OPINI: Pentingnya Memahami Situasi Perempuan

Ilustrasi. - Freepik
24 Oktober 2020 06:07 WIB Irmaningsih Pudyastuti, Rifka Annisa Women Crisis Center Aspirasi Share :

Dukungan antarperempuan menjadi perdebatan yang tidak hanya terdengungkan di antara relasi perempuan dengan perempuan, bahkan disadari atau tidak, hal tersebut telah mempengaruhi perilaku perempuan di mana pun. Pernahkah teman-teman perempuan menyadari alasan untuk bersolek, memilih perawatan kecantikan, diet mati-matian demi bentuk tubuh yang dianggap ideal? “Aku berdandan karena aku mencintai tubuhku, sehingga aku juga melakukan perawatan.” Dari pernyataan ini, apakah memang begitu adanya? Atau, apakah sebenarnya perempuan merasa dirinya dalam kompetisi? Kompetisi tentang definisi cantik, menarik untuk lawan jenis, atau alasan lainnya.

Dilema terjadi saat mencintai diri sendiri atau sering disebut self-love digaungkan antarperempuan, namun di waktu yang sama mereka terbawa arus tuntutan nilai yang berkembang di masyarakat. Perempuan tidak boleh kasar, harus lemah lembut. Perempuan harus bisa memasak, padahal tidak bisa memasak pun tidak akan mengubah jenis kelamin mereka. Perempuan yang telah menjadi istri harus bisa melayani suami, atau ketika perceraian terjadi, perempuan dianggap tidak mampu merawat hubungan dan tidak mampu melaksanakan tugasnya.

Tidak jarang juga perempuan menarik diri dari lingkungan pertemanan karena kecewa terhadap lingkungan pertemanan perempuannya yang justru menyudutkan perempuan, sehingga mereka tidak percaya pada sesama perempuan, Women supporting women is bullshit.

Tidak jarang pula sesama perempuan saling menanyakan kapan nikah? Setelah nikah ditanya kok belum ada anak, jangan-jangan mandul? Setelah memiliki anak, ditanya lagi kenapa anaknya nakal, kok anaknya gini, kok anaknya begitu? Rasanya tidak ada habisnya perempuan mendapatkan stereotipe dan perundungan di lingkungannya dan dari teman perempuannya yang justru membuat situasi perempuan sendiri semakin rumit.

Miranda Olga (2019), seorang kriminolog pernah menulis pada geotimes.co.id tentang tabir kekerasan antarperempuan. Menyerang seksualitas adalah cara yang dinilai efektif untuk merundung korban perempuan. Hal ini terjadi karena budaya hetero normatif masih menghubungkan berharga atau tidaknya perempuan sebagai manusia dengan perilaku seksualnya. Persaingan intraseksual adalah persaingan antara jenis kelamin yang sama untuk mendapatkan pasangan terbaik.

Melakukan kekerasan adalah salah satu upaya yang dapat ditempuh dalam memenangkan persaingan intraseksual bagi perempuan, karena harga perempuan sering kali terletak pada perilaku seksualnya. Oleh sebab itu, bukan hal mengejutkan bila perempuan dapat merundung perempuan lain karena urusan laki-laki, atau karena perempuan lain memiliki ekspresi seksual yang dapat mengancamnya untuk mendapatkan pasangan.

Benarkah persaingan antarperempuan hanya karena aspek seksualitas? Natashya Gutierrez, Kepala Biro Rappler Indonesia menulis dalam magdanele.co tentang bagaimana perempuan mendukung perempuan lain. Ada masalah diskriminasi gender dan seksisme yang harus dipikul oleh perempuan, seperti dinomorduakan dalam kesempatan mendapatkan pendidikan atau kenaikan jabatan; pelabelan-pelabelan negatif ketika dia bersekolah tinggi, pulang malam, atau ketika dia tidak cantik dan tidak lemah lembut; tanggung jawab pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak yang hanya dibebankan padanya; hingga berbagai jenis kekerasan dari mulai kekerasan psikis, kekerasan fisik, kekerasan ekonomi, kekerasan sosial, dan kekerasan seksual yang sulit dia lawan karena dia terkungkung dalam konstruksi yang membuatnya tidak bisa atau tidak tahu harus berbuat apa.

Saling Menjatuhkan
Dalam tulisan lain, Marianne Cooper, sosiolog di Clayman Institute for Gender Research menulis sebuah artikel di The Atlantic tentang mengapa perempuan saling menjatuhkan satu sama lain. Studi-studi menunjukkan bahwa kecenderungan perempuan untuk saling membenci ditimbulkan oleh dua faktor: lingkungan tempat perempuan didiskriminasi dan kurangnya solidaritas gender. Perempuan tidak saling membantu ketika mereka merasa bahwa ada konotasi negatif dari menjadi seorang perempuan. Misalnya, katakanlah saya salah satu dari jumlah kecil perempuan di tempat kerja yang mayoritasnya laki-laki, dengan stereotipe terhadap perempuan (dramatis, tidak kompeten, emosional, dll).

Berbagai situasi yang membuat perempuan merasa dalam persaingan dalam sehari-harinya tidak lepas dari situasi ketidaksetaraan gender dan budaya patriarki yang mengungkung perempuan sejak lahir. Adanya pembatasan akses, diskriminasi, beban ganda, stereotipe negatif yang membuat perempuan memberontak berusaha untuk keluar dari jeratan tersebut. Ekspresi tersebut ditunjukkan dengan beragam oleh perempuan. Hal ini tidak lepas dari lingkungan di mana perempuan tumbuh dan berkembang.

Apabila lingkungannya penuh dengan kekerasan, maka ia cenderung menempuh cara-cara kekerasan untuk memenuhi kebutuhannya, termasuk mencari jati diri. Padahal, perempuan hanya ingin menjadi diri sendiri dan mendapatkan akses untuk aktualisasi diri. Sayangnya, bagi perempuan yang sudah menyadari bahwa mereka punya privilege dan kesempatan untuk mendapatkan akses tersebut, lupa berempati terhadap perempuan lain sehingga yang terjadi adalah persaingan.

Lalu bagaimana caranya agar perempuan bisa mengubah situasi itu? Bagaimana sesama perempuan bisa saling menguatkan dan mendukung satu sama lain dalam hal kebaikan dan pengembangan diri? Berhentilah menghakimi perempuan atau membanding-bandingkan proses hidupnya. Perempuan membutuhkan teman untuk berbagi beban. Sesama perempuan sudah selayaknya menghormati apapun keputusan yang diambil. Misalnya keputusan untuk melajang, keputusan untuk menikah, keputusan untuk bekerja atau pun menjadi ibu rumah tangga, keputusan untuk memilih gaya pakaian, dan keputusan untuk bertentangan dengan arus utama. Jika hal ini sudah disadari perempuan, maka tidak ada lagi persaingan, tidak ada lagi saling merendahkan antarperempuan.

Ada banyak situasi yang membuat perempuan memilih jalan berbeda. Tuntutan masyarakat akan perempuan ideal, situasi keluarga yang kurang baik relasinya, trauma dari perundungan, trauma terhadap relasi, dan hidup dalam batasan-batasan tertentu. Semua itu sangat rumit.

Apa yang dibutukan dari dukungan antarperempuan? Menjadi teman yang mendengar tanpa menghakimi, menjadi langkah awal untuk memberikan dukungan antarperempuan. Menciptakan ruang nyaman bersama penting untuk dibangun sesama perempuan. Mengutip dari Natashya Gutierrez, “Semakin kita tidak saling membantu, akan semakin buruk keadaannya untuk perempuan, dan semakin lama kita mencapai kesetaraan yang diinginkan.”