilitas ekosistem dan menyebabkan perubahan-perubahan pada ekosistem.

Hal tersebut juga terjadi di Sungai winongo, salah satu sungai di DIY yang mengalami perubahan lahan, aktivitas dan kualitas air sungai. Berdasarkan laporan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DIY 2019 menunjukkan kuliatas air Winongo masuk dalam kelas II.
Pada 2017-2019 berdasarkan Nilai Indeks Kuliatas Air mengalami penurunan, dari angka 50,00 menjadi 41,98. Pencemaran air di Kota Jogja disebabkan limbah cair domestik rumah tangga dan sampah.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sudaryono (2000), kondisi air pada sungai winongo terindikasi mengalami pencemaran dengan memiliki kandungan nitrit dan bakteri E.coli yang melebihi ambang batas baku mutu untuk persyaratan air minum. Menurut Dinas Lingkungan Hidup pada 2019, Winongo telah tercemar sehingga perlu adanya tindakan yang serius untuk pengolahan air limbah domestik dan industri.

Winongo diindikasikan tercemar ringan sampai tercemar berat. Dampak dari degradasi Winongo yaitu dikarenakan pertumbuhan penduduk yang tidak terkontrol sehingga menjadi beban khusus bagi lahan DAS yang berada di luar perkotaan. Beban ini mulai dari hulu sampai ke hilir, lahan dieksploitsir dengan berlebihan juga dengan cara yang tidak sesuai dalam upaya pelestarian lingkungan. Sungai Winongo diperkirakan mengalami proses pencemaran yang tinggi, tingginya tingkat pencemaran di Winongo disebabkan oleh tingginya potensi limbah pencemar yang masuk dari daratan melalui Sungai Winongo yang akan menambah beban pencemaran dari tahun ke tahun.

Mempertimbangkan meningkatnya aktivitas masyarakat, konversi lahan maka perlu dilakukan monitoring kualitas air sungai tidak hanya dengan melakukan pengukuran parameter fisik dan kimia tetapi perlu ditambahkan dengan penggunaan bioindikator, karena bioindikator mampu memberikan informasi status mutu lingkungan atau kondisi secara biotik, mengindikasi risiko perubahan habitat, perubahan komunitas dan keragaman pada daerah yang diamati. Salah satu bioindikator pencemaran sungai adalah makroinvertebrata.

Sifat Menetap
Makroinvertebrata digunakan sebagai indikator karena organisme ini mudah ditemukan hampir disemua perairan, siklus hidupnya panjang, dan menunjukkan bukti mengenai suatu kondisi dalam rentang waktu yang panjang (Spellman & Drinan, 2001). Selain itu, makroinvetebrata juga memiliki jenis yang cukup banyak yang memberikan respons yang berbeda akibat gangguan yang berbeda, pergerakannya terbatas, tubuhnya dapat mengakumulasi racun sehingga dapat digunkan sebagai petunjuk pencemaran (Maruru, 2012).

Menurut Rosenberg dan Resh (1993) makroinvertebrata merupakan biota yang mudah diidentifikasi dan dikoleksi karena sifatnya menetap, selain itu makroinvertebrata peka terhadap perubahan lingkungan perairan sehingga akan memperngaruhi komposisi dan kemelimpahannya dan dapat menggambarkan kondisi fisik, kimia, dan biologi perairan. Oleh karena itu, pada penelitian ini kajian monitoring kualirtas air selain dengan pengukuran parameter fisik dan kimia juga dilakukan dengan menggunakan makroinvertebrata sebagai bioindikator.

Diharapkan dengan menggunakan bioindikator menjadi salah satu metode untuk menentukan kulitas air Winongo. Melihat dari banyaknya manfaat dan nilai penting makroinvertebrata pada ekosistem perairan sungai, dapat dilakukan upaya evaluasi yang berfokus pada indicator struktur dan komunitas makroinvertebrata untuk menggambarkan kondisi ekosistem dan kualitas air Winongo.

Agak Buruk
Berdasarkan hasil observasi dan identifikasi 13 jenis makroinvertebrata dengan 2.559 total individu. Berdasarkan taksonnya ditemukan 12 genus, 13 famili, 13 ordo dan lima kelas makroinvetebrata. Makroinvertebrata Winongo didominasi oleh Gastropoda dengan 2.417 total individu diikuti oleh Crustacea,Insecta, Malacostraca dan Bivalvia. Menurut hasil Family Biotic Indeks menunjukkan Winongo masuk kategori tercemar agak buruk hingga buruk sekali.

Berdasarkan indeks pencemaran, Winongo masuk kategori tercemar ringan. Perbedaan kriteria dari kedua indeks ini dikarenakan perhitungan indeks pencemaran diukur berdasarkan parameter fisik-kimia sedangkan Family Biotic Indeks dihitung berdasarkan biota yang ditemukan.
Makroinvertebrata memiliki sifat yang toleran dan intoleran terhadap beban pencemar sehingga makroinvertebrata dapat dijadikan bioindikator untuk menentukan status mutu air. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lunde & Resh (2012), salah satu keunggulan makroinvertebrata yaitu bersifat respontif akibat adanya suatu perubahan lingkungan, dan mampu mengakumulasi berbagai faktor tekanan, toleransi habitat yang sangat luas, dan relatif untuk diidentifikasi. Berdasarkan hasil parameter fisik-kimia yang melewati batas baku mutu Peraturan Gubernur DIY No.20/2008 adalah nitrat dan fosfat. Hal ini dikarenakan aktivitas warga disekitaran Sungai Winongo yang mandi, mencuci dan membuang sampah langsung ke badan sungai.

Semoga dengan adanya metode biomonitoring ini dapat dilakukan dengan sistem berkelanjutan perlu dilakukan secara rutin oleh pemerintah dengan mengukur faktor-faktor lingkungan lain yang belum dapat terukur sehingga dapat diperoleh hasil yang maksimal dan akurat, mengingat sungai Winongo sudah tercemar. Bagi masyarakat yang di sekitar Sungai Winongo perlu untuk menjaga dan membatasi aktivitas yang mampu mengubah kualitas air Sungai Winongo.