OPINI: Literasi Digital untuk Pengembangan UMKM

Salah satu pebisnis kerajinan serat alam, Indri Widiyanti menunjukkan gudang produk kerajinannya pada Senin (27/4/2020). - Harian Jogja/Catur Dwi Janati
29 September 2020 05:02 WIB Ralina Transistari, Dosen Tetap STIM YKPN Yogyakarta Aspirasi Share :

Dampak pandemi Covid-19 yang masih berlangsung sampai dengan saat ini sangat dirasakan oleh seluruh sektor ekonomi, tidak terkecuali sektor usaha mikro kecil menengah (UMKM). UMKM yang di jaman resesi beberapa tahun lalu mampu bangkit dan menjadi penopang utama perekonomian negara, akibat pandemi ini menjadi sektor yang mengalami dampak berat.

Sektor usaha yang paling terdampak menurut survei Kementerian Koperasi dan UMKM pada bulan Juni 2020 adalah sektor penyedia akomodasi dan makan minum (35,88%), pedagang besar dan eceran (23,33%), dan industri pengolahan (17,83%).

Sebagaimana diketahui, saat ini terdapat 64 juta unit usaha yang tergolong UMKM di Indonesia atau sekitar 99 persen populasi usaha dan mampu memberikan lapangan kerja sebanyak 97% dari total, namun sayangnya berdasar informasi dari Kemenkominfo hanya sekitar 13% yang terdigitalisasi atau sebanyak 9,4 juta unit usaha.

Padahal, akibat pandemi ini terjadi perubahan perilaku konsumsi masyarakat, produk yang dibutuhkan, dan juga cara transaksinya yang secara cepat menuntut UMKM mengubah operasional bisnisnya. Ya, mau tidak mau UMKM harus go digital.

Di sisi lain perubahan perilaku konsumsi masyarakat yang mengurangi interaksi fisik, membatasi kegiatan di luar rumah, dan melakukan belanja secara online untuk memenuhi kebutuhannya berdampak pada transaksi e-commerce yang meningkat. Berdasarkan data yang diperoleh dari katadata.id terdapat kenaikan 51% konsumen baru dan peningkatan volume permintaan 5-10 kali selama pandemi dengan penjualan di e-commerce mencapai Rp36 triliun atau naik sebesar 26%.

Hal ini menunjukkan tak semua sektor usaha mengalami penurunan, namun lebih banyak disebabkan karena UMKM belum memiliki kemampuan untuk menjangkau pasar digital. Hasil survei pada bulan Januari 2020 di Indonesia terdapat 338 juta pengguna telepon seluler (124% populasi), 175,4 juta pengguna internet, dan 160 juta pengguna media sosial secara aktif. Ini adalah peluang pasar yang dapat dijangkau jika UMKM go digital.

Surutkan Upaya
Pengembangan UMKM digital menjadi tantangan karena menghadapi beberapa permasalahan antara lain adalah terbatasnya pemahaman terhadap teknologi/digital/pemasaran online, terbatasnya ketersediaan akses Internet, keamanan transaksi yang menjadi pertimbangan utama konsumen, juga akses pasar yang rendah.

Namun tantangan tersebut tak harus menyurutkan upaya untuk digitalisasi UMKM karena literasi digital menjadi keterampilan yang mutlak harus dimiliki oleh UMKM pada masa sekarang ini untuk dapat menjangkau konsumen. Selain itu digitalisasi UMKM juga memberikan manfaat pada kemudahan transaksi, memahami kebutuhan konsumen lebih cepat, memperluas pasar, operasional usaha yang fleksibel, dan akses jaringan usaha yang luas.

Untuk mendorong digitalisasi UMKM, pemerintah telah melakukan berbagai upaya melalui kolaborasi dan sinergi, baik antar Kementerian/Lembaga, swasta, startup, dan juga Perguruan Tinggi. Adapun kegiatannya meliputi memperluas akses infrastruktur digital, akses pembiayaan, pelatihan dan pendampingan, juga sistem infromasi digital UMKM. Dengan kegiatan-kegiatan tersebut Kementerian Koperasi dan UMKM menargetkan 10 juta UMKM dapat terdigitalisasi hingga akhir 2020. Digitalisasi UMKM ini diharapkan dapat membantu UMKM untuk bangkit dan mendorong pemulihan ekonomi nasional.

Salah satu kegiatan yang pokok untuk memberikan pemahaman dan sekaligus mengaplikasikan digitalisasi UMKM ini adalah melalui program pelatihan. Pelibatan perguruan tinggi dalam hal ini menjadi sangat tepat dikaitkan dengan kewajiban Perguruan Tinggi untuk melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai salah satu program merdeka belajar bagi mahasiswa, dan menjadi cikal bakal munculnya pengusaha-pengusaha baru yang melek digital.

Jangkau Konsumen
Peningkatan kemampuan digital melalui pelatihan bagi UMKM saat ini menjadi lebih praktis karena hadirnya berbagai platform digital yang dapat digunakan secara gratis bagi pelaku UMKM untuk mengembangkan bisnisnya secara digital. Selain dengan media sosial yang sudah banyak digunakan untuk “berjualan”, salah satunya adalah Google Bisnisku yang memungkinkan pelaku usaha mempromosikan profil bisnis dan situs bisnisnya di Google Maps. Dengan akun Google Bisnisku ini UMKM dapat melihat dan menjangkau konsumen, memposting pembaruan ke profil bisnis, dan melihat cara pelanggan berinteraksi dengan bisnis tersebut.

Aplikasi lainnya yang perlu diedukasi adalah Whatsapp Business yang menyediakan berbagai fitur gratis seperti profil bisnis, tautan dengan media sosial atau web, dan istimewanya dapat menampilkan produk/jasa yang ditawarkan dalam sebuah katalog yang sangat mudah disebarkan, selain itu juga fitur jawaban singkat yang otomatis sehingga efektif waktu, dan kode QR. Baru-baru ini Whatsapp Business bekerjasama dengan @ukmindonesiaid dalam program pelatihan UKM go Digital secara virtual di berbagai kota.

Selain aplikasi-aplikasi yang mendorong pemasaran produk, digitalisasi bisnis dalam hal keuangan juga sangat perlu untuk dapat diedukasi. Seperti kita ketahui, adanya pandemi ini menjadikan konsumen menghindari penggunaan uang tunai dalam berbelanja, bahkan dengan kartu sekalipun. Kecenderungan cara transaksi yang berubah ini menuntut UMKM untuk dapat menggunakan sistem pembayaran non tunai atau digital payment dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumen dan juga memperlancar bisnisnya.

Hal ini menjadikan edukasi literasi di bidang keuangan digital diperlukan. Menurut survei yang dilakukan oleh SNKI (Strategi Nasional Keuangan Inklusif) 70% orang dewasa di Indonesia sudah memiliki telepon seluler, 45% berupa telepon pintar, namun kurang dari 25% dari yang bertelepon pintar menggunakannya untuk bertransaksi keuangan secara digital.

Memasuki berbagai marketplace seperti Tokopedia, Shopee, dan lainnya juga dapat dimanfaatkan oleh UMKM dalam menjangkau konsumen lebih luas, selain menggunakan media sosial yang standar seperti Facebook dan Instagram. Berbagai aplikasi e-wallet dapat juga diperkenalkan untuk memperlancar transaksi.

Kolaborasi berbagai pihak seperti penyedia jasa aplikasi, kementerian terkait, dan juga dunia Perguruan Tinggi melalui berbagai program pelatihan dan program lainnya diharapkan dapat mendorong percepatan proses digitalisasi UMKM di berbagai bidang. Namun demikian perlu dijaga kontinuitasnya agar proses digitalisasi usaha tak berhenti hanya pada pembukaan akun. Kondisi tersebut tentu akan membuat pemanfaatan digitalisasi menjadi kurang optimal dan tidak berkontribusi pada peningkatan omset. Padahal tujuan akhir yang ingin dicapai adalah UMKM yang sehat dan bertumbuh sehingga mampu mendorong pemulihan perekonomian.