Shifting Menyongsong Dunia Baru

Th. Agung M. Harsiwi, Dosen Program Studi Manajemen, Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Tahun 2020 segera akan berakhir, sementara penyebaran pandemi Covid-19 di Indonesia belum menunjukkan tanda-tanda terkendali. Kehidupan masyarakat masih tetap berjalan, meski pandemi sudah berlangsung 9 bulan lamanya. Berbagai perubahan terjadi pada masyarakat, tidak terkecuali masyarakat yang bekerja sebagai karyawan di perusahaan yang harus berjuang mempertahankan kelangsungan hidup usahanya.

Pandemi Pemantik Perubahan

Kotter (1996) dalam bukunya Leading Change mengulas langkah pertama perubahan adalah ciptakan sense of urgency atau rasa keterdesakan. Inilah saatnya organisasi berubah. Pandemi menuntut dunia industri segera mengubah strategi usahanya menjadi lebih adaptif dan inovatif dengan mengembangkan aset manusia yang ada di dalamnya. Pengembangan aset Sumber Daya Manusia (SDM) atau karyawan sangat mungkin terabaikan pada masa-masa sebelum pandemi, sehingga ini saat yang tepat untuk mengelola sumber daya manusia (SDM) secara lebih efektif dan efisien.

Inilah sisi lain pandemi sebagai blessing in disguise, di mana pandemi Covid-19 menjadi momentum berharga bagi industri untuk meninjau kembali SDM-nya. Apakah selama ini SDM telah dikelola dengan optimal? Apakah perubahan yang perlu dilakukan selama pandemi? Apakah perubahan akan dilakukan berkelanjutan sekalipun pandemi Covid-19 telah berakhir? Tata kelola manusia yang berubah ini tentu lebih mengedepankan produktivitas SDM di perusahaan.

Banyak perusahaan telah menerapkan bekerja dari rumah (work from home atau WFH) dan bekerja dari kantor (work from office atau WFO) secara bergantian karena perusahaan harus mengatur kembali tata letak kantor demi pengaturan jarak sosial.

Bagi karyawan yang menjalani WFH tentu harus menjadi lebih digitalized dan harus cepat beradaptasi dengan perangkat teknologi digital. WFO pun harus menerapkan protokol kesehatan 4T (tetap pakai masker, tetap jaga jarak, tetap cuci tangan, dan tetap tidak berjabat tangan) secara ketat dan menuntut kedisiplinan karyawan yang tinggi untuk mengurangi risiko penyebaran Covid-19 dan timbulnya klaster perkantoran.

Tata kelola SDM banyak yang dilakukan secara daring (online). Open recruitment menjadi lebih mudah karena dilakukan secara online, mulai dari pengiriman dokumen sampai pemrosesan dari manapun oleh divisi HRD. Segala proses seleksi pun, termasuk wawancara dilakukan online melalui aplikasi live meeting. Hanya saja, wawancara harus benar-benar menggali person-organization fit, dengan mencari kecocokan karakter calon karyawan dengan nilai-nilai (values) yang dianut perusahaan, sehingga perusahaan memperoleh karyawan yang diharapkan.

Untuk itu, dibutuhkan pewawancara yang piawai dalam melakukan wawancara secara online, mengingat ada hal-hal yang tidak tergali seperti bahasa tubuh, gesture, ekspresi wajah, sekalipun dilakukan dengan kamera terbuka.

Demikian pula halnya dengan pelatihan dan pengembangan karyawan. Perusahaan dalam waktu singkat harus beradaptasi dengan melakukan upskilling dan reskilling karyawannya. Tidak bisa lagi ditunda, karyawan perusahaan harus berubah menjadi lebih agile dan persistent. Mempunyai agility, ketangkasan bergerak, berubah, beradaptasi, dari pekerjaan analog menjadi digital, lebih banyak bekerja dengan file dan layar komputer daripada tatap muka. Harus juga persisten, mempunyai daya juang, tidak pernah lelah menjalani seluruh proses yang sedang berubah ini.

 

Selain untuk peningkatan dan pembaharuan keterampilan karyawan, pelatihan dan pengembangan karyawan juga menjaga semangat kerja karyawan agar tetap engaged dengan perusahaan. Menjaga agar karyawan merasa ‘diopeni’ oleh perusahaan menjadi hal penting dalam situasi pandemi yang tidak pasti ini.

Dengan segala keterbatasannya, pelatihan dan pengembangan karyawan ditengarai tidak seoptimal tatap muka, namun sekurang-kurangnya pelatihan dan pengembangan karyawan secara online dapat menjadi bentuk sapaan perusahaan kepada karyawannya. Bahkan dapat juga dilakukan pertemuan informal seperti sarasehan bersama manajemen perusahaan.

Harus diakui, pandemi Covid-19 telah meningkatkan kepedulian perusahaan terhadap kesehatan dan keselamatan kerja karyawannya. Tidak kurang-kurang perusahaan menyiapkan peralatan dan perlengkapan kebersihan sesuai dengan standar protokol kesehatan yang disarankan Satuan Tugas Penanganan Covid-19. Dari ketersediaan tempat cuci tangan, handsanitizer, jarak antarmeja kerja, sekat-sekat pengaman ruang publik, sampai dengan vitamin dan suplemen yang dibagikan kepada karyawan. Bukan tidak mungkin, satu orang karyawan tanpa gejala masuk kantor akan berdampak penularan Covid-19 kepada karyawan lain. Tindakan pencegahan ini sudah pasti membutuhkan biaya yang tidak kecil dan umumnya tidak dianggarkan di awal tahun ini.

Tidak berlebihan seandainya banyak perusahaan di kota-kota besar melarang karyawannya untuk mudik atau pulang kampung. Terlebih-lebih Pemerintah RI sudah mengurangi atau membatalkan beberapa hari cuti bersama di akhir tahun ini. Bahkan ada perusahaan yang mengeluarkan aturan tegas, jika karyawan terpaksa mudik karena urusan mendesak, maka sebelum kembali masuk kerja wajib melakukan rapid test, jika hasil reaktif maka wajib melakukan swab test dan seluruh biaya menjadi tanggung jawab karyawan bersangkutan.

Tentu bukan hal yang mudah untuk dilakukan, mengingat pandemi Covid-19 sudah berlangsung berbulan-bulan, sehingga sebagian besar karyawan mengalami kejenuhan dan membutuhkan energi baru untuk bekerja. Tradisi mudik atau pulang kampung saat libur hari raya atau libur tahun baru akan dimanfaatkan sebaik mungkin oleh karyawan.

Di satu sisi terkesan perusahaan tidak berperikemanusiaan, namun perusahaan pun terpaksa melakukan untuk mengantisipasi biaya yang mungkin timbul akibat penularan dari karyawan yang positif Covid-19 sepulangnya dari kampung.

Catatan Penutup

Pandemi sudah mengubah masyarakat kita, sekaligus menjadi momentum perubahan tata kelola SDM di organisasi. Membuat karyawan di semua sektor industri harus shifting atau berubah dalam segala aspek pekerjaan, sigap beradaptasi dengan perubahan eksternal, serta harus persisten atau mempunyai daya juang yang tinggi. Kesadaran dan kedisiplinan semua pihak menjadi kunci keselamatan dalam perusahaan. Dengan karyawan yang sehat dan produktif, diharapkan perusahaan tetap beroperasi sehingga betul-betul dapat menjadi sumber penghidupan bagi seluruh karyawan.