OPINI: Indonesia Kaya Sumber Etos Progresif Entrepreneurship

Heru Atna, Musikus dan Mantan Wartawan
24 November 2020 06:07 WIB Heru Atna, Musikus dan Mantan Wartawan Aspirasi Share :

Indonesia yang multi kultur ini sejatinya kaya sumber etos progresif. Kajilah, misalnya etnis Minang, Madura, Sunda, Batak  yang latar belakangnya  masing-masing mengendapkan semangat merantau untuk perbaikan nasib.

Orang Islam, misalnya, diajarkan: "Bekerjalah kamu,karena sesungguhnya Aku (Allah) juga bekerja. "Bagi yang sedang dalam kesulitan pun diajarkan: "Barang siapa bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan mencarikan jalan keluar. Dan memberimu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka."

Orang Nasrani bilang ora et labora, bekerjalah sambil berdoa, kerja dan ingat Allah sebagai satu paket, yang berarti peluklah dunia dalam iman. Harta melimpah bukan tujuan,tapi sekedar ekses logis karena manusia bekerja.

Dengan gila kerja,tapi juga dengan kerinduan beribadat yang tinggi manusia menjaga harmoninya yang produktif, materi dan spiritualitasnya. Itulah etos kerja manusia bermartabat. Dari situ pula produktivitas dapat dipacu, hari ini harus lebih baik dari kemarin, begitu pun dalam cara ikhtiar kerja.

Jepang merupakan salah satu negara yang ekonominya diperhitungkan dunia, membangun negerinya yang miskin sumber daya alam itu dengan etos kebangkitan yang hebat, dari kekalahan total dan kehancurannya dalam Perang Dunia II setelah dibom atom oleh Amerika.

Awalnya, motif juang orang Jepang itu imaterial, non-kebendaan. Ini sama persis dengan misalnya PNS muslim yang spiritnya "kerja adalah ibadah". Orang Islam diajarkan kalau bekerja untuk nafkah keluarganya, orang tuanya, bangsa, negara dan kehormatan dirinya itu fi sabilillah. Jika mati dalam rangka ikhtiar kerja itu jaminannya ditempatkan di surga atau jihad.

Memasuki zaman Meiji, pola adopsi berubah menjadi  Saicho Hotan (menerima yang baik dan memperbaiki yang kurang). Ketika memasuki era Raisho, slogan menjadi Shoka (masa pencerahan atau pengambilan intisari) dan Doka (asimilasi) dari peradaban Barat. Kemudian memasuki zaman akhir (Showa) prinsip adopsi tekhnologi berubah total menjadi Niponka alias Penjepangan.

Seperti kata Maha Guru Sejarah Sosial UGM, Prof Dr Sartono Kartodirdjo, etos adalah totalitas prinsip-prinsip terpadu (koheren) yang membudidayakan seluruh sikap hidup, sehingga mewujudkan pola-pola tertentu yang berpotensi menghasilkan hasil tertinggi.

Jepang, tumbuh dan menjadi besar dengan pola dan watak kejepangannya.Tapi bagaimana dengan Indonesia dengan etos "Indonesiawi" yang multi etnis ini?

Dari ranah dagang lokalitas saja sejak lama sudah tumbuh melampaui jamannya berbagai etos progresif entrepreneurship hingga tercatat dalam sejarah kronologis berdirinya Sarikat Dagang Islam. Dari usaha warung misalnya, sebut saja Gudeg Jogja, Warteg dan Rumah Makan Padang yang sudah lama eksis dan tidak kurang-kurang memberikan kiat kewirausahaan dengan kearifan lokalitasnya, jauh sebelum KFC dan sejenisnya masuk bersaing di Indonesia.

Berprinsip mandiri: tidak mau diperintah orang lain, ulet, sabar,tekun, konsisten ikhtiar menentukan nasibnya sendiri dan berani ambil resiko. Itulah ciri entrepreneurship yang sudah riil tumbuh jauh di masa lalu.Bahkan sudah ada semacam maklumat "Revolusi Mental" yang memengaruhi kesadaran kolektif masyarakat waktu itu, misalnya: "Ojo seneng utang, tapi ngutangono." Maksudnya, jangan suka mengembangkan mental "suka berutang, tapi utangilah. Ini tentu berbalik 180 derajat dengan mental suka ambil kredit para pengusaha masa kini. Dan ujungnya pun Indonesia menjadi negara pengutang terbesar di Asia dan ketujuh Dunia. Mengerikan.

 

***

Atau bacalah sempalan sejarah wanita Jawa yang mentajubkan: Mbok Mas-e, sebutan untuk para juragan batik di Laweyan- Solo, yang begitu dominannya kekuasaan mereka atas pasang surutnya perdagangan batik di Solo, sehingga para buruh dan masyarakat kemudian ikut-ikutan menjulukinya: Mbok Mas-e,satu sebutan kultural yang bersejarah!

Sejarah mencatatnya sebagai momentum etos kebangkitan pribumi yang sulit ditemukan tandingannya. Terutama dalam konteks masyarakat pedalaman yang umumnya sangat "keraton sentris" dan amat alergi  sifat ati saudagar (pengusaha). Betapa tidak, pada 1928 misalnya, dari 387 perusahaan batik yang ada, sekitar 61% (236 buah) di antaranya berada di tangan mereka dan hampir 85% produksi batik di Surakarta terpusat di Laweyan.

Keberhasilan itu menyiratkan, meskipun mereka dilecehkan sebagai wong dagang yang tidak berdarah biru, namun pengaruh kekayaan kekayaan mereka di tengah masyarakat sering diperhitungkan setara dengan status sosial pejabat tinggi kerajaan setempat. Suatu ironi bahwa para bangsawan pun ternyata banyak berutang kepada mereka, bahkan ada  yang tak mau membayar utang.

Banyak juga Mbok Mas-e yang menikah dengan bangsawan untuk "barter" mendapatkan status priyayi. Mbok Mas-e juga seperti membentuk kerajaan tersendiri sebagai show of force dengan memegang 75% kekuasaan dalam rumah tangga, sejak proses produksi dan distribusi.

Bagaimana pula mengadopsi  etos progresif entrepreneurship yang berwatak Indonesia  dalam ranah birokrasi? Di zaman ketika pasar bebas belum masuk, gaya paternalistik "yes man", Bapak-isme, sendika dawuh mungkin masih layak.Antara lain karena  resiko ekonomisnya masih kecil, pada saat itu program bisa lancar saja sudah baik.

Tapi untuk konteks sekarang, ketika birokrasi dituntut kreativitasnya untuk mendapatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan devisa misalnya, jelas negara lebih butuh PNS dan ASN profesional, otonom,kreatif, berdedikasi dan mempunyai kemampuan bergaul lintas budaya (multikultur). Itulah tren pengembangan birokrasi sekarang, menumbuhkan etos "mewirausahakan birokrasi".

Orba mewariskan suatu "virus mental" kontra produktif yang untuk merubahnya setidaknya butuh waktu 15-20 tahun untuk mengubahnya. Mental Asal Bapak Senang, takut salah, hidup mati ikut atasan adalah contoh-contoh jenis "virus mental" negatif yang sampai sekarang masih dengan mudah ditemukan.Sesuatu yang bertentangan dengan etos progresif kita.

Etos birokrasi legal rasional modern pun mengedepankan tuntutan berani mengambil risiko. Beda dengan etos lama warisan Orde Baru, etos birokrasi modern mengajarkan entrepreneurship. Jika kerja orang birokrasi dulu "menghabiskan anggaran" maka etos baru birokrasi  "menghasilkan uang", barulah di situ dianggarkan suatu program.

Masalahnya alih mentalitas dari warisan orba ke gaya birokrasi modern ini tidak bisa instan pencitraan. Lebih lagi, tanpa dukungan jelas dalam struktur. Diperlukan push and enforcement (tekanan dan dorongan) yang bersifat struktural dan intensif untuk memungkinkan terjadi. Tak perlu sungkan-sungkan juga menjadikan soko guru kearifan lokalitas yang kaya sumber etos progresif entrepreneurship  untuk menumbuhkan etos kerja Indonesia.